
Sampainya di kantor ia mulai kembali dengan rencana awalnya menghancurkan Samuel, karna tadi pikirannya sedikit terganggu. Menghancurkan perusahan milik Samuel membeli semua saham yang ada di sana adalah cara yang tepat, pikirnya. Keinginannya adalah membuat laki laki itu memohon dihadapannya, menghilangkan wajah angkuh nan sombong itu, membayangkan wajah milik Sam saja membuat sekujur tubuhnya jijik.
tok tok tok
ketukan pintu dari luar ruangan Rezvan, membuatnya terkesiap dari pikirannya.
"ya masuk.." ucapnya
"permisi tuan setengah jam lagi meeting dengan perusahan dari Jepang akan dimulai" kata sekretaris nya itu.
"ya aku akan segera kesana" jawabnya lagi.
setelah itu ia pun kembali menjalankan tugasnya sebagai seorang pimpinan perusahan, melakukan semua pekerjaan dari meeting mengecek data data yang masuk, dan masih banyak lagi, tak terasa waktu pulang kantor sudah tiba. Ia kembali merapihkan meja kerjanya dan meraih jas yang ia letakan di kursi kerjanya, meraih kuci mobil yang ia letakan di samping komputernya, dan berjalan menjauh dari ruangan itu.
Sampainya ia didalam mobil suara handphone menghentikan tangannya yang akan menyalakan mobil.
"ada apa? kau mengganggu saja." sarkasnya
"saya hanya ingin melapor sore ini tugas yang anda berikan pada saya selesai, semua penanam saham sudah menyetujui untuk berpindah pada
perusahaan kita tuan." ucapnya lagi
"kerja bagus bulan depan gaji mu aku naikan" ucap Rezvan dan menutup sambungan telepon nya.
ia pun bergegas menancap gas, tak sabar cepat kembali ke rumah bertemu dengan istri tercintanya.
Sampainya di rumah sepertinya ada seorang yang menunggu kepulangan ya, dengan raut wajah tak terbaca.
"sedang apa kau di teras rumah begini, apa kau sedang menjadi security?" ejeknya
bugh
Satu pukulan mengenai wajah tampan Rezvan, benar orang itu adalah Sam. Ian menunggu sedari tadi ingin memuntahkan segala amarahnya pada laki laki satu ini, satu pukulan dirasa kurang ia menghajar Rezvan tanpa ampun. Tak mau dirinya menjadi bulan bulanan Sam ia pun membalas, Keduanya berkelahi di teras rumah milik Papah mertuanya, betapa memalukan menantu menantu berpendidikan tinggi ini. Tak satu pun dari anggota keluarga mendengar termasuk Grizelle karna memang jarak teras ke kamar itu lumayan jauh, begitu pun dengan para pelayan dan security di rumah itu.
"Sudah puas berkelahinya?" tanya suara berinton, menghentikan kegiatan kekanak kanankan kedua laki laki dewasa itu.
" Papah, kakek" keduanya bersamaan.
"Sedang apa kalian ini? merebutkan pesawat mainan? atau mobil Tamiya?" Tanya heran laki laki paruh baya tersebut, mendapati kedua menantunya berkelahi tanpa ampun di teras rumahnya.
"Tanyakan saja pada menantu Papah yang satu ini, tindakannya sungguh gila" ucap Sam berlalu pergi, wajahnya babak belur sudut bibirnya pecah karna pukulan Rezvan.
"Hanya masalah kecil Pah, Rezvan pamit dulu ke atas, sepertinya Grizelle sudah menunggu" pamit Rezvan.
sampainya ia di depan pintu kamar ia sedikit ragu untuk masuk kedalam, karna kondisi wajahnya saat ini pasti Grizelle akan menanyakan banyak pertanyaan untuk nya. Tapi mau bagaimana lagi dia pun tidak mungkin menyembunyikan masalah ini berlarut larut, toh laki laki brengsek itu juga akan memberi tahukan kepadanya cepat atau lambat.
Ceklek
"kenapa baru pulang?" tanya Grizelle yang belum menyadari kondisi Rezvan
"Tunggu, masalah apa yang membuat wajahmu jadi seperti mister gitu Van" tanyanya penuh khawatir.
