
Pagi hari dikamar Chellsea sudah mendengar suara Samuel yang sangat emosional, dan berhasil mengusik tidur nyenyak ibu hamil itu.
" Apa? kenapa klien kita membatalkan pertemuan hari ini, kerjamu itu bagaimana? semua yang saya perintahkan apa ada yang terlewat?" oceh Samuel
" Maaf Pak tapi semua jadwal dan perencanaan sudah saya susun sesuai dengan apa yang bapak minta."
Jelas sekretaris dan juga asisten Sam.
"Saya tidak mau tau, kamu susun kembali, rancang sebaik mungkin sebentar lagi aku akan ke kantor" Jawab Sam lagi
"Tapi pak ini bukan masalah membatalkan...."
Belum selesai bicara, telfon yang berada diseberang sana sudah ia matikan secara sepihak, pikirnya kalut kali ini. Karna seorang yang akan bekerja sama dengannya adalah orang yang berpengaruh dalam duania bisnis. Jika ia gagal bekerja sama dengan perusahaan itu maka nasib perusahanya kini berada diambang kehancuran.
Ia segera menyiapkan diri untuk segera berangkat kekantor, tanpa pamit pada istrinya yang saat itu masih tertidur pulas.
Setibanya dikantor ia memanggil asistennya. untuk menjelaskan semua yang terjadi pagi ini.
"Mengapa pertemuan hari ini dibatalkan?" tanya Samuel
" Maaf pak tidak hanya itu te-ta-pi juga mem-batalkan kerja sama kita" kalimat yang ia ucapkan sangat terbata bata takut si bos marah padanya.
kedua matanya menyipit tanda ia sedang menyaring kembali setiap kalimat asistennya itu.
" Batal? mengapa ini tinggal selangkah lagi, hari ini aku akan menandatangani kontrak tapi kenap dibatalkan?"
emosinya kini semakin memuncak setelah mendengar kata 'batal' ini adalah kesempatannya untuk menjadi perusahan yang terbesar di negara ini namun mengapa rencana yang ia susun kini hancur berantakan.
Suara handphone diatas meja kini menjadi pusat perhatiannya, yang kini ia pikirkan orang ini lah yang menjadi penyebab dari masalah yang datang hari ini.
" Kurang aj*r untuk apa dia menghubungiku?" tanyanya pada diri sendiri, tak lama kemudian dia mengangkat telfon itu.
" Senang mendapat kejutan dari ku Samuel Taksa?" ucap seorang diseberang sana.
" Kau, berani sekali menghancurkan kerja samaku dengan perusahan Adijaya !!!" Bentakan itu menggema di ruangan yang luas itu.
" Sudah aku katakan jangan macam macam denganku, kau tetap saja mengabaikan ucapan ku, maka nikmatilah kesengsaraan yang sebentar lagi menggerogoti mu, ingat jika kau belum berubah atau masih sama maka akan ku buat perusahaan ayahmu juga terseret dalam masalah ini!!" ancam orang itu lagi.
" Kau memang iblis!"
Muka Sam semakin memerah tangannya juga mengepal tanda ia begitu sangat geram. Emosi yang kini iya rasakan rasanya pun tak bisa iya keluarkan, pikirnya terlalu kalut ia marah, juga menyesal karna harus berurusan dengan orang paling berpengaruh dalam dunia bisnis ini. Namun sesal yang sepertinya saat ini lebih mendominasi.
" Hey apa kau bilang, iblis teriak iblis lucu juga rupanya kau, pantas istrimu begitu mencintaimu." kata orang itu lagi.
" Dengar aku tidak akan mundur begitu saja, kau membuatku sangat marah jangan salahkan aku jika mungkin akan terjadi sesuatu yang lebih mengerikan dari ini!" ancam Dan pikirnya saat ini harus balas dendam, dia tidak pernah kalah dengan lawannya tak terkecuali orang yang sedang mengajaknya bicara saat ini.
" Kupikir sebelum kau mengancam ku, mungkin tak lama lagi kau akan mendapatkan hadiah baru yang akan segera kukirim kan padamu" guratan senyum licik dibalik sana, yang akan membuat siapapun takut.
" Akan aku terima, dan tunggu balasanku!"
tantang Dan
" Ku tunggu balasanmu, namun kurasa kau tidak akan sanggup melawan orang sepertiku, ingat kau hanya mahluk kecil dalam dunia ini tidak bisa dibandingkan denganku, jangan sombong, semakin kau berulah maka semakin kau mendekat pada neraka dunia!!"
Tut.. Tut.. Tut..
Telfon dimatikan secara sepihak. Samuel yang merasa direndahkan sangat marah, dengan apa yang dia lakukan padanya.
"Fu*k man, lihat apa yang terjadi nanti, kubuat kau menangis memohon padaku!"
*TERIMAKASIH KEPADA SEMUA PEMBACA YANG SETIA MENUNGGUKU, DAN SABAR PADAKU*