GRIZELLE

GRIZELLE
54



Ceklek


Pintu ruangan kerjaku terbuka tanpa mengetuk pintu aku tetap melanjutkan pekerjaanku tanpa menoleh sia yang datang


"rajin sekali sekretarisku" suara berinton yang kupastikan dia lah CEO ku


Ku angkat mataku begitu penasaran seperti apa rupanya dan memastikan apa yang dikatakan Rezvan bena atau tidak, aku tidak menyangka dia benar benar orang yang kutemui beberapa kali kemarin,


"selamat sore pak," sahutku, karna memang hari ini sudah menjelang sore


"aku sudah tahu namamu nona, Grizelle Indira senang bisa bekerja denganmu" katanya lembut,


"ya maaf beberapa kali tidak memperkenalkan diri" kataku sambil berdiri


"hari ini akan ada perta dansa sebagai perayaanku menggantikan ayah, jadi nanti kamu bisa datang dengan pasanganmu, aku juga mengundang tuan Rezvan malam nanti" katanya lagi, pesta dansa yah mana mungkin Rezvan mengajaku mau menjeputku setiao hari saja sudah untung dati pada aku harus naik taksi.


"ya akan kuusahakan datang nanti malam" kataku singkat


"kalau begitu apa pekerjaanmu sudah selesai, kalau sudah kamu bisa langsung bersiap siap, dan jangan lupa nanti malam akan ku kenalkan kau sebagai sekretaris baruku pada kolega kolegaku" katanya lagi, ya terserah memang harusnya begitu kan.


"pekerjaanku sebentar lagi selesai lagi pula aku sudah bilang dijemput pukul lima nanti" ucapku lagi


"siapa yang akan menjemputmu nona?" katanya terdengar canggung aku ini


"hehe pak jangan panggil saya 'nona' saya sekretaris anda bukan, jadi panggil nama saja, yang menjemputku nanti Rezvan" jawabku


"Oh ya aku lupa kamu dan Rezvan saudara kan?" pertanyaan yang benar membuatku specheles banget


"hehe i...iyaa"jawabku ragu


"baik sampai bertemu nanti malam Griz" lalu dia langsung pergi begitu saja


hufft rasanya sangat melelahkan, tinggal satu jam lagi aku akan pulang, apa mungkin Rezvan akan mengajakku dipesta nanti kurasa sangat tidak mungkin


"Grizelle apa yang kau pikirkan, cepat selesaikan sebelum tuan tua pemarah datang menjemputmu" kataku sendiri


satu jam kemudian.......


deerrttt derrttt derrtttt handphone ku yang bergetar di samping kanan komputerku


siapa lagi kalau bukan tuan tua pemarahku ini


via telfon


"ya hallo" angkatku ketus


"turun aku sudah didepan"jawabnya singkat


"ya, assalamuaikum" karna aku lupa ucap salam tadi


"wangalaikumsalam"


aku langsung bergegas membereskan seluruh file yang masih terbuka,pekerjaanku kali ini selesai tepat waktu, semoga besok seperti ini lagi


sedang setelah aku turun dan masuk kedalam mobil orang disebelahku sedari tadi tak mengatakan apapun kurasa sifat dinginya mulai kambuh lagi


"apa hari ini kau akan pergi?" kataku memancingnya


"pergi? kamu menyuruhku pergih Zelle?" tanyanya


"bukan maksudku, apa kamu akan datang dipesta perayaan Steven nanti malam?" kuperjelas petanyaanku padanyaa.


"ya hari ini aku akan pergi dengan Zemira" jawabnya


"kalian sudah baikan?"kataku lolos


"iya, kami sidah baikan dan dia sudah bisa menerima kalau memang kamu hanya istri sementaraku" penekanan di kalimat terakhirnya itu sedikit membuatku merasa..., apa harus selalu ia sebut dalam obrolana kami


"ya pergilah, hati hati tapi kamu tidak aku antar atau jemput, kamu bisa pergi sendiri kan" jawabnya tanpa tanya acara apa yang akan aku datangi nanti


"tentu, kenapa tidak bisa aku minta tolong padamu sekali ini saja" lirihku


"apa?" tanyanya


"antarkan aku kebutik, aku ingin nanti malam tampil sempurna dan perfek bahkan menjadi sorotan utama"kataku sudahlah dari pada aku berfikir tentang Rezvan berkali kali aku juga punya caraku sendiri untuk tidak jatuh pada luka yang sama.


