GRIZELLE

GRIZELLE
74



jam sudah menunjukan pukul sepuluh, seorang menunggu kedatangan suaminya yang biasanya selambat lambatnya ia pulang yaitu sampai jam delapan saja, tak pernah selarut ini. Tiba tiba pintu kamar terbuka terlihat seorang dengan stelan kemeja dengan lengan ditekuk sampai siku dan jas nya ia sampirkan ditangan kirinya.


"dari mana saja kamu kenapa jam segini baru sampai rumah, udah lupa punya istri" marahnya kian menggebu, meluapkan emosi dan pikiran negatif yang sedari tadi mampir di kepalanya.


"masih peduli kamu?" bukanya menjawab pertanyaan dari Grizelle, Rezvan justru menyulut emosi istrinya itu.


"kamu suamiku, jelas aku masih peduli. Pertanyaan mu itu konyol sekali Van" sambung Grizelle lagi.


"ya aku memang suamimu, tapi kamu rela mendiamkan ku hanya demi mantan suamimu, kau pikir aku tidak sakit hati dengan kelakuanmu itu!" ucap Rezvan dengan nada tinggi membuat Grizelle sedikit tersentak dengan penuturan nya.


"aku punya alasan, aku hanya tidak ingin kau maupun aku terlibat dengan orang sepertinya, tapi kurasa kau tidak pernah paham denganku" kata Grizelle dengan suara bergetar dan air matanya kini lolos membasahi pipih mulus itu, Rezvan sangat tidak tega melihat istrinya menangis ia pun mendekat pada Grizelle.


"kau yang memulai dulu perkara ini Zelle" katanya sedikit halus.


"aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepadamu atau dengan hubungan kita Van, aku....." ia sudah tak sanggup lagi mengucapkan kata katanya lagi, sedih, rindu menjadi satu melihat suaminya yang kini berada didepan matanya memeluk erat masuk dalam pelukannya.


"maafkan aku..." lanjutnya, yang masih terus terisak.


"sudah cukup jangan menangis lagi, aku maafkan kamu, jangan pernah mendiamkan ku lagi, cukup ini yang terakhir bisa mati jika aku terus didiamkan olehmu lagi" kata rayuan itu mampu memberi sedikit senyuman pada bibir manis Grizelle.


"dan kamu, jangan pernah coba coba untuk pulang semalam ini lagi, aku bisa mati khawatir memikirkan mu" sambung Grizelle sambil memukul dada Rezvan.


"iya aku tidak akan mengulanginya lagi, ya sudah cepatlah istirahat, aku akan bersih bersih dulu" ucapnya lagi.


keesokan paginya


cup kecupan manis dikening milik perempuan yang sebenarnya sudah hampir satu minggu ini memporak porandakan pikiran dan hari Rezvan. Ia yang terus menatap istrinya itu kembali mengingat akan permintaan maaf yang terucap dari bibir mungil itu. Akhirnya mereka kembali seperti semula meski masih sedikit canggung. Karena pertengkaran kemarin adalah pertengkaran yang paling lama.


"kau terbangun, tidurlah lagi ini masih sangat pagi lihatlah ini masih jam dua pagi Zelle" kata Rezvan


" bagaimana aku tidak terbangun, kau memelukku dengan erat, dan berulang kali mencium ku" tutur Grizelle


"aku menyayangimu Zelle" kata Rezvan lagi


"aku tahu itu, maafkan aku sekali lagi, dan aku berjanji tidak akan ada lagi pertengkaran diantara kita kedepannya" lanjut Grizelle yang membuat Rezvan mencium bibir milik istrinya karna gemas dengan ucapan manis yang ia lontarkan barusan.


"apa kau merindukanku Zelle" kata Rezvan tiba tiba setelah mencium bibirnya


"tentu aku sangat merindukanmu Van" jawabnya


tanpa mengatakan apapun lagi Rezvan mencium bibir Grizelle, begitupun dengan Grizelle ia membalas dengan lembut keduanya memang sudah saling merindu, dan ya setelahnya terjadi pergulatan dua insan yang entah sudah saling mencintai satu sama lain atau belum itu.


heyyyyyy selamat menikmati