
Zee pulang dengan raut wajah yang masih kesal. Tapi kalau di lihat pandangan dari orang lain pasti mereka mengira bahwa Zee baik-baik saja.
"Assalamu'alaikum, Bunda." seru Zee saat baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam." jawab Bunda Weni yang sedari tadi duduk di sofa ruang tamu sambil membaca majalah dengan ditemani segelas teh hangat.
"Astaghfirullah."
"Kenapa, Zee?" tanya Bunda Weni bingung saat melihat sang anak yang mengelus dadanya pelan, di tambah istighfar-an sang anak.
"Bunda! Ngagetin aja." rengek Zee.
"Lho kaget kenapa?" tanya Bunda Weni seraya bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati sang anak yang masih berdiri di ambang pintu.
"Bunda tiba-tiba nyaut. Kirain Bunda ada di dapur atau dimana gitu. Jadinya gak keliatan." jelas Zee.
"Dasar! Sana ke kamar ganti bajunya." suruh Bunda Weni.
Zee mengangguk dan menaiki anak tangga menuju kamar miliknya.
Brukkk
Zee menjatuhkan tubuhnya di atas kasur tempat tidurnya dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya.
Drttt
Suara ponsel Zee yang berasal dari dalam tasnya. Zee mengambil ponsel nya di dalam tas dan menggeser tombol hijau panggilan itu yang rupanya panggilan video dari kedua sahabatnya.
"Nanti jadi kan?" tanya Elsa dengan wajahnya yang terpampang di layar ponsel Zee.
Rasanya Zee sangat malas untuk pergi keluar bersama teman-temannya jika ada Zayn. Rasa kesalnya hingga kini masih terasa. Tapi Zee juga tidak bisa berbuat apa-apa. Toh bukan siapa-siapa juga.
"Kalian? Gue sih ngikut aja." jawab Zee.
"Pasrah amat, Bund. Hahahaa." balas Vani dengan tawanya. Memang selama ini yang selalu mengalah adalah Zee.
Zee mencibikkan bibirnya mendengar penuturan Vani.
"Gue mau tidur bentar. Capek. Nanti kalo mau berangkat kalian ke sini aja ya jemput gue." ucap Zee dengan memutup mulutnya dengan tangannya saat kantuk datang melanda.
Setelah menutup panggilannya, Zee langsung melempar ponselnya di atas kasurnya dan langsung memejamkam kedua matanya tanpa mengganti seragam sekolahnya. Entah apa jadinya kalau ketahuan oleh sang Bunda saat dirinya yang masih belum mengganti seragam sekolahnya.
Selang satu jam Zee juga belum terbangun dari tidurnya. Padahal jam sudah menunjukkan pukul dua siang.
"Tante, Zee nya ada?" tanya Vani. Ya, Vani dan Elsa sudah datang untuk menjemput Zee yang masih terlelap.
"Ada tuh di kamarnya. Tidur dia, bangunin aja. Seragam sekolahnya juga gak di lepas udah main tidur aja." omel Bunda Weni.
"Kalo gitu Vani sama Elsa ke kamar Zee dulu ya, Tan." izin Vani.
"Iya."
Ceklek
Pintu kamar Zee terbuka. Vani dan Elsa hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya.
Elsa berdecak, "Katanya bentar, ehh taunya." lirih Elsa.
"Zee, bangun woyyy. Kebo banget." Zee menggeliat kecil kemudian melanjutkan tidurnya.
"Etdahhh nih anak." gerutu Elsa.
"Zee, ada Zayn di rumah lo." bisik Elsa tepat berada di telinganya.
Zee langsung melebarkan bola matanya saat mendengar nama Zayn.
"Akhirnya. Manjur juga obat lo, Sa." puji Vani.
"Iya dong. Elsa gitu lho." balas Elsa dengan mengibaskan rambut sebahunya.
"Dihhh, dipuji dikit langsung terbang."
"Gak pa-pa terbang. Gak capek gue nya kalo mau kemana-mana."
