
Kringgg
Suara lonceng pintu toko kue Zee berbunyi saat menandakan ada pelanggan yang masuk.
Seorang pemuda berjalan masuk ke dalam ruangan Zee.
Ceklek
Pintu ruangan Zee terbuka. Ia celingak-celinguk melihat ruangan Zee seperti mencari sesuatu.
Bughhh
Seseorang menepuk pelan bahunya.
"Astaghfirullah. Bismillahirrahmanirrahim..." refleks pemuda tersebut melantunkan ayat-ayat kursi.
"Heii, heii. Kenapa sampe baca ayat kursi gitu. Emang di sini ada setan?" pemuda tersebut langsung membuka matanya. Refleks ia memeluk wanita itu.
"Kakak nakutin aja." rengeknya masih dengan memeluk Zee. Ya, pemuda tersebut adalah Alif. Alif sengaja datang ke toko sang Kakak. Karena biasanya ia juga rutin mengunjungi toko Kakaknya hanya untuk sekedar mengecek toko atau biasa ia juga membuat kue untuk ia makan sendiri.
"Ihhh. Cowok kok gini? Gak ada cool cool nya sama sekali." ejek Zee tetapi ia juga membalas pelukan sang adik dan mengusap pelan belakang adiknya. Jika di lihat dari kejauhan mereka sudah terlihat seperti sepasang kekasih atau suami istri. Karena tinggi badan Zee yang hanya mencapai pundak Alif. Zee kesal kenapa sang adik begitu tinggi dari dirinya. Tapi yang namanya lelaki sih wajar aja. Pikir Zee.
"Cool itu cuma buat di luar aja. Kalo di dalam mahh aslinya cengeng." jawab Alif sambil melepaskan pelukannya.
"Baru sadar?" sindir Zee. Alif hanya menyengir menanggapi ucapan sang Kakak.
"Kakak dari mana?" tanya Alif.
"Dari dapur. Minggir! Kakak mau ambil HP di dalam yang ketinggalan." Alif pun menggeser tubuhnya sedikit untuk memberi ruang supaya Kakaknya bisa masuk ke dalam.
"Rega mana, Kak?" tanya Alif mengekori Zee saat sudah mengambil ponselnya dan berjalan lagi menuju ke arah dapur.
"Ada di dapur. Kakak titipin sebentar sama Lala." Alif hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Haii, anak Papa. Lagi makan apa nih. Papa boleh minta gak?" ucap Alif saat telah berada di dapur dan menemukan Rega sedang memakan kue buatan Zee dengan di temani Lala untuk menjaga Rega sebentar. Lala langsung pamit kembali ke depan saat melihat Alif yang datang menemui Rega. Ia tidak mau mengganggu keharmonisan keduanya.
"Lagi makan kue buatan Mami, Pa. Tapi Papa ndak boleh minta, ya. Ini khusus buat Lega doang." tolak Rega sambil menjauhkan kue nya.
"Masa sih Papa gak boleh minta?" tanya Alif sambil menatap Rega dengan mata yang ia buat berkaca-kaca.
"Iya, Papa ndak boleh. Tapi, dikit aja ya, Pa." luluh juga pertahanan Rega saat melihat wajah Alif.
"Suapin Papa dong." langsung saja Rega menyuapi Alif dengan tangan mungilnya.
"Ummmm nyam nyamm. Enak banget sih kue nya. Papa mau semuanya boleh gak?" pinta Alif lagi.
Rega menggelengkan kepalanya, "Catu aja cukup. Ndak boleh banyak-banyak." tolaknya.
"Yaudah deh, satu aja. Kalo gitu Papa pulang aja deh." ucap Alif yang sudah mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan dapur.
"Huwaaaaa... Papa jangan pulang." suara tangisan Rega langsung terdengar di telinga Zee.
"Rega kenapa, sayang?" tanya Zee khawatir.
"Papa jahat, Mi. Papa mau ninggalin Lega." jawab Rega dengan air mata yang sudah membanjiri pipi gembulnya.
Zee menatap tajam ke aah adiknya yang tengah menyengir menatapnya.
"Bukan aku lho, Kak. Rega tuh pelit. Masa Papanya mau minta kue gak di kasih." jelas Alif.
"Bener apa yang di bilang sama Papa, sayang?" tanya Zee lembut.
Rega menundukkan kepalanya, "Maaf, Papa. Lega ndak akan pelit lagi kok. Papa gak marah kan cama Lega?" tanya Rega sambil mendongkakkan kepalanya menatap Alif.
Sedari tadi Alif menahan tawanya melihat tingkah lucu Rega.
"Papa gak jadi marah kok. Tenang aja. Mana bisa Papa marah sama anak Papa yang lucu ini." jawab Alif sambil mengecupi seluruh wajah Rega hingga balita tersebut terus tertawa kegelian.
"Papa, Lega geli. Udah, Pa." pinta Rega masih dengan tawa lucunya.
"Gak! Papa gak akan berhenti sebelum Rega bilang sayang sama Papa." pinta Alif masih dengan menciumi wajah Rega.