"oh kamu mau memamerkan kecantikanmu?" Rrzvan


"Ya, karna nanti malam aku sendiri tidak ada pasayang siapa tau, setelah aku dicerai olehmu, aku langsung dilamar CEO yang lebih tampan kaya dan segala galanya" ucapku


"kamu ini, lebih baik tidak usahku antar sekalian" Rezvan


" kok kamu sewot gitu sih, tinggal antar aja susah bgt" jawabku


"iya iya dasar bawel" singkatnya


"benar benar tuan tua pemarah satu ini" kataku lirih namun masih bisa terdengar


"kau bilang apa Zelle?" introgasinya


"emm bukan apa apa, ayo jalan kita tak ada waktu lagi" alibiku


"kau pikir aku tuli Zelle, kau bilang aku tua dan pemarah"katanya lagi


"emm benar kan kamu sudah 28 tahun, tetanggaku saja sudah punya anak dua" celotehku


"jadi kau meledeku? lalu mengapa kamu tidak memberiku anak sekalian" katanya kulirik ia seringai kecil yang tergurai bisa kulihat, dari sini


"aku gak mau, dan itu memang kenyataan van hehe"tawaku kecil


dia hanya diam seolah menahan senyum juga ingin rasanya aku tertawa terbahak bahak


tak berapa lama mobil kami terparkir di halaman depan butik terkenal disini,kami langsung masuk tanpa dia mempersilahkan toh ini urusanku


kupilih pilih gaun yang cocok dengan tema pesta malam ini, pandanganku jatuh pada gaun merah darah yang mempesona kuambil gaun ini dan entah dari mana aku langsung membawa ke depan Rezvan seolah sedang mengatakan aku suka dengan pilihanku


"coba saja jika kamu suka Zelle" katanya aku langsung menuju ruang ganti namun belahan dada dan punggungku ternya terekspos sempurna, tapi tak masalah sangat cocok dengan kulitku


"bagaimana" kataku sembari memutarkan tubuhku


"tidak ini sama sekali tidak cocok denganmu, lihat bagian tubuhmu terumbar kemana mana, Zelle untuk berapa kali aku mengingatkan kau istriku kamu punya batasan" tiba tiba dia seolah tak terima dengan ini semua tentu aku jengkel denganya


"Van untuk berapa kali kamu menganggapku istri sementara jadi jangan berlebihan" sahutku


"tidak bisa biar aku yang memilih untuku" keputusanya yang seolah tiba tiba ini


"van tapi ini pestaku" ucapku lagi


"lepas dan tunggu disini, biar aku mencari yang terbaik"


aku diam pertanda aku tak suka sikapnya, enak saja senak jidad bilang kaya gitu dan memerintahku. Perasaan baru tadi sikap dingin yang dia lontarkan di dalam mobil sekarang tidak terima kalau aku memakai pakaian minim emosinya tersulut gitu, sebenernya tu orang tuh maunya apa sih.


"nih coba" dia membawakanku gaun panjang dengan lengan pendek namu menutup pungggung dan dadaku, ditambah dengan desain yang sangan indah, aku juga suka warnanya tak terlalu terang dan tak begitu menonjol dia membawakan warna ungu gelap atau lebih mirip warna buah pulm, cukup menawan bukan


"terimakasih" kataku dan langsung mengambil gaun yang ia sodorkan padaku, tak perlu waktu lama gaunya sangat pas dengan ukuran badanku, tak perlu aku perlihatkan pada Rezvan lagi.


"sudah? mana aku belum lihat"protesnya


"tak usah kau lihat terlalu banyak komentar, sudah yuk pulang"kataku dan langsung meninggalkanya, ngomong ngomong gaunku sudah dibayarkan yah sama si Rezvan itu, bahkan setelah aku sampai rumah kubuka lagi bingkisan yang aku bawa tadi tidak hanya gaun dia juga membelikanku seset dengan aksesorisnya dari tas sepatu anting bahkan jepit rambutnyapun, lihat saja Van kau akan terpukau dengan penampilanku nanti malam.


Grizelle pov end