Hidden Secrets Love

Hidden Secrets Love
HSL 25. Makan malam



Alif keluar kamarnya dan menuruni setiap anak tangga dengan perlahan. Ia berjalan menuju ruang tengah dimana di sana juga ada kedua orang tuanya.


"Lif..." panggil Ayah Zaki.


"Iya, Yah?"


"Nanti malam kamu ada acara gak?" tanya Ayah Zaki.


"Nggak ada, Yah. Emangnya kenapa?" jawab Alif bingung.


"Nanti kamu ikut Ayah sama Bunda ya!"


"Mau kemana, Yah?"


"Makan malam sama temen bisnis Ayah." jawab Ayah Zaki.


"Emmm... Boleh deh. Kapan acaranya?" ucap Alif menyetujui.


"Nanti malam jam setengah delapan. Yaudah gih kamu siap-siap. Mandi, shalat."


"Iya, Yah. Kalau gitu aku balik ke kamar lagi ya."


"Ehhh, iya. Tadi Kakak nitip salam sama Ayah, Bunda." serunya sebelum masuk ke dalam kamarnya.


"Wa'alaikumsalam."


Sementara di tempat lain


Tok tok tok


"Zayn, Mama masuk ya?" seru Mama Anggi.


"Masuk aja, Ma. Pintunya gak di kunci kok." jawab Zayn yang tengah asik membongkar isi lemarinya hingga pakaiannya berserakan dimana-mana.


"Yaampun, Zayn. Kenapa bisa berantakan gini?" Mama Anggi menggelengkan kepalanya melihat pakaian anaknya yang berserakan.


Zayn hanya menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku bingung mau pakai baju yang mana, Ma." jawabnya.


"Kamu itu ya. Kalau bukan Mama yang siapin pasti bakal kejadian kayak gini nih. Harus cepet-cepet di kasih istri kamu tuh. Biar ada yang ngurusin keperluan kamu." omel Mama Anggi sambil memilihkan pakaian yang cocok untuk Zayn.


"Ehhh, jangan dong, Ma. Zayn masih muda udah mau nikah aja." protes Zayn.


"Masih muda gimana lagi? Umur kamu tuh udah mau dua puluh empat tahun. 24 tahun lho, Zayn. Bukan anak remaja lagi." begitulah keseharian Zayn yang mendengar omelan sang Mama setiap harinya.


"Apa perlu kamu Mama jodohin sama anak temen arisan Mama?" gertak Mama Anggi yang membuat Zayn langsung kelabakan.


"Jangan dong, Ma. Mama gak kasian sama aku? Yang ada bukannya bahagia malah menderita." rengeknya.


"Ya, itu terserah kamu."


"Nih, cepet pakai. Udah mau telat nih." Mama Anggi memberikan baju kaus putih dan jas hitam ke arah Zayn.


"Makasih, Mama." ucap Zayn sambil mendaratkan satu kecupan manis di pipi sang Mama.


Langsung saja Zayn memakai pakaian yang sudah di pilihkan Mama Anggi.


...***...


Seperti dugaan Mama Anggi. Mereka datang terlambat. Buktinya rekan kerja Papa Hendra sudah sampai di lokasi terlebih dahulu. Pertemuan mereka adalah di restoran di dalam ruangan privat.


"Maaf, kami datang terlambat." ucapan maaf terlontar dari bibir Papa Hendra.


"Iya, nggak apa-apa kok, Hen. Santai aja. Kayak sama siapa aja deh." ucap tamunya.


"Hehe, iya. Soalnya nunggu anakku tuh lama banget dandannya. Kayak anak gadis aja. Udah lama sampainya, Zaki?"


"Lho, jeng Anggi istrinya Pak Hendra toh." seru Bunda Weni yang kaget melihat teman arisannya.


"Ehhh, jeng Weni. Iya, jeng. Gak nyangka lho bisa kebetulan gini." mulai lah wanita seumuran itu cepika-cepiki.


