
Keysa gugup untuk menjawab saat teman-teman Devan mendesaknya supaya menyetujui aku hadir di pesta ulang tahunnya. Aku bisa tersenyum saat melihat gadis itu kebingungan dan mulai melepaskan tangannya dari lengan suamiku.
"Menurutmu bagaimana Dev, Nuri akan ikut bersamamukan?" tanya Albi.
Devan juga sama gugupnya dengan Keysa, Devan memikirkan perasaan Keysa jika dia datang bersama istrinya, tapi Devan tidak memikir perasaan istrinya jika dia datang ke pesta ulang tahun Keysa.
"Terserah keputusan Keysa saja karna ini ulang tahunnya." jawab Devas tampak terpaksa.
"Nuri harus ikut, ikut, ikut, ikut, Nuri harus ikut kami tidak akan datang jika Nuri tidak ikut." sorak ke 3 teman suamiku, aku sangat berterima kasih karna mereka semua memberiku dukungan sebesar ini.
"Dia boleh ikut, tapi maaf kertas undangannya sudah habis." ketus Keysa akhirnya menyerah dengan rasa terpaksa.
"Tidak masalah karna mengundang tidak harus menggunakan kertas undangan, bisa dibicarakan secara langsung Key." jawabku, lalu membuang muka dan tersenyum sendiri setelah melihat wajah wanita itu yang sudah seperti orang kalah telak.
"Nuri, kau harus meminta Devan membeli gaun pesta untuk besok malam." tiba-tiba Denis nyeletuk.
"Itu tidak perlu, karna dia sendiri yang akan membelikannya untukku." jawabku santai sambil melirik Devan yang tampak kesal sekali.
Aku tidak akan memberimu apa-apa, aku berjanji pada diriku sendiri gaun itu tidak akan kau dapatkan.
Lihat saja nanti aku akan membuatmu membeli sebuah gaun yang indah untukku, untuk menghadiri pesta mewah kekasihmu, putri tidur ini akan bangun dari tidurnya.
Aku melihat sekilas wajah Devan, dia tampak sedang memikirkan sesuatu, wajah sangarnya yang lucu itu memang sulit sekali untuk menebak apa yang sedang dia pikirkan.
"Keysa, apa kau tidak ingat pulang ke rumahmu, sudah pukul berapa ini kau bisa lihatkan sudah jam setengah 12 malam, apa yang akan orang tuamu pikirkan nantinya saat anak perempuan mereka belum pulang selarut ini, pasti mereka sangat cemas."
Aku memang tidak suci, tapi aku rasa tidak ada salahnya menasehati gadis lain agar dia tidak bernasib sama denganku.
"Dev, kau akan mengantarku pulangkan?" tanya Keysa sambil merayu Devan. Devan hendak setuju untuk mengantar Keysa tapi aku lebih dulu bicara.
"Saat seorang istri melarang suaminya maka tidak akan ada wanita lain yang boleh membujuknya, kecuali istrinya sendiri." jawabku lagi.
"Kau apa-apaan Nuri, aku yang membawanya kemari maka aku harus mengantarnya pulang." sahut Devan menyangkalku.
"Kau punya 3 orang teman bukan? maka suruh saja mereka mengantar Keysa, jika kau yang mengantarnya apa kata orang nanti ada seorang pemuda yang mengantar seorang gadis pulang ke rumah tengah malam, tapi kalau ada 3 orang pemuda yang mengantar seorang gadis mereka akan berpikir hanya teman-temannya saja." jawabku.
Devan pun tidak mampu berkutik, dia membiarkan Keysa pulang bersama teman-temannya sampai Keysa sendiri tidak bisa lagi membujuk Devan.
"Nuri, kami akan sering-sering datang kemari untuk mencicipi martabak buatanmu, bolehkan? Dev bolehkan?" ucap Albi.
"Ya tentu saja aku senang kalian berkunjung kemari." jawabku sambil tersenyum sedangkan Devan senyum terpaksa.
Aku tidak tau ternyata senyum yang kuberikan untuk teman-teman suamiku bisa membuat suamiku marah melihatnya, sampai dia mencubit belakangku membuatku kesakitan.
"Bye, bye Nuri, see you next time." ucap mereka bertiga serentak, lalu mereka bertiga juga memberiku kiss bye sebelum mereka keluar dari kamar. Aku hanya mampu tersenyum kecil melihat tingkah laku teman-teman Devan itu, ternyata mereka humoris juga berbeda saat di sekolah mereka bertiga sering malak uang teman-teman.
Setelah mereka pergi, rumah kembali sepi hanya ada aku dan suamiku yang kini berdiri di depanku sementara aku mendudukkan diriku di atas tempat tidur.
"Kau lihat nak, mama berhasil menjauhkan nenek sihir itu dari hadapan kita." ucapku bicara dengan janin di perutku sambil sesekali melirik Devan, Devan terus saja kesal memandangku.
"Sayang, besok mama akan mendapat gaun yang indah dari papamu, kekasih papamu yang ulang tahun tapi mama yang akan mendapat hadiahnya." ucapku lagi sambil tersenyum, aku semakin meninggikan nada suaraku dengan sengaja aku menyindir suamiku yang berhati sedingin es itu.
"Kemari kau." Tiba-tiba Devan menarik tanganku dengan kasar, lalu membuatku tersandar di dinding. Dia menekan dengan kuat pergelangan tanganku ke dinding, tanganku sakit sekali meski aku berusaha melepasnya tapi dia lebih kuat dariku.
"Dengan mengatakan kita tidur di dalam kamar yang sama, kau sengajakan membuat teman-temanku percaya kalau aku menikahimu atas rasa cinta? kau sengajakan ingin hadir di acara ulang tahun Keysa agar kau bisa memata-mataiku?" ucapnya dengan cara membentak-bentakku.
"Untuk apa aku memata-mataimu aku bahkan tidak menyukaimu, aku hanya menuntut hakku sebagai istri, apa pantas seorang wanita single mengundang seorang pria yang sudah beristri tapi tidak mengundang istrinya juga, lalu apakah aku salah?" bentakku.
Mendadak Devan melepaskan tanganku, dia langsung berkilah memalingkan wajahnya dari hadapanku tanpa mengucapkan apapun lagi. Dalam keheningan aku masih menatap wajah suamiku dari samping, aku menunggunya untuk bicara tapi sepertinya dia tidak ingin bicara lagi.
"Malam sudah larut waktunya untuk tidur." ucapku memberanikan diri bicara padanya.
Tanpa melihatku lagi Devan mulai melangkah untuk keluar dari kamarku, tapi entah apa yang membawa tanganku tiba-tiba menarik tangan Devan hingga tubuhnya memutar ke hadapanku lalu kontan aku mencium pipi kanannya.
"Cup... selamat malam." kataku setelah menciumnya, lalu saat sadar aku langsung menunduk malu, kesalahan apa yang aku lakukan, kenapa aku sangat berani?
Devan sendiri terpaku dan membisu ada rasa kesal dalam benaknya sambil memegang pipi kanannya yang baru saja aku cium, sampai bekas lipstik ikut menempel di pipinya begitu kuatkah ciumanku? aku bahkan tidak percaya itu, aku berani mencium manusia berhati batu yang sama sekali tidak kucintai.