Devan & Nuri

Devan & Nuri
Salah Paham



"Kenapa bunda hanya diam dan menangis?" Nayla mulai merasa kesal.


Apa yang bisa bunda katakan nak, bunda hanya takut kau marah pada bunda yang sudah merahasiakan kebenaran ini.


Masih menatap lekat bola mata Nayla yang bulat nan indah seperti rembulan.


"Keysa, aku minta tolong kau pergi dari sini!" ujar Nuri mempersilakan Keysa untuk segera pergi.


"Selamat menghadapi badai sendirian, Nur." sindir Keysa berbisik ke telinga Nuri sesaat sebelum berlalu meninggalkan toko Nuri.


"Sayang, bunda bisa jelaskan semuanya nak tapi tolong jangan marah sama bunda." rintih Nuri yang sedang dipunggungi oleh Nayla.


"Jangan belakangi bunda, nak! Berbaliklah dan lihat bunda."


"Sekarang Nayla mengerti kenapa bunda dan ayah Nazmi tidak pernah bersama seperti orang tua teman-teman Nayla, ini sebabnya."


"Bunda sudah memberi Nayla harapan yang besar terhadap ayah Nazmi tapi ternyata selama ini Nayla tinggal dan dibesarkan oleh seorang pembohong."


"Nayla marah sama bunda. Nayla benci bunda." cecar Nayla marah serta kecewa.


"Bunda minta maaf nak, bunda ngaku salah."


"Tolong beri bunda kesempatan untuk menjelaskan padamu kenapa bunda melakukan semua ini."


"Semua sudah jelas bunda jahat sama Nayla, bunda bukan bunda yang baik, jika bunda baik bunda tidak akan memisahkan Nayla dari ayah kandung Nayla."


"Nayla benci bunda."


"Jangan ikuti Nayla biarkan Nayla pergi sendirian."


"Sayang, jangan nak ini sudah malam bahaya."


Ketika Nayla berlari keluar dari toko, Nuri langsung mencari kunci mobil kemudian mengejar putrinya yang pergi dengan menaiki taksi. Meski masih kecil tetapi emosi Nayla sangat besar sangat menurun dari Devan, dan Nuri pun senantiasa mengikuti taksi yang Nayla tumpangi karna seorang ibu tidak bisa membiarkan putrinya keluar sendirian apalagi di malam hari.


Sampai akhirnya taksi tersebut berhenti di depan rumah Nazmi. Nuri melihat Nayla dibawa masuk oleh Nazmi ke dalam rumah sambil digendongnya.


Nuri lega setelah tadi dia berpikir Nayla akan nekat melakukan hal yang tidak diinginkan, tapi setelah melihat putrinya tenang bersama orang yang selalu membuatnya tenang serta bahagia segala kekhawatirannya mulai menyusut.


Kak Nazmi, Nayla bersama kakak kan?


kemudian Nuri menelepon Nazmi untuk memastikan kebenarannya.


Iya Nur, memangnya apa yang terjadi kenapa kau biarkan dia datang sendirian ini malam hari lho Nur dan aku lihat dia nangis-nangis tapi sekarang sudah cukup tenang.


jawab Nazmi dari seberang sana terdengar gusar.


Nayla sudah tahu siapa ayahnya kak


Itu bagus Nur


Tapi dia syok dan marah sama aku kak, dia kecewa karna mempunyai ibu seorang pembohong


Aku sudah menduga kesalahpaham akan Nayla rasakan Nur, kau tenangkan dulu dirimu nanti biar aku yang bicara sama Nayla


Iya, makasih kak aku akan kebingungan jika kakak tidak membantuku


Sudahlah Nur jangan risau.


Nazmi belum mengetahui kalau Devan yang dimaksud ayahnya Nayla adalah Devan teman seprofesinya.


*****


Lain halnya dengan Devan yang terpaksa membawa Keysa datang ke rumahnya. Kedatangan Keysa selalu disambut dengan malas-malasan dan senyum kecut oleh ibu dan ayahnya Devan, begitupun Devan sebenarnya ogah banget dekat-dekat sama Keysa tapi mau bagaimana lagi Devan ingin menunjukkan pada Nuri kalau dia sudah bahagia.


"Pokoknya papa tidak setuju, kayak tidak ada perempuan lain saja." ucap papa.


"Mama sudah bilang sama kamu Dev, mama punya banyak teman dan anak-anak mereka itu jauh lebih baik dari pilihanmu ini."


"Ma, pa, hargai dong pilihan Devan. Devan sudah memikirkan ini berkali-kali makanya Devan berani mengambil keputusan sejauh ini." tutur Devan membujuk.


"Mama tidak menyangka kamu seperti ini."


"Papa bingung sama kamu, Dev."


"Tante, om, Keysa minta maaf jika pernah berbuat salah, dulu Keysa memang jahat tapi sekarang saya sudah benar-benar berubah om, tan." ujar Keysa sambil memasang muka sedih.


"Keysa sudah berubah ma, pa. Devan yakin tidak akan mengecewakan kalian dengan memilih Keysa."


"Apa Devan salah ingin bahagia dengan mempunyai keluarga ma, pa?"


"Ikut mama sebentar, Dev!" mama mengajak Devan naik ke tingkat 2 agar Keysa tidak mendengar pembicaraan singkat mereka.


Lantai 2


"Kau yakin mau nikah sama Keysa?" tanya mama kali ini untuk memastikan perasaan Devan.


"Enggaklah ma."


"Lalu kenapa di depan kamu bela-belain buat nikah sama dia?"


"Devan terpaksa ma, karna Devan mau memperlihatkan sama Nuri kalau Devan bahagia tanpa dia dan Keysa itu bisa membantu Devan."


"Astaga Dev, kenapa kau dendam sama Nuri, anak itu tidak salah apa-apa sama kamu."


"Devan enggak dendam ma, Devan cuma pengin dia melihat kalau bukan dia saja yang bahagia sama suami barunya."


Haha...


tawa sang mama terdengar ditengah-tengah suara Devan.


"Mama kok ketawa?"


"Buat apa kamu bohongin perasaan sendiri anak mama yang bodoh!" mama malah meledek.


"Enggak kok ma kan Devan sudah berusaha buat sama-sama lagi tapi Nuri sudah nolak Devan."


"Lalu bagaimana dengan Nayla cucu mama, apa kamu tetap akan membiarkan Nuri menutupi kebenarannya?"


"Devan harus gimana ma, Nuri keras kepala dia tidak akan membiarkan Devan memberitahu Nayla."


"Sebenarnya mama tahu sesuatu tentang Nuri, Dev."


"Tahu apa ma?"


"Nuri masih mencintaimu nak."


"Mama becanda kan?"


"Mama lihat di matanya masih ada cinta untumu ketika kami bertemu."


"Itukan cuma perasaan mama tapi Devan yang sudah berusaha meyakinkan dia tidak pernah dia menunjukkan perasaannya."


"Mungkin saja anak itu malu-malu."


"Tetapi yang jelas, dia belum mencari pengganti kamu."