Devan & Nuri

Devan & Nuri
Menunda Keberangkatan



"Kita terlambat." kata Albi dengan rasa menyesal


"Kamu bilang ingin mempertemukan aku dengan Devan, di mana Devan sekarang?" Nuri mulai marah-marah merasa sudah dibohongi oleh Albi


"Pesawat yang Devan tumpangi sudah lepas landas sejam yang lalu." tukas Albi baru saja dirinya membaca daftar penumpang yang diberikan oleh petugas


"Sudah lah biarkan saja dia pergi aku juga tidak mau peduli lagi, dia memang sengaja mempermainkan perasaanku juga Nayla."


"Nur jangan pergi dulu aku bakal cari cara buat nyuruh Devan pulang." Albi merentangkan ke dua tangannya di depan Nuri mencegahnya supaya tidak pergi


"Aku tidak perlu bantuan siapa-siapa, jika dia mencintaiku tidak perlu disuruh pun dia tidak akan meninggalkan aku." cetus Nuri sembari menahan amarahnya


Nuri segera meninggalkan bandara dan Albi ditinggal sendirian. Albi hanya mematung upayanya mempertemukan Devan dan Nuri ternyata gagal.


Di dalam mobil Nuri menangis terisak mengingat Devan pada akhirnya memilih pergi. Sementara itu pernikahan dirinya dengan dokter Nazmi terus jadi bahan pembicaraan.


Nazmi tidak memberi jawaban ketika keluarga kedua belah pihak sudah menetapkan waktu dan tempat pernikahan dan memilih permisi untuk pergi keluar, Nuri juga tidak menghadiri pertemuan makan malam itu.


Sebuah mobil yang sedang Devan kendarai di malam hari tiba-tiba dicegat oleh beberapa pria. Wajah mereka tidak asing bagi Devan dan mereka merupakan musuh Devan saat masih SMP.


Devan diminta keluar, jumlah mereka 8 orang dan Devan hanya seorang diri tidak ada pilihan selain menuruti perintah mereka.


"Serahkan semua barang berharga lho." pinta mereka masih dengan cara baik-baik


Devan terpaksa memberikan beberapa barang berharga yang mereka minta termasuk mobil sport 7 miliyar itu. Devan diam saja karna dia selalu ingat bahwa Nuri membenci perkelahian apa lagi sampai ada pertumpahan darah jadi Devan berusaha menahan telapak tangannya mulai memanas untuk memberi pukulan mematikan pada mereka semua.


"Ternyata sekarang lho sangat lemah beda banget saat masih SMP lho selalu memberi kami pukulan, dan lho selalu dibelain oleh guru."


"Sekarang lho sendirian seperti bukan laki-laki ga berdaya sama sekali haha."


Rahang Devan mengeras dan wajahnya merah padam tanpa aba-aba


Gbukkk


Devan memberi mereka pukulan satu persatu.


Devan bertarung sengit menghadapi mereka berdelapan,


Nazmi juga melewati jalan yang dilalui oleh Devan dan melihat perkelahian itu. Nazmi tentu membantu Devan berkelahi dengan para penjahat.


Devan dan Nazmi bersama-sama menumpas penjahat sampai penjahat itu ambruk dan polisi datang untuk menangkap penjahat yang selama ini sudah meresahkan masyarakat.


"Terima kasih atas bantuannya." ucap Devan kemudian akan masuk ke dalam mobil miliknya


"Sebenarnya kamu mau kemana malam-malam begini?"


baru saja Devan ingin menjawab tiba-tiba seorang wanita dari arah belakang Namzi berlari sekuat tenaga dan melabuhkan sebuah pelukkan memeluk Devan begitu erat.


Jantung Devan seperti berhenti berdetak, darah berhenti mengalir tubuhnya membeku beberapa saat Devan hanya mematung, menatap tidak percaya dengan apa yang ia rasakan saat ini, ingin membalas pelukkan ini tapi takut melukai perasaan orang lain yaitu Nazmi jelas-jelas melihat Nuri memeluk dirinya dan begitu mencemaskan dirinya.


Tanpa bicara sepatah kata Devan melepaskan tangan Nuri yang telah memeluknya begitu kencang. Nuri menatap sendu wajah itu.


"Ada darah di lehermu." dan Nuri juga melihat bahwa ada luka cukup besar menggores leher Devan, Devan sendiri bahkan tidak sadar saat perkelahian terjadi ternyata membuatnya luka


"Hanya luka kecil, kamu pulang lah ini sudah malam, Nazmi tolong antar dia pulang." ucap Devan menghindar dari Nuri dan memerintah Nazmi supaya membawanya pulang


Nazmi bisa melihat dan rasakan ke dua mata itu sebenarnya saling memandang satu sama lain namun masih merasa ada batasan yang menghalangi.


"Aku mau mengantarnya pulang setelah lukamu kami obati." ucap Nazmi


"Serahkan padaku, aku yang akan membereskan lukanya, kalian para dokter sudah terbiasa menangani hal seperti ini, kamu yang merasa ada luka duduk lah!" dan Nuri memerintah Devan untuk duduk di atas mobil


Devan hampir merasa gila akibat tingkah laku Nuri di depan dokter Nazmi bahkan berani mendekati dirinya.


Nazmi tidak berani mendekat akhirnya ia memilih menunggu di belakang mobil dengan perasaan berkecamuk Nazmi mengacak-acak kepala pasrah, walau bagaimana pun ia tetap cemburu melihat kedekatan mereka berdua. Nuri bahkan tidak menghadiri makan malam dan tidak mengingat tentang rencana pernikahan dengan dirinya.


"Kamu memang dokter tetapi tidak pandai menjaga dan merawat diri sendiri, kamu perlu suster sepertiku untuk membantu dan memperhatikan kesehatanmu." ucap Nuri masih mengomeli Devan tetapi Devan hanya diam saja dan ia hampir selesai membersihkan lukanya


"Kenapa kamu masih di sini? Albi bilang pesawat yang kamu tumpangi sudah lepas landas."


"Aku sedih saat tau kamu sudah pergi dan tak kembali." lirih Nuri menatap sendu Devan


"O ya sebentar lagi akan menikah aku cuma bisa ucapin selamat ya buat kalian."


"Terima kasih atas ucapannya." jawab Nuri dengan terpaksa


"Kamu belum jawab pertanyaanku, mengapa belum pergi ?" Nuri pun bertanya kembali karna Devan hanya diam saja bila ia tidak banyak bicara


"Aku menunda keberangkatan karna papaku masuk rumah sakit tapi sudahlah jangan banyak nanya aku mau pulang sekarang." Devan segera menjatuhkan tangan Nuri dari lehernya begitu selesai diberi perban


"Om sakit apa sampai masuk rumah sakit, penyakitnya tidak parahkan?"


"Aku bilang jangan bertanya lagi, mengerti!" Devan akhirnya membentak Nuri, dan bangkit dari posisi duduk lalu menghampiri Nazmi yang mengasingkan diri di belakang mobilnya.