"Sampai lupa. Duduk dulu atuh." ucap Bunda Weni.


"Ini kenalin anakku. Namanya Zayn." ucap Mama Anggi memperkenalkan Zayn.


"Ini Alif. Anakku yang terakhir."


Zayn dan Alif yang tadinya sibuk dengan urusannya sendiri mengadahkan kepalanya saat mendengar nama yang tidak asing baginya. Bagaimana tidak, mereka pernah sempat berkenalan sewaktu Zayn SMA dulu.


Alif dan Zayn sempat bertatapan untuk mengenali wajah mereka. Dalam batinnya sudah banyak benak-benak penasaran.


'Ini... Alif, adiknya... Zee? Gak mungkin lah. Banyak yang namanya Alif. Batin Zayn menerka.


'Perasaan ini nama temen Kakak yang waktu itu deh. Tapi, gak mungkin. Ehhh, tapi bisa jadi sih. Batin Alif. Mereka berdua hanya bisa menerka-nerka tanpa mau bersuara.


"Kenalan dulu, sayang, sama Tante." seru Mama Anggi.


Zayn pun menuruti perkataan sang Mama. Ia bangkit dari duduknya dan menyalami tangan Bunda Weni, "Halo, Tante. Perkenalkan nama saya Zayn." ucapnya. Begitu juga sebaliknya. Alif pun mengenalkan dirinya.


"Duhh sopannya." balas Bunda Weni sambil mengusap pundak Zayn.


"Makasih, Tante." Zayn pun kembali ke posisinya semula.


"Jeng, anak kamu yang pertama mana?" tanya Mama Anggi. Mama Anggi memang mengetahu Bunda Weni memiliki dua anak dan itu sepasang. Biasalah yang namanya Ibuk ibuk arisan rempong pasti tau semuanya.


"Ohh, Kakaknya Alif gak ada di sini." jawab Bunda Weni.


"Dimana emangnya?"


"Tinggal di luar negeri. Pas lulus SMA dia langsung minta kuliah di sana. Dan sampai sekarang belum pulang. Udah wisuda sih. Cuman dia lagi sibuk ngurusin toko kuenya." cerita Bunda Weni.


"Hebat dong kalau gitu. Terus kapan rencananya mau pulang. Duhh penasaran banget saya, jeng, sama anak jeng Weni yang perempuan tuh. Pasti cantik ya?"


"Ya, namanya perempuan cantik lah, jeng. Mana ada perempuan yang ganteng. Ada-ada sih jeng ini." ucap Bunda Weni sambil tertawa.


"Iya juga ya. Hahaha..."


Mereka seakan-akan lupa bahwa di sini ada keluarganya masing-masing. Sampai-sampai suara Papa Hendra menghentikan gosipan mereka.


"Makan dulu yuk. Keburu dingin nanti makanannya." sela Papa Hendra.


"Ehhh, iya. Sampai lupa." celetuk Bunda Weni sambil tertawa.


Di tengah-tengah makan malam mereka tiba-tiba suara ponsel berbunyi. Dan itu berasal dari ponsel Alif.


"Siapa, Lif?" tanya Ayah Zaki.


"Kakak yang nelfon." jawab Alif yang masih memandangi ponselnya. Ia merasa tidak enak hati kalau mengangkat telfonnya saat ini.


"Yaudah. Angkat aja. Siapa tau penting." ucap Ayah Zaki.


Alif pun menatap sekelilingnya untuk meminta izin.


"Angkat aja, Nak. Gak pa-pa kok. Santai aja. Anggap kami sebagai keluarga sendiri." sahut Mama Anggi yang mengerti bahwa Alif tengah kebingungan.


Akhirnya Alif pun mengangkat telfonnya. Lebih tepatnya video call dari sang Kakak.


"Assalamu'alaikum, Lif."


Deggg


'Suara itu???


Jeng jeng jeng 😂


...🐄🐄🐄...


......~Happy reading~......


...Semoga suka...


...Tinggalkan jejak kalian. Plisss 😭😭🤣...