
Keesokan harinya Zee bangun lebih awal dari biasanya. Entahlah, sejak mimpi semalam dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Suara itu terus terngiang-ngiang di telinganya.
Seusai shalat subuh, Zee terlebih dahulu memainkan ponselnya.
Zee menghela nafasnya panjang saat melihat deretan chat yang di kirim Reno kepadanya. Zee memilih mengabaikan pesan-pesan yang dianggapnya tidak penting itu.
Tringgg
Satu pesan masuk yang berhasil mencuri perhatian Zee. Rupanya pesan tersebut berasal dari Reno. Tapi, isi pesan tersebut yang dapat menarik perhatiannya. Ia pun membalas pesan tersebut sekaligus menanyakan maksud dari pesan yang di kirim Reni barusan. Rupanya pria tersebut mengamati setiap pergerakannya.
^^^[Maksudnya apa ngirim pesan kayak gitu?]^^^
[Bukan apa-apa kok.]
^^^[Bohong kalau bukan apa-apa. Lo mau ngancem gue pakai ngirim pesan kayak gitu?!]^^^
[Santai dong, sayang. Rileks, aku gak mungkin mau nyakitin wanita yang aku cinta.]
^^^[Mau lo itu apa sih, Reno?]^^^
[Jadilah milikku selamanya.]
Zee menghembuskan nafasnya berat.
^^^[Gue udah bilang jauhin gue. Lo masih aja ngeyel.]^^^
[Aku gak bisa jauh dari kamu, sayang. Setiap pergerakan yang kamu lakuin aja aku tau.]
^^^[Terserah lo mau ngapain. Ingat! Jangan sekali-kali lo nyakitin orang-orang yang gue sayang.]^^^
[Nggak akan kok, sayang. Main dikit boleh lah.]
Zee tidak meresponnya. Ia lebih memilih turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan.
Seperti biasa, saat ia turun keadaan dapur sepi. Kedua orang tuanya masih tertidur.
Suara pisau memotong wortel terdengar memenuhi suasana sunyi dapurnya.
Rupanya Zee tengah memasak sup sayur. Saat air sudah mendidih ia memasukkan bahan-bahan yang di perlukannya.
Sambil menunggu sup sayurnya matang, Zee memutuskan untuk menggoreng telur.
Sekitar 30 menit kemudian akhirnya semua yang Zee lakukan telah selesai. Hanya tinggal ia mandi saja.
Zee pun langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Zee tampak tampil cantik hari ini. Eh, ralat. Maksudnya tampil perfect. Karena sehari-hari ia berpenampilan cantik walaupun itu hanya menggunakan daster emak-emak.
"Pagi, Bunda, Ayah." Zee sempat-sempatnya mengecup pipi kedua orang tuanya sebelum ia duduk di meja makan.
"Pagi, sayang."
"Tumben pagi-pagi udah rapi? Mana cantik banget lagi anak Ayah." puji Ayah Zaki hingga membuat semburat rona merah di pipi Zee.
"Ayah biasa aja. Zee jadi malu kan." cicitnya pelan.
"Anak gadis Ayah udah dewasa rupanya." ujar Ayah Zaki sambil mengelus pelan rambut Zee.
"Pertanyaan Ayah yang tadi belum di jawab lho."
"Eh, iya. Lupa, Yah." cengir Zee.
"Zee mau ke toko. Kemarin ada sebuah perusahaan yang ngajak kerja sama. Trus besok mereka mau ngadain acara peringatan pergantian presdir baru. Jadi, perusahaan mereka memesan banyak kue dari toko Zee. Makanya Zee mau datang awal. Pagi ini juga pihak dari mereka mau melakukan tinjaun terlebih dahulu tentang bagaimana cara pembuatan kue." jelas Zee panjanh lebar.
"Begitu. Ya udah, kamu semangat ya. Harus bisa. Jangan mengecewakan mereka." titah Bunda Weni.
Zee menganggukkan kepalanya paham. "iya, Bund. Zee usahain besok udah clear."
"Sarapan dulu nih. Katanya mau datang pagi." ujar Bunda Weni sambil menyodorkan piring yang sudah di isi sarapan.
Dengan senang hati Zee menerimanya. "Makasih, Bunda."
...***...
Zee memarkirkan mobilnya di tempat parkiran saat sudah berada di depan toko kuenya. Zee bernafas lega. Rupanya kliennya belum datang. Ia berpikir ia akan telat datang di bandingkan kliennya. Rupanya belum. Terlalu pagi juga kalau tamunya datang jam segini.
"Pagi, Bu." Zee menganggukkan kepalanya merespon sapaan para pegawainya. Zee terus berjalan hingga ia sampai di ruangannya.
"Iya, Bu."