"Serah lo dah."
"Ribut banget sih." ucap Zee masih dengan suara serak khas bangun tidur.
"Mandi sonoh. Tante udah ngomel-ngomel noh karna liat anaknya tidur masih pake baju seragam." cerita Vani.
"Jangan-jangan lo lupa?" selidik Elsa.
"Ishhh... Nggak lah. Ntar, gue mandi dulu." Zee meregangkan otot-otot badannya kemudian bangkit menuju kamar mandi.
15 menit Zee di dalam kamar mandi, sekarang ia keluar dengan hamduk kimono yang masih melekat di badannya.
"Pake baju apa gue?" tanya Zee sambil melihat-lihat isi lemarinya.
"Itu aja." tunjuk Vani.
"Ini?" tanya Zee memastikan dengan mengambil baju tersebut.
"Iya, itu. Kan couple kita bertiga." Zee melihat pakaian sahabatnya. Ia baru menyadari mereka berdua memakai baju yang sama.
"Oke deh." Zee langsung menuju kamar mandinya lagi untuk memakai pakaian yang dipilihkan sahabatnya.
...***...
"Kemana nih mereka? Pasti lupa deh." ucap Elsa kesal. Saat ini mereka sedang menunggu kedatangan Zayn dan Renzy di rumah Vani.
Baru saja Elsa mengatakan itu, Zayn dan Renzy pun datang dengan mengendarai sepeda motornya masing-masing.
"Lama banget sih kalian?!" selidik Elsa.
"Nohh, nungguin Zayn lama banget." tunjuk Renzy ke arah Zayn.
"Kok gue? Lo aja kali yang lama. Milih sepatu aja udah kayak mau fashion show." ledek Zayn yang di balas cengiran oleh Renzy.
"Udah, udah. Jadi gak nih kalo kalian ribut mulu." sela Vani.
"Wehhhh. Jadi dong. Gass kan." balas Renzy.
"Ntar, gue ambil motor gue dulu di rumah." ucap Elsa sambil berjalan menuju rumahnya.
"Lho, motor lo mana?" tanya Vani saat Elsa kembali ke tempat mereka.
"Tau lah. Sebel gue. Mau di pake sama Mama noh. Katanya mau arisan." cibik Elsa.
"Yaudah deh kalo gitu. Lo nebeng aja sama Zayn atau Renzy?" saran Vani.
"Renzy aja deh. Kalo sama Zayn nanti ada yang kebakaran jenggot." sindir Elsa dengan cepat ia duduk di motor Renzy saat mendapat pelototan dari Zee.
"Berarti nanti Zayn sendirian. Gue sama Zee boncengan." ucap Vani.
Mereka berlima langsung melajukan kendaraannya menuju tempat tujuan. Tujuan mereka kali ini adalah cafe. Tempat biasa anak-anak muda berkumpul. Tapi kali ini cafe yang mereka tuju adalah cafe yang lumayan sepi.
"Kok sepi ya?" tanya Zee saat mereka baru saja memasuki cafe tersebut dan hanya menemukan beberapa pelanggan.
"Sengaja gue pilih di sini. Kebetulan ini cafe milik om gue." jelas Renzy.
Mereka pun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, kecuali Zayn yang sudah tau seluk beluk keluarga Renzy.
"Di sini aja deh." tunjuk Vani ke arah meja yang terletak di pojok kanan yang di setujui oleh teman-temannya.
Dalam satu meja hanya menyediakan dua kursi panjang yang terbuat dari kayu. Sudah di pastikan salah satu dari Zee, Vani, atau Elsa akan berada di tengah-tengah. Zee lebih memilih duduk di sebelah kiri dan Vani sebelah kanan. Alhasil Elsa lah yang terhimpit. Beruntung kursi tersebut lumayan panjang. Bisa di duduki minimal empat orang.
"Ngapain ya asiknya?" pikir Elsa.
"Gimana kalo kita main ToD?" saran Renzy.
"Emmm... Boleh lah." jawab Elsa.
