
Di tempatnya Zee tengah berusaha untuk menetralisirkan perasaannya saat ini. Mimpi apa ia semalam hingga bisa melihat Zayn. Bahkan pria itu semakin tampan. Pikirnya.
Zee menggelengkan kepalanya. Kacau, sangat kacau pikirannya saat ini. Zee melihat jam di ponselnya yang memperlihatkan pukul empat sore. Mendingan pulang aja. Pikirnya.
"La..." panggil Zee yang baru keluar dari ruangannya.
"Kenapa, Zee?" tanyanya.
"Nitip toko ya. Saya mau pulang." Asistennya, Lala hanya mengangguk menuruti perintah bosnya itu.
Sesampainya di apartemennya, Zee langsung masuk ke dalam dan menemukan Rega yang tengah di gendong oleh Lora. Sambil wanita itu terlihat menimang-nimang anaknya.
"Rega kenapa, Ra?" tanya Zee. Baru Zee sadari Lora yang seperti sehabis menangis.
"Kamu kenapa, Ra. Nangis?"
"Rega rewel banget dari tadi." lirihnya.
"Sini, gantian. Kamu pasti capek." Lora pun mengalihkan Rega ke dalam gendongan Zee.
"Panas?" dengan cepat Zee memeriksa suhu badan Rega.
"Rega demam, Ra." panik Zee.
Lora pun memeriksa suhu badan anaknya. Baru ia sadari suhu badan Rega panas. Pantas saja saat ia menggendongnya terasa hangat. Ia kira karena kelamaan menggendong Rega.
"Bentar, aku ambil kompres dulu buat Rega." Lora yang panik langsung berlari menuju dapur untuk menyiapkan air hangat untuk mengompres Rega.
"Rega, sayang. Bangun, Nak." ucap Lora lembut sambil mengusap pipi Rega. Sementara Zee mandi untuk membersihkan dirinya karena baru pulanh dari toko. Sudah di pastikan kuman dan bakteri menempel d tubuhnya.
"P-papa." racau Rega memanggil Alif.
Hati Lora seakan-akan di cabik-cabik saat mendengar suara yang keluar dari mulut sang anak. Apakah sebegitu sayangnya Rega terhadap Alif sehingga bocah tersebut mengigau.
"Kenapa, sayang?" ucap Lora sambil mengelus pipi Rega.
Perlahan mata mungil tersebut terbuka.
"P-papa." panggilnya sambil meneliti setiap sudut kamar.
Rega pun menangis kencang saat tidak menemukan Alif di sana.
"Rega kenapa lagi, Ra?" tanya Zee tergopoh-gopoh.
"Dia manggil Papanya terus." lirih Lora.
"Rega, dengerin Mami ya. Rega jangan nangis lagi ya. Biar Mami telfon Papa. Ya, sayang?" Rega akhirnya menganggukkan kepalanya. Tangisnya pun sudah mereda.
Sementara di tempat Alif
Terdengar suara dering ponselnya yang berbunyi sedari tadi. Alif meraba-raba ponsel yang ia letakkan di atas nakas.
Alif mengangkat telfonnya tanpa membuka kedua matanya, "Halo. Siapa ya?" tanya Alif dengan suara seraknya.
ππ²"Ini Kakak, Lif." jawab Zee. Alif membuka matanya dan melihat layar ponselnya.
ππ²"Ohh, iya. Maaf, Kak. Soalnya Alif ngantuk banget." ucap Alif sambil menggosok-gosok kedua matanya menggunakan tangan kirinya.
ππ²"Maaf, Kakak ganggu waktu istirahat kamu, Lif."
ππ²"Gak pa-pa kok, Kak. Ada apa Kakak nelfon aku?" tanya Alif.
ππ²"Rega sakit, Lif." ucap Zee to the point. Sontak saja Alif terlonjak dari kasurnya.
ππ²"Badannya masih panas. Dia nyebut-nyebut kamu terus. Udah malam Lif di sana. Mending jangan dulu deh. Tunggu siang aja."
ππ²"Yaudah deh, Kak. Titip salam sama Rega ya."
ππ²"Iya. Kakak cuma mau ngabarin itu aja. Yaudah kalau gitu Kakak tutup telfonnya ya? Kamu juga istirahat. Pasti capek seharian."
ππ²"Iya, Kak. Kalau gitu aku tutup dulu ya. Assalamu'alaikum."
ππ²"Wa'alaikumsalam."
Tuttt
Alif masih di landa rasa khawatir. Ia melirik jam dindingnya yang menunjukkan pukul sebelas malam. Tanpa pikir panjang ia kembali membuka ponselnya dan memesan tiket penerbangan menuju London saat itu juga.
Rasa kantuk yang melandanya tadi kini tiba-tiba menghilang di gantikan dengan rasa khawatir yang membuatnya tidak bisa berpikir tenang.
Tertera di sana ia akan berangkat tengah malam sekitar satu jam lagi sebelum penerbangan.
Alif langsung membereskan beberapa berlengkapannya. Hanya tas punggung yang ia bawa.
Setelah berkemas-kemas termasuk mandi. Alif langsung menuruni anak tangga untuk turun ke bawah.
Tujuannya saat ini adalah pamit kepada kedua orang tuanya.
Tok tok tok
Alif mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya sambil memanggil Bunda Weni dan Ayah Zaki sesekali.
Ceklek
Bunda Weni keluar dengan raut wajah yang masih mengantuk. Bagaimana tidak. Alif membangunkan orang tuanya pada tengah malam buta.
"Kenapa, Nak?" tanya Bunda Weni di susul Ayah Zaki yang juga terbangun dari tidurnya.
"Alif pamit ya, Bund, Yah." jawab Alif.
"Mau kemana? Kok pakai tas segala?" tanya Ayah Zaki heran.
"Mau balik lagi ke tempat Kakak, Yah."
"Kok tengah malam. Besok pagi aja." ucap Bunda Weni.
"Gak bisa, Bund. Soalnya Rega sakit. Lagi pula waktu libur semester juga udah mau habis." jelas Alif.
"Innalillahi. Yaudah kalau gitu. Hati-hati ya. Nitip salam sama Kakak kamu juga trus Rega."
"Iya, Bund. Kalau gitu Alif berangkat ya." Alif langsung menyalami kedua orang tuanya.
...π¦π¦π¦...
...Tinggalkan jejak kalian pliss π...
...Hargai karya abal-abal author ini π...
...Kalau tidak suka langsung skip aja π...
...β¦Happy readingβ¦...
...πππ...