GRIZELLE

GRIZELLE
46



Ku genggam tangannya, kurasakan tangan kecil dan jemari yang panjang, telapak tangan yang halus, entah apa yang aku rasakan sekarang darahku berdesir lebih cepat, dan rasanya mukaku panas sangat panas.


"lepasih Van, kenapa sih! " katanya sambil melepaskan genggamanku


"kalo aku biarin kamu didalem mommy akan terus terusan maksa kita buat kasih cucu, emang kamu siap!" kataku, sambil buka pintu mobil untuknya


"hem ya ya ya" katanya cuek


hingga didalam mobil kami tetap diam, dia hanya fokus dengan handphonenya saja, ah ya aku lupa dia akan bekerja diperusahaan itu, kudengar pimpinannya juga masih seumuranku, dan Grizelle mau jadi sekretarisnya?


"Zelle kamu yakin memilih bekerja ditempat lain dari pada diperusahanku atau perushaan daddy?" tanyaku padanya


"ya kurasa aku semakin yakin dengan apa yang sudah kuputuskan, terlebih nanti pasti kau akan sering sering pacaran juga kan di kantormu males banget nanti aku cuma jadi orang ketiga. Silahkan nikmati kisah kalian! " katanya lirih namu tegas,


"kamu ini terlalu percaya diri" jawabku lagi


"Van sekarang kalau aku bekerja ditempatmu pasti mommy akan sering kekantormu, dan lagi aku hanya tak mau masuk hanya karna ada hubungan keluarga," tuturnya yang jauh dari apa yang aku bayangkan


"Terserahmu saja"singkatku


"bagus, cepat berangkat aku tuh harus tepat waktu, awas aja kalo sampe telat kamu harus bantu aku cari kerja ke tempat yang lebih baik dari ini"


"okeh bagus kalo gitu, jadi kamu masuk perusahanku saja, toh perusahaanku jauh diatas perusahaanmu itu"kataku sombong, dia sama sekali tak membalas perkataanku, malah asik dengan handpone nya.


Aku gak tahu latar belakangnya tapi kenyataan bahwa dia pernah melahirkan benar benar membuatku ingin bertanya padanya, siapa ayah dari anaknya itu? lalu dimana anak itu, jika sekarang justru dia malah menikah denganku? sebebas itukah dia saat di Australi dulu, sampai dirinya tak dia jaga?


Rasa penasaranku semakin dalam dengan sikap cueknya,


"hey jangan lirik kesini terus, aku tahu aku cantik tapi please kita di jalan aku gak mau terjadi apa apa" katanya yang membuatku kaget, benar memang sedari tadi aku memperhatikannya, jujur wajahnya begitu teduh, tak sedikitpun terlihat disana wajah perempuan nakal pecinta bar, jika dibandingkan dengan....


Aduh apa sih kok aku banding bandingkan mereka stopp.


"jangan ke pedean gitu deh" ucapku singkat


"kurasa dia masih seumuranmu jika benar kalau sudah berganti tangan kalau belum dia seusia papah"jawbku lagi


"kuharap dia orang yang sama" ucapnya lirih namun masih jelas kudengar. Oh jadi dia mengharapkan seseorang yang akan menjadi atasanya


"aku mendengarnya" ketusku


"apa urusanmu huh? lagi pula kau sendiri memiliki kekasih bahkan sempat kau bawa rumah, masa aku sendiri gak boleh sih, namanya tuh ga adil! " ucap santainya


"gak bisa dong karna perempuan hanya bisa dengan satu laki laki dan laki laki bisa dengan empat perempuan hahah" ledeku padanya


"huh maumu, tapi jika aku tak mempersiapkan hati untuk satu tahun kedepan kan nanti malah susah cari orang wlee" katanya lagi


"oh jadi istriku ini sedang mempersiapkan penggantiku yah haha" tawaku lagi, dan reflek tanganku mengacak rambutnya dengan tangan kiriku


benar benar begitu polosnya dia jika seperti ini


"Rezvann rambutku nanti berantakan dong!" jengkelnya


"bagus agar pertemuan dengan atasanmu kali ini jauh berbeda dengan orang orang" kataku lagi


"males lah kamu bikin kesel aja yah pagi pagi, ehh van udah sampe ini yah?" yang baru menyadari kalau kita sudah sampai lima menit lalu haha


"iyah, abis kamu betah sih sama aku"godaku


"gak lah, sudah aku masuk dulu doakan aku lulus dan jangan lupa jemput aku lagi, nanti aku telfon aja" katanya sambil merapikan rambutnya kembali


"iya iya aku jemput kok, udah dej sanah furin ntar telat loh" kataku


"iya aku berangkat Assalamualaikum" salamnya sambil keluar dari mobil kami


maaf atas up minggu lalu, karna kondisi badan yang begitu ngantuk jadi gak maksimal nih garapnya, tapi makasih yang madih setia sama novel ini