"Yang lain gimana?" tanya Renzy. Mereka pun mengangguk pasrah. Toh lumayan juga untuk menghapus suntuk.
"Mbak." panggil Renzy ke salah satu Waitress.
"Iya, Dek?" tanya Waitress tersebut yang sudah mengenali wajah Renzy.
"Kalian pesen apa?" tanya Renzy.
"Samain aja deh." jawab Vani.
Renzy menunjuk buku menu yang ia peganh, "Ini, ya, Mbak. Sesuain sama orangnya ada berapa. Trus nitip botol minuman yang kosong ya, Mbak." pinta Renzy.
"Itu aja dulu deh, Mbak."
"Kalau gitu Mbak permisi dulu ya." Renzy menganggukkan kepalanya.
Selang beberapa akhirnya pesanan mereka datang. Tidak lupa juga botol kosong permintaan Renzy. Sebelum mereka memulai permainannya, mereka terlebih dahulu memakan makanannya. Setelah di rasa sudah cukup, mereka meminta kepada Waitress untuk membereskan sisa-sisa makanan mereka yang berada di atas meja yang terletak tidak beraturan.
"Mulai ya?" Renzy pun melatakkan botol di atas meja.
"Siapa dulu nih?" tanya Renzy.
"Suit dulu lah. Siapa menang dia yang muter botolnya duluan." ucap Vani.
Mereka pun melakukan suit untuk menentukan siapa yang akan memutar botolnya yang pertama. Dan pemenangnya adalah Elsa.
"Yesss. Gue menang." serunya gembira.
"Gue puter nih ya. Kalian siap-siap."
Tidak bertele-tele Elsa pun langsung memutar botol yang berada di atas meja mereka.
"Vani. Hahahaa." ucap Elsa saat botol yang berhenti tepat di depan Vani.
"Truth or Dare?" tanya Elsa antusias.
"Dare!" jawab Vani tanpa ragu.
"Yakin?"
"Yoi." balas Vani.
"Oke. Tantangannya adalah lo minta tuh nomor WhatsApp cowok yang duduk di sana. Trus kalian tukeran nomor WhatsApp." tunjuk Elsa ke arah meja yang berada di paling depan sebelah kanan yang sejahar dengan meja mereka. Hanya ada dua buah meja yang menjadi penghalangnya.
"Minta?" jawab Vani ragu.
"Gak berani? Cemen sih." ledek Renzy.
"Berani kok!" Vani pun langsung menghampiri pria yang duduk di sana sendirian sambil memainkan ponselnya.
"Mas, Bang, apalah itu. Boleh saya minta nomor WhatsApp nya gak?" tanya Vani memberanikan diri. Yang di panggil malah dengan santainya menatap Vani dengan alis sebelahnya terangkat menandakan bingung.
"Mas! Denger saya nggak sih?" ucap Vani kesal.
"Maaf, siapa ya? Apa kita pernah kenal?" tanyanya heran.
'Buset ini cowok cuek banget sih. Gak tau apa gue mati-matian nahan malu. Batin Vani menggerutu.
"Maaf ya, Mas. Saya cuma ngejalanin hukuman dari mereka aja." tunjuk Vani ke arah meja dimana teman-temannya berada.
"Jadi, apa boleh saya minta nomor WhatsApp nya?" pinta Vani.
"Ohh." Vani semakin di buat kesal oleh pria itu. Karena merasa sia-sia akhirnya Vani mengalah. Ia kembali duduk bersama teman-temannya dengan raut wajah yang kesal.
"Gimana? Dapet nggak nomor WhatsApp nya?" tanya Elsa dengan ke-kepoannya.
"Nggak." balas Vani cuek.
"Yah, gagal dong. Yaudah deh kalo gitu. Kita lanjut aja." ucap Elsa dengan lesu.
Karena Vani gagal dalam menjalankan misi nya. Maka dari pada itu botol akan di putar kembali oleh Elsa. Dan kali ini botol tersebut berhenti di depan Zayn.
CK!
