
Tok tok tok
"Zee, buka pintunya dong." ucap Vani di balik pintu bercat biru itu. Sedangkan orang yang di panggil tersebut malah asik-asiknya memotong kuku di dalam kamarnya sambil mendengarkan musik dengan headset yang berada di kedua telinganya.
"Panggilin Tante Weni gih." suruh Vani ke Elsa.
"Lo aja lah." tolak Elsa.
"Lo mahh, di suruh malah nyuruh balik. Dasar o'on."
"Dihh, sendiri gak nyadar." ejek balik Elsa.
"Lho lho. Kenapa nih?" tanya Bunda Weni terheran melihat sahabat anaknya itu malah berdebat di depan kamar Zee.
"Zee tuh, Tante. Di panggil-panggil kagak nyaut." adu Elsa.
"Coba ketuk lagi. Mungkin Zee nya lagi di kamar mandi."
"Udah, Tan. Malah udah berkali-kali." jelas Vani. Tangannya yang pegal karena sedari tadi mengetuk pintu.
"Nggak ada cara lain lagi." ucap Elsa dengan senyum jahil nya terbit.
"Ehh ehhh. Mau ngapain lo? Jangan aneh-aneh ya."
"Enggak kok, Van. Tapi ini satu-satunya cara."
"Ekspresi lo nyebelin banget kek gitu. Serem dudul."
"Udah, tenang aja. Pasti abis ini Zee langsung bukain pintunya."
"Terserah kalian lah mau ngapain. Tante mau ke pasar dulu. Stok bahan masakan habis. Ehh iya, jangan sampai itu pintu kamar Zee roboh ya." lerai Bunda Weni sambil terkekeh.
"Yakali roboh, Tan. Emang nya Vani ama Elsa ini hulk apa?" balas Vani sambil cemberut.
"Hahaha... Becanda. Yaudah, Tante titip rumah sebentar ya." ucap Bunda Weni dengan tawa nya.
"Iya, Tan. Tenang aja. Gak ada pencuri yang berani masuk di rumah ini." balas Elsa yang di ancungi jempol oleh Bunda Weni.
"Gih!"
"Apa?"
"Katanya mau panggilin Zee supaya buka pintunya."
"Ehh iya. Hehe, kelupaan."
"Siap ya?" lanjut Elsa lagi.
"Haaa? Siap apaan?" tanya Vani bingung.
"ZEE!!! BUKA PINTU NYA WOYY." teriak kencang Elsa.
Vani yang belum siap menutup telinganya langsung meringis saat gendang telinga nya serasa mau pecah.
"Ehhh dudul. Gue belum siap lo udah nyelonong aja. Pecah nih gendang telinga gue." teriak Vani kesal.
"Ya sorry. Kan udah gue bilang siap gak?" balas Elsa dengan cengiran khasnya.
"Tau lah."
"Ululululu... Nada bicara nya. Jangan ngambek dong." rayu Elsa sambil mencubit kedua pipi Vani.
Vani langsung melepaskan kedua tangan Elsa yang mencubit pipi nya, "Sakit bego." ucapnya kesal.
Ceklekkk
Pintu kamar Zee terbuka dengan sang empu memasang wajah kesalnya, "Kalian brisik. Untung tangan gue gak kepotong." tatapnya sinis.
"Lagian lo di panggil-panggil kagak nyaut." jawab Elsa.
Vani memperhatikan penampilan sahabatnya itu. Setelahnya iya ber'oh saat melihat headset yang yang terpasang di sebelah kanan telinga sahabat nya. Sementara headset di sebelah kiri kini sudah bergelantungan terlepas.
"Pantas aja di panggil-panggil kagak nyaut. Ehh tau nya." sindir Vani.
"Hmmm." dehem Zee.
"Ngapain nyuruh kalian masuk. Toh udah tau sendiri tanpa di suruh." sindirnya. Vani terkekeh mendengar jawaban yang keluar dari mulut sahabatnya.
"Lo mahh. Ama sahabat sendiri juga." balas Elsa kesal.
"Kalian mau di sini terus? Yaudah kalo gitu." canda Zee dengan berusaha menutup kembali pintu kamar nya. Tapi dengan cepat Vani dan Elsa segera masuk ke dalam kamarnya.
"Gue kira lo marah ama kita." ucap Vani yang memulai pembicaraan mereka bertiga.
Zee mengerutkan dahinya saat mendengar penuturan Vani, "Marah? Emang gue bisa marah ama lo pada?" ucapnya heran.
"Ya soal tadi di kantin." jelas Vani.
"Emmmm... Itu."
"Kenapa?"
"Ya gak pa-pa sih. Gue malu aja. Lagian kalian gak bilang sih kalo itu minuman punya dia." Zee menekankan kata dia di akhir kalimatnya.
"Ehhh enak aja. Kita udah ingatin lo ya. Lo nya aja yang main serobot aja tuh minuman." protes Elsa.
"Ya, ya, ya." Zee memutar bola matanya malas.
Sementara di tempat lain. Terdapat dua pemuda yang tengah asik dengan gamenya.
"Yahhh kalah deh." ucapnya frustasi.
"Gak seru mabar sama lo. Kagak ada lawan." sindirnya yang mendapati pelototan tajam.
"Zayn, laper." ya, mereka adalah Zayn dan temannya yang bernama Renzy.
"Ngapain bilang sama gue?" tanya Zee dengan nada bicara terkesan menyindir. Ia sudah hafal tabiat sahabatnya itu ketika lagi di rumahnya.
"Ya kan ini rumah lo." balas Renzy.
"Ambil sendiri sonoh."
"Ck! Males gue." decaknya kesal.
"Yaudah gak usah!" jawab Zayn. Renzy pun langsung menuju dapur untuk melihat apakah ada cemilan di sana.
"ZAYN!!!" Zayn langsung menutup kedua telinganya dengan tangannya saat mendengar suara cempreng yang memanggil namanya.
"Kamar." jawab singkat Zayn.
"Lain kali kalo mau masuk rumah orang itu ucap salam dulu. Jangan teriak-teriak." ucap Zayn saat seorang gadis berambut sebahu itu baru saja masuk ke dalam kamarnya.
"Hehe, maap. Kagak lagi deh." balas Cyra dengan cengiran khasnya.
"Apa kabar sekolah baru?" tanya Cyra sambil mendudukkan dirinya di sofa.
"Gak apa-apa."
"Beneran?" tanya Cyra memastian.
"Tapi kata Vani lo sekelas sama dia." ucap Cyra dengan senyuman smirk nya.
'Si al. Awas lo, Van! Rutuk Zayn dalam hati nya. Memang tidak leluasa suasana yang sekarang. Apalagi dirinya yang seperti di awasi. Kenapa sih Papa mindahin gue di sana. Batinnya.
"Hmmm." Zayn hanya berdehem menanggapi sepupunya itu.
"Gue da... teng." ucap Renzy dengan kalimat yang terputus saat menyadari bahwa di dalam kamar Zayn terdapat orang lain.
"Ehhh, Cyra. Kapan sampenya?" Renzy meletakkan setoples nastar di meja.
"Barusan kok." balas Cyra sambil tersenyum ramah. Renzy mengangguk-anggukkan kepala nya.
"Ren." panggil Cyra.
"Kenapa?" jawab Renzy dengan mulutnya yang sudah penuh dengan kue nastar buatan mama Zayn.
"Gak jadi, hehe..." ucap Cyra.
"Dihhh! Gaje..."