
Rezvan pov
Aku pergi dari kediaman papahnya Grizelle dengan segudang pertanyaan, dan kalian tahu apa yang kubilang untuk mengimbangi apa saja yang kudengar. Kupikir dengan membuat mereka berfikir Gizelle tengah mengandung juga akan impas, dan kedepanya tidak akan ada kalimat yang menyindir seperti itu lagi bukan, dan sekarang aku tengah berada di dalam mobil tak ada suara apapun disini dan lihat Grizelle, dia memilih untuk memalingkan wajahnya dariku tapi kupikir dia kurang hebat menyembunyikan jangan kira aku tidak melihat dari siluet kaca mobil yang memperlihatkan muka marahnya, aku tak pernah merasa menyesal dulu tidak mencari tahu dengan siapa aku menikah, tapi kenapa sekarang aku merasa penasaran dengannya ya Tuhan.
Kujalankan mobil keluar dari halaman rumah suasana masih tetap dingin dan kaku kuberanikan diri untuk bertanya ya soalnya yang aku tahu perempuan kalo marah susah di ajak bicara mungkin dia sama seperti kekasihku setiap dia marah pasti tidak ingin diajak bicara wajar saja aku menjalin hubungan dengannya selama kurang lebih 5 tahun tentu aku paham dengan wataknya,jadi kupikir dia akan sama ditambah dengan sikap diam dan acuhnya sekarang ini.
"Zelle kita ke kantor papah atau pulang saja?" tanyaku padanya
"langsung pulang aja yah, lagian papah jam segini pasti sedang sibuk sibuknya dan kita besok langsung saja ke Prancis, nanti biar aku saja yang bicara dengan papah, kupikir kau sudah rindu berat denganya"jawabnya yang sukses buatku tercengang yang bener aja ini perempuan tadi dia marah tapi sekarang dia menjawab dengan santainya dan bisa ngertiin kondisiku.
"kau yakin tak mau bertemu papah dan kakekmu dulu, kurasa kita akan lama disana apa tidak masalah?" kataku lagi untuk meyakinkanya
"tenang saja aku bukan perempuan manja dulu saja aku di Australia tak pernah pulang sekalipun, kepulanganku kesini juga baru dua tahun lalu, jangan khawatirkan itu" jawabnya sambil tersenyum simpul
"ya terserahmu, aku dibawa kemanapun terserahmu" jawab Grizelle singkat
Rezvan pov end
Aku sembunyiin raut mukaku yang kurasa buruk didepan Rezvan tapi kirasa dia paham kenapa aku pergi gitu aja, sekarang malah aku memikih memutuskan untuk meninggalkan kota ini, biarkan masa lalu tetap menjadi masa lalu kupilih ikut Rezvan secepat mungkin karna semakin lama aku disini mungkin hatiku semakin mendendam aku tak mau seperti itu karna kejahatan tak perlu harus dibalas kejahatan. Untuk izin papah aku bisa sendiri menghendel sendiri karna papah sendiri jika sudah menjadi keinginanku pasti beliau tidak akan menolaku.
Untuk Rezvan aku tahu dia kesana hanya untuk menemui kekasihnya saja tapi biarlah mana mungkin aku cemburu aku hanya istri diatas kertas lagi pula kita hanya bertahan satu tahun, aku tahu pernikahan adalah hal yang sakral terlebih di agamaku sendiri Tuhanku sangat membenci perceraian tapi mana mungkin aku menjadi orang ketiga dihubunganya Rezvan maka dari itu kubuat perjajian tempo hari karna aku sendiri sangat paham bagaimana diduakan aku tak mau orang lain merasakan hal yang sama denganku biar aku yang merasakan tapi kali ini akan kubentengi hatiku tak kubiarkan satupun menyelinap masuk, dan aku yakin kita juga ngga akan sejauh itu.Jika iya biar aku yang pergi tak mau aku menyakiti perempuan disana yang tengah menunggu kedatangan orang yang terpenting dihidupnya.
nah loh ini end atau gimana coba