Devan & Nuri

Devan & Nuri
Pembalasan Untuk Keysa



Plakkk!!!


Tamparan keras langsung mendarat di pipi mulus itu. Keysa terkesiap kaget, matanya memerah masih tak menyangka akan mendapat tamparan sekeras itu.


"Kamu yang sengaja membuatku dituduh sebagai pencuri, membuat tempat mana pun tidak mau menerimaku bekerja sampai aku menceraikan Nuri ketika dia mengandung."


"Hebat! Hebat!" Devan menepuk tangan sambil menatap Keysa bengis penuh dendam.


"Dari awal aku sudah ragu padamu, akhirnya terjawab keraguanku kalau kamu memang penjahat yang sesungguhnya. Musuh dalam selimut."


"Devan, a-aku bisa jelaskan. Apa yang kamu dengar tadi hanya salah paham." tutur Keysa sambil meyakinkan Devan agar Devan tidak marah-marah. Amarah terlanjur menyelimuti hati Devan. Marah sangat marah karna terlambat mengetahui orang yang sudah menghancurkan rumah tangganya.


Mendorong Keysa ke dinding, mencengkram sekaligus melipat tangan Keysa hingga wanita itu kesakitan.


"Aku minta maaf Dev. Semua ku lakukan karna aku benci kamu berpaling dariku dan lebih memilih mempertahankan Nuri."


Sorot mata Devan menjadi tajam menatap mata Keysa yang banyak kepalsuan. Semakin Keysa banyak bicara semakin Devan kuat-kuat memutar serta melipat tangan Keysa. Dada Keysa terasa sesak merasakan sakit di tubuhnya karna terbentur ke dinding tapi justru membuat Devan puas menyakitinya.


"Memangnya apa kelebihan Nuri dibanding aku, jika kamu mau aku bisa memberimu kepuasan yang lebih. Aku jauh lebih menarik dan terpandang."


"Aku tahu cintamu masih sama besarnya terhadapku seperti saat kita pacaran dulu. Lupakan saja Nuri, pilihlah aku yang sudah jelas mencintaimu dari dulu sampai detik ini."


"Tutup mulut Keysa! Kita tidak pernah menjalin hubungan apa-apa, kita hanya teman tapi kamu yang selalu berusaha merayuku. Aku tidak pernah menaruh hati padamu saat itu aku hanya ingin membuat Nuri patah hati tapi bukan berarti aku suka padamu."


Lagi-lagi Devan memutar tangan Keysa kebelakang hingga tulangnya ikut meletup.


"Sakit Dev. Lepaskan!"


"Rasa sakitku lebih dari ini."


Keysa tak bisa berkutik apa-apa lagi sampai untuk bergerak dia ketakutan.


"Aku bisa lebih jahat darimu jika melihat orang-orang yang kusayang disakiti. Membunuhmu pun aku tidak ragu."


"Ampun Dev! Jangan tembakkan pistol itu, aku masih ingin bernafas." lirih Keysa sambil mengangkat kedua tangannya pertanda dia menyerah.


"Minta maaf pada Nuri jika kamu masih ingin hidup." Titah Devan tapi terdengar berat bagi Keysa untuk menjalankannya.


"Aku tidak mau, aku tidak akan mengganggu mereka tapi jangan suruh aku minta maaf padanya. Martabatku bisa jatuh." sempat berusaha mengelak. Geram mendengar penolakkan Devan menembakkan pistol itu ke dinding membuat Keysa hampir jantungan.


"Berani sekali kamu menolak, lihatkan hanya beberapa centi kepalamu hampir kena tapi aku sengaja membiarkanmu hidup karna kamu masih punya dosa pada Nuri." ujar Devan dengan gelagat bak seorang mafia kejam yang tanpa ampun akan menghabisi tawanannya dengan tangannya sendiri.


"Baik-baik aku akan minta maaf tapi beri aku kesempatan untuk tetap hidup, jangan sakiti aku jangan bunuh aku."


"Kapan kamu akan menemui Nuri untuk minta maaf?"


"Be-besok, aku akan menemuinya."


"Bagus! Orang-orangku akan terus memantau dari jauh, jika kamu ketahuan berbohong dan masih menyakitinya maka peluru ini akan tepat sasaran mengenai kepalamu."


Keysa hanya mengangguk pelan sekali meski dalam hati menyimpan banyak kekesalan. Devan langsung memasukkan pistolnya ke dalam kantong jass.


"Satu lagi yang harus kamu tahu Nuri adalah bidadari tak bersayap yang harus ku jaga dan aku cinta hanya dengan caraku sendiri. Kamu tidak perlu membandingkan dirimu dengannya karna secara akal pun Nuri jelas bermartabat serta terhormat."


Suasana hening


Dengan santainya Devan berjalan keluar dari kamar apartement Keysa. Seperti baru saja tidak terjadi apa-apa di dalam, Devan menghubungi Albi.