GRIZELLE

GRIZELLE
62



Suara yang begitu akrab ini tiba tiba membelaku, kutolehkan kepalaku padanya. Yang benar saja dugaanku tepat Rezvan lah yang saat ini menolongku dari tamparan Sam aku tidak tahan lagi dengan situasi ini kubiarkan mereka mau melanjutkan pertengkaran ini atau memilih mengalah satu sama lain, aku memilih pergi dari tempat itu dan menuju kamarku dengan sedikit berlari kecil aku pergi dari mereka dapat aku dengar beberapa kali Rezvan memanggilku namun tak kuhiraukan. Rasa sakit yang tak mampu ku tahan lagi dan air mata yang seakan tak bisa kubendung lagi. Tepat saat sampai kamarku aku duduk ditepi ranjangku menangis sejadinya.


Grizell pov end


"Grizelle... Zelle jangan lari seperti itu" kataku dari bawah


"jangan sok peduli anda padanya, tidak pantas kau memperdulikannya, bukankah kau hanya memungut barang bekas!" ucap Sam sombongnya


"diam kau, urusan kita belum selesai" kataku sinis padanya tak perlu menunggu lama aku langsung menyusul Grizelle dikamarnya, aku mungkin tidak bisa mersakan apa yang sedang ia alami kali ini. tapi mendengar semua pertengkaran tadi seolah jiwaku juga ikut tersakiti dan ada rasa yang berbeda saat aku menatap matanya tadi sekilas seperti bukan rasa iba seperti biasanya.


Saat aku masuk kamarnya dia sedang menangis sendu kuraih bahunya kubiarkan dia masuk dalam pelukku menumpakan segala kesedihan yang mungkin ia pendam sendiri selama ini.


"maafkan aku, tidak seharusnya ini terjadi padamu Zelle"kataku lirih sambil memgelus rambutnya


"sakit Van hatiku sakit, dia yang selalu kupuja dan ku puji mengkhianatiku dengan adiku, dia yang selalu kuhargai malah menjatuhkanku jauh dilubang penderitaan yang sampai saat ini aku masih belum bisa keluar dari sana, dia sendiri yang menghilangkan bayiku justru aku yang seolah tak bisa menjaganya, Van apa aku seburuk itu hiks hiks hiks" katanya yang semakin meperdalam pelukanya


"kamu tidak salah Zelle dia yang brengsek meninggalkan perempuan sebaik kamu" kataku hati hati, benar saja selama ini dia masih belum bisa melupakan Sam.


"Lalu kupikir dengan menikah denganmu dulu aku bisa melupakan bebanku disini dan ikut kamu kesana lalu pernikahan kita hanya akan bertahan setengah tahun atau satu tahun saja, tapi itupun sama saja kau membuatku seperti perempuan murahan Van kau memakaiku lalu dengan mudahnya kamu mau membuangku begitu saja, jangan kau pikir aku tidak memdengar pembicaraanmu dengan Zem kemarin huh, kau pikir aku sehina itu aku tidak pernah sedikitpun menggodamu aku tak pernah sedikitpun memintamu untuk tetap menjadi milikku yang aku minta hanya jangan melakukan hubungan sejauh yang sudah kita lakukan kemarin Van" kata nya sambil memukul dadaku ringan, Ya Tuhan aku benar benar merasa bersalah padanya bukan semestinya aku asal bicara dia bukan seorang yang tuli akan segala hal namun dia wanita yang memiliki hati yang harus dicintai dan disayangi.


"Maafkan aku Zelle maaf, kamu salah paham coba dengarkan aku dulu" bujuku


"apanya yang salah faham Van jelas jelas kamu masih tetap memilih Zemira bukan, lalu untuk apa hari ini kamu datang?" ucapnya lagi sembari melepas pelukanya


