
Rezvan menuju mobilnya dengan langkah tergesa, raut wajahnya pun jadi berubah sangat sulit untuk dijelaskan, entah apa yang kini sedang ia rasakan.
"Kenapa lama banget?" tanya Grizelle pada suaminya itu, karna tidak biasanya dia lama seperti ini.
"oh tadi mbaknya lama ambil kembalian" jawabnya asal.
" kembalian? aku gak salah denger? sejak kapan kamu mempermasalahkan kembalian?" selidik Grizelle
" ya.. sekali kali biar kamu nunggu sayang" alibinya
"Alasan, nih kamu jangan jangan" katanya lagi
"ehh kamu mau ikut aku kantor atau mau pulang?" tanya Rezvan.
"aku pulang aja, capek bgt rasanya" jawab Grizelle
" ya udah aku anterin kamu pulang yah, jangan ribut sama Chellsea kalo udah sampe" peringatan kecil Rezvan namun sedikit ada penekanan.
"iyaa gak bakal kok, aku juga cape mempermasalahkan hal yang gak penting" kata Grizelle lagi.
kemudian mobil melaju cukup cepat, sampai tak lama kemudian mereka sampai halaman rumah orang tua Grizelle, memang sejak pertama mereka kembali dari luar negeri tidak ada niatan untuk pindah dari sana. Meskipun Rezvan beberapa kali meminta untuk pindah dari rumah Ayah karna beberapa kali ia melihat Grizelle bertengkar dengan adik tirinya itu.
"sudah sampai sayang, hati hati yah aku mencintaimu" kata Rezvan
"haha kau ini lucu sekali, aku kan dirumah yang harusnya mengucapkan hari hati itu aku Van bukan kamu" timpal Grizelle sambil terkekeh
" ya sudah kamu nanti pulangnya jangan terlalu malam, kalo udah sampe kantor hubungi aku" pesan Grizelle sambil keluar dari mobilnya.
"siap Nyonya" sambil tangannya memberi hormat pada Grizelle.
Ian pun melajukan mobilnya menuju ke kantor lagi,
di perjalanan pikirannya masih saja tengiang-ngiang dengan apa yang barusan ia alami. bertemu seorang yang sudah begitu lama tak pernah ia temui, seorang yang hampir membuatnya hampir gila, bahkan sejak keputusan yang ia ambil saat itu membuat Rezvan seperti kehilangan separuh nyawanya. Mata yang dulu ia tak pernah bosan menatapnya pun masih ia rasakan tadi saat pertemuan tak disengaja ini, Mata yang dulu selalu berbinar ketika ia hanya melontarkan senyum dan menyapa dari kejauhan masih sama tak ada perubahan. Aneh sejenak seperti kembali ke masa itu
dimana ia merasakan kebahagian yang begitu dalam, merasakan betapa indahnya dunia ini jika bersama dengan orang tadi. tawanya, senyumnya bahkan air matanya pun rasanya Rezvan masih begitu hafal.
Rasa bersalah dengan perasaan ini, bagaimana mungkin? ia sudah yakin dengan hatinya untuk bersama dengan Grizelle membangun keluarga kecil bersama sama, merencanakan hal besar dalam hidupnya, membahagiakan mommy dan Daddy dengan tangisan bayi, pikirannya kini mulai jauh menerawang entah kemana, namu mata tajamnya itu tetap fokus pada jalanan ibu kota yang mulai padat.
"kenapa kamu kembali, setelah begitu lamanya pergi?"
ia berdialog sendiri.
"bahkan mommy begitu menyukaimu, kau adalah kebanggan mommy" lanjutnya lagi.
kecamuk dalam hati serta pikirannya membuat ia sedikit frustasi dengan keadaanya saat ini, bagaimana tidak rasa penasaran yang sejak dulu ia pendam, dan kerinduan yang ia simpan sejak lama. Kini sedikit bertemu jalan untuk mengeluarkan semua perasaan itu. Hanya saja mengapa disaat ia sudah memantapkan hatinya, sepertinya langit tak pernah mengizinkan mereka bersama.
"kenapa baru sekarang Klara? kemana kamu selama ini?" katanya lagi, begitu banyak rasa penyesalan dalam kalimat itu, marah pun ia tak bisa, untuk apa ia marah, pikirnya.
HAPPY READING