
"bangun zell makan dulu kamu belum makan dari tadi pagi" ucapnya seraya mengoyangkan lenganku pelan, lah siapa yang tidur dia pikir aku beneran tidur apa ini masih pagi gak bagis juga kali buat kesehatan.
"iya nanti aku makan"jawabku singkat tanpa membuka mata
"sudah disiapkan dari tadi ayolah makan" katanya lagi
"iya aku makan" dengan malas kubuka mataku, aku makan dengan steak daging ku potong kecil dan kumakan, jelas lah kumakan masa kubuang kan mubazir
"zell nanti di tempatku kita tinggal sama dia yah" katanya yang langsung membuat otaku berputar "dia" apa yang Rezvan maksud coba
"maksudmu"kataku tanpa pikir panjang
"pacarku"jawabnha singkat
"ohhh ya silahkan" jawabku malas, lah terserah dia lah tempat tempatnya dia kok, lagi pula nantinya aku cari kerja dan jarang pulang untuk apa dia tanya kaya begitu, dan untuk menjawab pertanyaan kalian kenapa aku mau kerja, aku ini kuliah dan lulusan terbaik Australia dan dulu kupilih resain dari kantor karna aku menikah dan aku ingin fokus mengurus suami dan anak tapi itu dulu. Dipernikahanku yang sekarang saja memikirkan anak saja tidak suamiku bahkan pasti akan diurus oleh pacarnya itu, tentu aku akan jenuh di tempat itu nantinya
dan satu lagi dulu saat aku kuliah harapanku adalah mendidik anak anaku kelak tapi untuk sekarang kalian pasti tahu sendiri alasan apa yang membuatku ingin bekerja, dan kenapa tidak diperusahaan papah atau kakek, aku juga mau mandiri dan tidak mengatas namakan keluargaku.
"cepat habiskan" katanya lagi tanpa kujawab
.
.
.
.
Setelah beberapa jam akhirnya aku sampai juga rasa lelahku yang hanya duduk dan rebahan saja di dalam pesawat tadi. Kuturuni tangga satu persatu dengan hati hati aku berjalan tepat dibelakang Rezvan tentu karna aku istri yang baik jadi aku dibelakang saja jadi makmum, ya sebenarnya aku belum paham betul bandara Charles ini.
Semua barang bawaanku diturunkan oleh orang orng yang bekerja disini, dan kulihat Rezvan meminta para bodyguardnya juga untuk menjemput kami, kaya juga dia disini,kususuri bandara yang luas ini dan tiba tiba
Brughh
aku terjatuh kelantai dengan posisi duduk kurasakan lenganku tadi tersenggol cukup keras sampai aku terjatuh.
"désolé, ma maîtresse n'est pas intentionnelle, pour être pressé"
kata seorang pria memakai kemeja biru dongker dengan tubuh yang proposonalnya cukup menawan dan usianya kurasa tak jauh beda denganku satu kata untuknya 'tampan'
"oui bien sûr pas de problème" kataku singkat dan dia membantuku berdiri dengan merengkuh pundaku dan memapahku berdiri dari jatuhku, belum ku seimbangkan posisi berdiriku tapi salah satu kakiku merasakan sakit yang tak pernah kurasakan sebelumnya
"sstt sakit"pekikku lirih yang masih terdengar
"kau asal Imdonesia nona"tanyany yang kurasa dia juga orang sana
"ya" jawabku singkat karna sakitnya makin menjadi
"maaf untuk ini kurasa kakimu terkilir, tapi maaf aku sedang terburu buru karna setengah jam lagi aku terbang, paling tidak nanti saya antar kau keluar dari sini dan sisanya ku serahkan ke orang kepercayaan ku saja ya nona"katanya panjang lebar
"ya terserah anda saja"jawabku lagi
"kau disini sendiri atau dengan yang lain?" tanya lagi
"aku bersama su... " tidak aku tidak bisa mengatakan ini belum tentu dia menganggapku istri kan.
"sudara ya saodara"lanjutku
"baik jadi nanti aku akan lega meninggalkanmu, dan ini kartu namaku silahkan simpan" sambik meberikan kartu kecil seperti atm tanpa ku lihat langsung ku masukan ke dalam tasku hanya itu percakapan kami setelahnya hanya rasa sakit yang memenuhi isi kepalaku karna ini baru pertama kali aku merasakan yang namanya terkilir, Rezvan sama sekali tak menyadari aku ini tertinggal atau bagaimana atau menyuruh bodyguardnya satu dibelakang kan siapa tau bakal kejadian kaya gini sekarang gimana coba udah kejadian gini
"kau siapa main peluk peluk gitu"suara yang tak asing bagi ku dan sekelebat kulihat raut tak sukanya dengan posisiku saat ini memang terkesan sedikit peluk pelukan gitu sih apa dia gak liat apa jalanku aja pincang gini
"maaf tuan anda siapa? dan maaf tadi saya menabrak nona ini" kata pria ini
"biar aku saja yang membantu" katanya tanpa menjawab pertanyaan pria itu, siapa lagi kalau buka Rezvan yang super nyebelin ini
"baik kalau begitu tolong jaga nona ini, dia sangat cantik jika anda kakanya tidak bisa menjaga tolong izinkan saya yang menjaganya,saya pamit permisi dulu" ucapnya dengan sedikit senyum
"memang seharusnya"jawab Rezvan singkat
tak kuhiraukan percapakapan keduanya aku hanya fokus pada kaki kiriku yang begitu sangat sakit tapi tak bisa aku mengelub dideoan pria ini.
maaf typo