Zayn berdecak kesal saat botol tersebut mengarah ke dirinya.
"Truth or Dare?" tanya Elsa.
Zayn masih dalam diamnya tanpa mau menjawab pertanyaan Elsa.
"Waktu berpikir habis. Cepet jawab." sela Renzy.
"Dare." jawab Zayn.
Elsa pun berpikir tantangan apa yang akan ia berikan kepada Zayn.
"Ehhh mau apa lo?!" Elsa menahan dada Renzy saat Renzy mendekati dirinya.
"Emang gue mau apain lo. Badan krempeng kayak gitu. Gue cuma mau bisikin lo. Deketan sini!" suruh Renzy. Wajah Elsa langsung memerah saat mendengar penuturan Renzy. 'Perasaan badan gue gak krempeng banget deh. Batin Elsa.
Elsa pun mendekatkan dirinya ke arah Renzy. Setelah mendengar bisikan Renzy, Elsa langsung merubah posisinya.
"Bagus juga ide lo tuh." puji Elsa.
"Iya dong." balas Renzy yang memasang wajah cool nya.
"Mbak!" panggil Renzy.
Waitress yang tadi pun segera berjalan mendekati Renzy. Setelah mendapat bisikan yang berupa perintah, ia pun langsung menuju dapur. Sesampainya di meja, Waitress itu langsung meletakkan dua buah piring, piring satunya yang berisikan beberapa lemon yang sudah di potong menjadi beberapa bagian. Dan piring kedua yang berisikan cabe rawit.
Zee menelan ludahnya kasar saat melihat hidangan di atas meja mereka.
"Jadi..."
"Tantangannya adalah lo harus makan salah satu dari ini." ucap Elsa dan Renzy serentak sambil menampilkan senyuman jahilnya.
Tangan Zayn terulurkan untuk mengambil satu potongan lemon. Ia mengamatinya terlebih dahulu. Setelah puas mengamati buah itu, Zayn langsung memasukkan buah itu ke dalam mulutnya.
Zee, Vani, Elsa, dan Renzy langsung meringis saat melihat Zayn dengan santainya memasukkkan potongan lemon itu ke dalam mulutnya.
"Minum?" tanya Renzy yang mendapat gelengan kepala oleh Zayn.
"Oke, lanjut!"
Zayn langsung memutar botol tersebut dan berhenti di depan Elsa.
"Buahahaa rasain lo. Kena karmanya kan." seketika tawa Vani meledak.
"Gak pa-pa. Gue gak takut." Elsa menjulurkan lidahnya ke arah Vani.
"Dih sok banget." cibik Vani.
"Truth or Dare?" tanya Zayn.
"Gue pilih... Truth!" jawab Elsa yang mendapat sorakan dari Vani.
"Siapa yang lo suka di kelas?" Elsa seketika terdiam karena tidak bisa menjawab pertanyaan aneh yang keluar dari mulut Zayn.
"Siapa ya?" pikir Elsa.
"Nggak ada deh kek nya." lanjutnya.
"Gue?" ucap Renzy.
"Idih. Ogah sama cowok kayak lo. Gak minat." balas Elsa.
"Ohh Tuhan. Apakah ketampananku ini berkurang hingga membuat wanita di depanku ini menolak diriku mentah-mentah." ucap Renzy dengan tangan yang ia gadahkan ke atas.
"Lebay lo lebay lebay." ejek Zayn.
"Oke, lanjut!"
Elsa menatap Zee dengan smirk nya yang tercetak jelas. Zee merasakan firasat yang tidak enak dari sahabatnya itu. Seakan-akan Elsa berkata, "Awas aja. Kali ini lo pasti kena!"
Botol pun berputar mengelilingi meja mereka. Zee yang sedadi tadi menatap cemas botol tersebut saat melambat, melambat, dan semakin melambat laju berputarnya.
Dan
Kena!!!
...🌹🌹🌹...
...~Happy reading~...
...Jangan lupa...
...Like...
...Komen...
...Favorit...
...Rate 🌟 5...