"memang aku masih belum bisa melupakan cintaku padanya tapi apa boleh buat dia juga sudah menikah dengan laki laki lain Zelle, dan aku tidak mungkin menghancurkan kebahagian yang dia bangun sendiri sedang aku juga punya seorang yang mungkin bisa merubah kisah cintaku yaitu kamu Zelle, aku tahu aku salah, aku tahu aku memperlakukanmu selama ini dengan suka suka tapi Zelle kumohon beri aku kesempatan untuk membuka lembaran baru aku juga tahu kamu sendiri masih belum bisa berpaling dari masa lalumu bukan jadi bukankah kita sama? sama sama belajar membuka lembaran baru jadi tolong bekerja sama lah, dan lagi tidak ada perjanjian gila itu kau ini istri sahku baik hukum maupun agama" jelasku padanya, memang tujuan utamaku datang menyusulnya untuk memulai hubungan baru, tidak akan kubiarkan mawar mekar yang tumbuh di tamanku layu begitu saja, aku membiarkan mawar liar yang tumbuh subur disini. pelan pelan tapi pasti


"Van untuk hal ini aku masih tidak bisa menentukan aku memang masih belum bisa berpaling darinya tapi aku juga harus melihat perubahanmu dan usahamu dulu tidak mungkin aku menerima seorang yang jelas jelas masih mencintai hati wanita lain" jawabnya yang meberikan lampu kuning untuku.


"Zelle lupakan lah dia dan mari kita memulai hidup baru dan yakinlah cinta akan perlahan tumbuh antara kita" kataku sambil memeluknya, rasanya baru kali ini aku memeluknya setelah pernikahan kami dia yang hanya diam tanpa membalas pelukanku tak kupikirkan mungkin ini terlalu terburu buru.


"kamu terlalu percaya diri Van aku bukan orang yang mudah jatuh cinta, apa lagi dengan tipe laki laki sepertimu"katanya sambil tersenyum


"oh jadi kamu menantangku nona muda Jarvis" balasku dengan senyum semirik padanya,


"apa bisa kau ulangi lagi nafsuku?" kataku menggoda, senang akhirnya dia bisa tertawa dan sudah perlahan lahan menerimaku


"ya kenapa kamu tuh laki laki cemburuan, terus habis itu..." katanya tertahan wajahnya merona air mata yang yang masih belum sempurna hilang dari matanya menambah kecantikanya di siang ini.


"habis itu apa? kenapa gak dilanjutkan Zelle?" kataku penuh penekanan


"apa sih udah lah aku mau bersih bersih capek tau terbang dari Prancis ke kota ini" katanya sambil beranjak pergi namun saat dia akan berdiri kutarik lenganya hingga posisi yang begitu dekat antara kami benar saja aku merangkul pinggulnya dan dia menyandarkan tanganya di tulang selangkaku.


"Van apa apa sih kamu, aku mau madi" katanya lagi


"bagaimana kalau kita mandi setelah ini?" kataku seksual yang bicara berbisik ditelinganya


"i...ini masih siang Van jangan gila, diluar banyak orang" alibinya, wajahnya benar benar lucu aku ingin tertawa mungkin sekarang pikiranya mengarah kearah yang berbeda dariku tapi ok lah akan ku ikuti kemana arah pembicaraan kami.


"Zelle kau tidak kasihan pada suamimu ini?" ambiguku kubiarkan dia salah tingkah dulu ckckc


"Van sudah yah aku... aku mau bersih bersih dulu" singkatnya dan masih terus berusahan lepas dari pelukanku, aku yang berniat menggodanya malah justru sekarang aku yang tergoda


"tunggu sebentar, duduk manis disini jangan bergerak" kataku sambil berdiri mengunci pintu


"lo..loh kok dikunci mau ngapain kamu?" duh ini cewek satu masih gak paham aja atau pura pura sih, sambil menggaruk belakang kepalaku


"Zelle jangan seperti gadis yang polos yah, apa lagi kau juga berpengalaman dalam hal ini" aku medekatinya dan happ kulumat bibirnya yang sedari tadi benar benar membhatku kalang kabut. awalnya dia tidak merespon dan bahkan dia berulang kali memukul dadaku agar melepaskan ciuman panasku tapi lama kelamaan dia pasrah dan memilih membalasku,


"bagimana? lanjutkan atau kamu tetap mau mandi?" tanyaku padanya ya tentu aku harus ijin dulu aku tidak mau seperi tempo hari lagi


"ekhem terserahmu Van" katanya lagi


"kamu memberiku lampu hijau sayang" kataku tidak perlu menunggu lama kami pun melanjutkan apa yang menjadi kewajiban suami istri, pertemuanku denganya bukan menjadi pertengkaran dan bukan akhir dari cerita Grizelle tapi justru ini awal baru cerita cinta kami dimulai.