"Iya, iya. Lega cayang cama Papa Alif." Alif menghentikan aktivitasnya saat Rega telah memenuhi permintaannya.
"Papa juga sayang sama Rega. Jangan nakal lagi ya. Kalo nakal lagi nanti Papa gigit." Rega hanya menganggukkan kepalanya dengan sekeliling mulut nya sudah dipenuhi coklat. Di tambah bajunya juga terkena noda coklat karena Rega yang terus mengelap tangannya menggunakan bajunya.
"Yahh, baju Rega kotor banget nih." ucap Alif meneliti penampilan Rega yang sudah berantakan.
"Kakak bawa baju ganti Rega gak?" tanya Alif.
"Oke, deh. Rega, Papa pulang sebentar ya mau ambil baju ganti buat Rega. Nihh, liat. Bajunya udah kotor banget." tunjuk Alif ke arah baju Rega.
"Tapi, jangan lama-lama ya." balas Rega.
"Iya, Papa gak akan lama kok. Papa pulang sebentar ya. Assalamu'alikum."
"Wa'alaikumsalam." jawab Zee sementara Rega kembali memakan kue nya yang masih tersisa banyak karena Rega baru saja memakan satu potong kue berukuran kecil.
'Duhh... Lupa kalo ada Lora di apartemen. Batin Zee.
Alif pun mengendara mobil miliknya sendiri, dimana mobil tersebut ia beli melalui hasil tabungannya selama ini. Ditambah Alif memiliki usaha bengkel yang masih kecil-kecilan. Bengkel tersebut ia bangun dari nol.
15 menit Alif berkendara. Akhirnya ia telah sampai di apartemen sang Kakak.
Ceklekk
Pintu apartemen Zee di buka oleh Alif saat ia baru membuka pin nya.
Langsung saja Alif menuju kamar Lora untuk mengambil baju ganti Rega.
Ceklekkk
Pintu kamar Lora terbuka kemudian di tutup kembali oleh Alif. Alif pun langsung menuju ke arah lemari dimana di sana tempat menyimpan baju Rega dan Lora.
"Aaaarghhhhhh..."
Wajah Alif memerah saat melihat pemandangan di depan matanya. Secepat mungkin ia menutup kedua matanya. Beruntung saat itu Lora sudah memakai dalaman yang ia lapisi handuk kimono.
Refleks Lora langsung memakai kembali kimono yang sudah setengah terjatuh di badannya.
Pertama kalinya mereka berada di dalam satu ruangan yang sama dan hanya mereka berdua yang berada di apartemen yang lumayan besar milik Zee.
"NGAPAIN?!" teriak Lora dengan wajah yang memerah. Rasa marah dan malu bercampur rata sehingga membuat Lora tidak bisa marah sepenuhnya.
"Ehhh, a-anu..." tiba-tiba lidah Alif seakan kelu untuk berbicara.
"NGAPAIN MASIH DI SINI?! KELUARRRR!!!" teriak Lora.
Alif masih membeku di tempatnya. Sesaat kemudian ia sadar. Bukannya keluar, Alif malah melangkahkan kakinya mendekati Lora.
"NGAPAIN?!!!" masih dengan teriaknya.
Alih-alih menjawab, Alif malah membuka lemari pakaian Rega kemudian mengambil sepasang pakaian ganti untuk Rega.
"Nihh..." jawab Alif menunjukkan pakaian Rega di tangannya yang masih membelakangi Lora. Lora hanya ber'oh ria saja mengerti akan hal itu.
Niat hati ingin berbalik dan segera keluar dari dalam kamar Lora tapi sepertinya Tuhan sudah merencanakan sesuatu untuk mereka.
Lora hampir terjatuh ketika Alif tiba-tiba berbalik. Karena tidak bisa menyeimbangi badannya Lora langsung menarik kemeja yang Alif pakai.
Brukkk
Lora terjatuh dengan Alif yang berada di atasnya.
"Minggir! Lo berat." Lora tersadar saat merasakan berat yang menimpanya.
Alif langsung bangkit dan berdiri membenahi pakaian nya.
"Maaf." satu kata yang keluar dari mulut Alif.
Alif langsung keluar dari dalam kamar Lora. Ia menghembuskan nafasnya berat saat sudah keluar. Alif merutuki pikirannya karena ia lupa membawa baju ganti Rega. Alhasil ia harus menunggu Lora selesai memakai baju.
Sambil menunggu Lora, Alif memutuskan untuk menyegarkan badannya. Saat sudah selesai Alif menemukan Lora yang tengah duduk di sofa.
"Nohh..." tunjuk Lora ke arah meja dimana baju ganti Rega sudah ada di sana.
Alif langsung mengambil baju ganti Rega dan bersiap-siap untuk kembali ke toko.
"Ikut." Alif membalikkan badannya saat mendengar suara Lora. Lora yang sudah mendapat kode bahwa Alif mengijinkannya untuk menumpang langsung mengambil tas miliknya.
...🌷🌷🌷...
...Tinggalkan jejak...
...😗😗😗...