"aku berkelahi dengan Samuel tadi dibawah" santainya dia menjawab pertanyaan Grizelle
"What happened?" katanya lagi dengan sedikit emosi
" akan kuceritakan tapi biarkan aku mandi dulu yah sayang, aku bawa banyak setan nih" jawabnya yang seolah tidak terjadi apa apa.
"cepat aku menunggu penjelasan darimu, tidak boleh lebih dari 15 menit" ucapnya penuh peringatan.
setelah hampir setengah jam Rezvan habiskan untuk mandi ia kembali menghampiri Grizelle yang tengah menunggu di sofa kamarnya.
"tidak ada niatan kmu memberi obat pada wajahku dulu sayang?"
"sudah aku siapkan, cepat katakan" sambil mengompres lebam yang ada pada wajah tampan
"jadi bukan salahku Zelle, ini salahnya mengapa selalu mengganggumu, dan berusaha menjatuhkan mu aku sama sekali tidak menyukai tindakannya itu ssshhh pelan pelan" katanya yang Sabil terus di kompres oleh Grizelle
"ini cukup besok juga udah baikan kok, udah aku kasih salep juga, jadi apa yang kamu lakukan?" tanyanya lagi sambil mengemasi alat P3K nya itu.
"aku menghancurkan perusahan miliknya, dan membeli hampir semua sahamnya"jawabnya enteng.
"Apa? kamu ini Van kok bisa gitu" katanya sedikit emosi
"bisa lah itu buktinya udah ada kan" jawab nya lagi tanpa ada penyesalan.
"aku gak suka kalo kamu tuh berisiko gitu, dan satu lagi untuk apa kamu membeli saham saham miliknya, kembalikan aku gak mau tau besok kamu sudah tidak memiliki masalah dengannya lagi" ucap Grizelle
"kamu gak usah marah gitu dong, aku juga ngelakuin ini buat kamu kok, aku gak suka kamu terus terusan di rendahin sama dia, kamu istriku sudah kewajiban ku melindungi dan menjaga kehormatan mu, sekalipun itu mantan suamimu sekalipun" kata Rezvan panjang lebar membela dirinya sendiri karna tau tatapan Grizelle begitu mengintimidasi.
"tapi aku gak suka kamu ngelakuin hal sejahat itu, biarkan saja, karma pasti ada ko" timpal nya lagi.
"apa kamu masih menyimpan rasa untuknya? sampai melihat dia menderita rasanya kamu sangat mengasihaninya" kata Rezvan menyeleweng dari topik pembahasan.
"Loh kok jadi gitu kamu ngomongnya?" tanya balik Grizelle yang tidak terima akan tuduhan Rezvan.
"karna kamu begitu ngotot minta aku balikin semua sahamnya" kesal Rezvan
"Terserah kamu saja Van, yang aku mau kamu jangan balas kejahatan dengan kejahatan, kalau sampai besok pagi kamu masih dengan saham milik Sam jangan harap kamu bisa bicara sama aku" ancam Grizelle, kemudian dia berlalu ke tempat tidurnya menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"benar kan kamu tuh sebenernya masih suka sama dia, apa bagusnya dia laki laki yang terus nyakitin kamu, Grizelle bangun kita belum selesai!" perintah Rezvan dengan keras, namu tak menghiraukan ucapan suaminya itu, ia malh memilih memejamkan mata indahnya membawa dirinya menyusuri mimpi.
entahlah malam itu menjadi pertengkaran mereka setelah terakhir kalinya saat masalah wanita pujaan hati Rezvan, masalah kali ini hanyalah salah paham saja diantara pasangan ini. Tidak ada yang tahu kapan mereka akan kembali seperti dulu lagi, mungkin saja besok Rezvan akan memohon, atau mungkin saja Grizelle yang akan mengalah. keduanya kini tidur dengan bertolak punggung, dengan jarak diantara mereka. Padahal biasanya Rezvan selalu tidur dengan merengkuh Grizelle membawanya dalam pelukan.
Happy reading