Suasana toko kuenya sepi. Karena tokonya ia tutup untuk hari ini. Hanya suasana rusuh terdengar dari dapur bahkan pegawai yang ia pekerjakan sedang mondar-mandir untuk mengambil bahan pembuatan kue dan menyimpannya ke dapur.
Pembuatannya akan di lakukan pada sore hari. Zee melakukan itu agar kue yang terbuat masih segar dan awet.
"Ibu."
"Bu."
Teriakan Mona di sepanjang perjalanannya menuju ruangan Zee. Ia ada sebuah mobil mewah yang baru datang. Ia pastikan mobil tersebut adalah dari perusahaan kemarin yang baru saja menjalin kerja sama dengan toko kue milik Zee. Toko kue yang ia beri nama 'Z two rasa.'
"Kenapa, Mona?" tanya Zee heran saat mendengar suara Mona dan melihat Mona yang baru saja masuk ke dalam ruangannya dengan nafas yang memburu.
"Itu, Bu... Hahh hahhh.. Anu, Bu. Itu..." gagapnya.
"Bicara yang benar, Mona." Zee bangkit dari duduknya menuju dispenser. "Nih minum dulu." Zee menyodorkan segelas air putih yang baru saja ia ambil dari dispenser.
"Makasih, Bu." dalam tiga kali tegukan air yang di dalam gelas itu tandas.
"Haus apa rakus? Mona, Mona. Ada-ada aja kamu." ujar Zee dengan kekehannya.
"Udah tenang?" Mona menganggukkan kepalanya.
"Mereka udah datang, Bu." ucap Mona.
"Ya ampun. Tinggal bilang aja kok susah sih. Kayak di kejar setan aja."
"Hehe... Kan saya jadi deg-degan, Bu. Secara kan perusahaan tersebut tuh paling terkenal di kalangan masyarakat gitu. Pokoknya denger nama perusahaan tersebut udah nggak asing bagi telinga masyarakat kalangan atas, Bu." cerocosnya panjang lebar.
Zee hanya menggelengkan kepalanya.
Zee pun keluar dari ruangannya menuju pintu depan untuk menyambut tamunya dengan Mona yang mengikutinya dari belakang.
Ternyata dua orang. Roni dan...?
Zee mengenal salah satu dari mereka. Itu adalah Roni. Orang yang kemarin bertemu dengannya membahas kerja sama tersebut. Tapi, Zee tidak mengetahui siapa yang satunya. Karena orang tersebut membelakanginya. Ralat. Maksudnya pria itu.
"Siang, Nona." sapa Roni sambil membungkukkan badannya. Tidak lupa mereka berjabat tangan.
"Sesuai janji kemarin saya datang bersama presdir yang baru. Maaf, telat, Nona. Karena tadi ada sedikit kendala." imbuhnya.
"Iya, tidak apa-apa, Tuan."
"Ahh... Rasanya tidak sopan kalau saya di panggil Tuan, Nona. Panggil saya Roni saja, Nona." pintanya.
Zee terkekeh kecil. "Baiklah kalau itu permintaan dari anda, Tuan. Ehh, Roni."
"Silahkan duduk dulu. Sebelum kita memulai aktivitas di dapur." ucap Zee mempersilahkan mereka duduk. "Mona."
"Iya, Bu." jawab Mona yang sigap berada di belakangnya.
"Ambilkan kue yang baru saja dibuat."
"Siap, Bu." Mona langsung berlari pelan menuju dapur.
"Tuan. Anda tidak duduk?" tanya Roni saat bos barunya tersebut masih berdiri di tempat asalnya tersebut.
Perlahan ia membalikkan badannya menghadap Zee dan Roni.
"Selamat siang, Nona Zeyasha." salamnya sambil membungkukkan badannya dengan tangan kirinya yang ia tekuk memegang perutnya. Kayaknya seperti pangeran ketika bertemu dengan ratunya.
Refleks Zee membolakan matanya terkejut. Nafasnya tertahan beberapa detik.
"S...si..ang, T...tuan..." ucap Zee terbata. Rasanya lidahnya kelu.
Ia harus bersikap profesional. Sumpah demi apa. Rasanya Zee ingin menyelami lautan dengan kedalaman 1.000 km.
...~Happy reading~...
Maaf kalau ada yang bilang cerita ini bikin bingung, gak jelas lah. Saya tekankan, kalau tidak suka atau bingung mending melipir. Kalau yang sudah mengikuti alurnya dari awal pasti ngerti. Maaf, ini hanya sebuah penyampaian dari saya. Maaf juga kalau kalimat ini mengandung pro kontra 😅ehh menginggung maksudnya😅😅😅
Sekian terima gaji. Saya berusaha agar tidak tersulut 😅😅ohhh mangapkan diriku 😅
Santuy aja yah jangan masukin hati. Masukin jantung juga gak ape-ape 😅😅😅