Devan & Nuri

Devan & Nuri
Krisis Ekonomi



"Kenapa lama sekali?" gerutu Nuri setelah Devan masuk ke dalam rumah, Nuri sudah menunggunya di depan pintu.


"Motorku bocor, aku harus membawanya ke bengkel, maaf ya aku telat." jawab Devan mengatupkan tangannya.


"Bagaimana mungkin motormu bocor, memangnya kau pergi ke warung yang mana?"


"Di sana di warung gang sebelah." jelas Devan.


"Ya ampun kau kenapa Dev, kenapa jauh sekali memangnya warung yang dekat rumah Pak Rt tutup ya sampai kau harus jauh-jauh ke sana." kata Nuri sambil menepuk jidatnya.


"A-anu, anu, i-itu anu..." ucap Devan gugup.


"Anu apa Dev?" Nuri menatap kesal tingkah suaminya


"Banyak ibu-ibu nongkrong di warung itu makanya aku cari warung yang sepi tongkrongan."


"Ya Allah, kau membuat kepalaku tambah pusing." dengus Nuri.


"Aku minta maaf."


"Ya sudah sini berikan belanjaannya dan kembalikan sisa uangnya."


Nuri mengambil belanjaan dari tangan Devan kemudian Devan merongoh saku celananya mengambil uang sisa belanja.


"Nuri, a-aku minta maaf, uangnya tinggal segini aku pakai untuk biaya motor." ucap Devan sambil mengunjukkan uang yang hanya bersisa Rp. 30.000.


Nuri hanya bisa menghela nafas berat, sambil menggelengkan kepala walau hatinya merasa sangat kesal.


Dengan wajah kesal dan cemberut Nuri meninggalkan Devan di ruang tamu menuju dapur untuk merebus mie tapi Devan berpikir Nuri sedang marah kepadanya.


Devan ternyata masih saja suka mengikuti Nuri dari belakang, karna kali ini dia tidak ingin membuat Nuri marah, sedih, ataupun kesal.


"Aku mohon maafkan aku, aku janji akan mengganti uangmu."


Devan berusaha membujuk Nuri, sementara Nuri kesal karna Devan menghalangi jalannya untuk mengambil panci dan mangkok.


"Minggir Dev." suara parau Nuri tanpa mau melihat wajah Devan. Devan masih keras kepala tetap saja menghalangi jalan Nuri.


"Aku tau kau marah padaku karna aku sudah menghambiskan uangmu." kata Devan dan dia terkejut saat Nuri mendorong tubuhnya ke samping.


Nuri tidak mengatakan apapun padanya, Nuri hanya mengambil panci dan mangkok setelah itu melewati Devan begitu saja sementara Devan terlena menatapnya dari belakang.


"Hm, biar aku yang memasaknya, kau duduk saja di sana." Devan masih berusaha membujuk Nuri dengan mengambil alih panci beserta mie dari tangan Nuri tapi Nuri merebutnya kembali dengan sedikit tegas.


"Tidak perlu!" ketus Nuri dengan memicingkan mata.


"Aku janji akan mengganti uangmu, tapi setelah kakak kirim uang." ucap Devan, setelah mendengarnya Nuri hanya bisa menggeleng sambil mendengus kesal.


"Aku tahu kau kesal kepadaku, katakan dengan cara apa aku harus menebusnya?" tanya Devan yang sama sekali tidak mengerti kalau kompornya tidak menyala itu disebabkan oleh habisnya gas di dalam tabung.


"Gasnya habis, kita akan kelaparan." kata Nuri gelisah.


"Heh kenapa kau bicara kita akan kelaparan, aku bertanya kepadamu bagaimana aku harus menebus kesalahanku, kau tidak ingin aku mengganti uangmu, maumu sebenarnya apa?"


"Dev, gasnya habis kompor tidak akan menyala dan aku tidak bisa masak sekarang." ucap Nuri.


"Benarkah?" Devan terkejut, dia langsung mencoba menyalakan kompor dan sekarang mereka benar-benar akan kelaparan.


"Kita harus mengisi tabungnya." kata Devan.


"Uang dari mana Dev, aku tidak punya uang, apa kau punya uang?"


"Aku juga tidak punya." jawab Devan mengumpatkan suaranya.


Nuri mendadak lesu, bingung harus mendapatkan uang dari mana kemudian dia menenangkan diri dengan duduk di kursi sambil berpangkung tangan. Devan perlahan mendekatinya dan duduk di kursi belakang Nuri.


"Aku minta maaf, kau harus mengalami ini semua." rintih Devan sambil berusaha menjangkau bahu Nuri tapi dia merasa tidak sanggup untuk menyentuh bahu Nuri.


"Dev, aku sama sekali tidak marah kepadamu, tapi aku hanya..."


"Tapi apa? ayo katakan padaku!"


"Dev, kita bahkan tidak mampu mengisi tabung gas, kita tidak bisa membeli keperluan dapur, sedangkan itu kebutuhan kita sehari-hari. Sampai kapan kita terus bergantung kepada kakak Dev, aku malu sama kak Hessel." ucap Nuri berlinang air mata, dan suara isak tangisnya terdengar jelas di telinga Devan.


"Kenapa kita harus malu, kak Hessel itu kakakku sementara kak Nana itu kakakmu, kita tidak perlu malu." kata Devan tanpa rasa bersalah.


"Sebagai seorang istri aku malu, aku punya suami tapi masih saja orang lain yang menafkahi hidupku dan suamiku, aku sangat malu." menangis dengan menutup wajah dengan kedua tangannya. Sedangkan Devan di belakang menggaruk-garuk kepala kebingungan.


"Uangku sudah habis Dev, besok, lusa dan seterusnya kita mau makan apa? uang 30.000 bahkan tidak cukup untuk sehari. Aku tidak bekerja bagaimana aku bisa mendapatku uang untuk kita? kita jauh dari orang tua, keluarga, bahkan suamiku sendiri tidak bekerja." ucap Nuri dengan posisi yang masih membelakangi Devan.


"Baiklah aku akan menelepon kakak, aku beritahu mereka supaya mengirimkan uangnya lebih cepat." kata Devan dengan ide yang dianggapnya cemerlang tapi Nuri menegaskan suaranya.


"Dev, apa kau tidak merasa malu sedikitpun? kakak punya keluarga sendiri begitupun kita, kenapa kita harus membebani mereka Dev? meskipun usiamu masih muda tapi sekarang kau sudah menjadi kepala keluarga, sebagai seorang pemimpin kau berkewajiban menghidupi rakyatmu." ucap Nuri tegas sambil menghapus air matanya sendiri.


Mendengar kata-kata Nuri membuat Devan tidak mampu berkutik sambil menelan pahit salivanya. Dia bagai mendapat tamparan keras yang tidak berbekas di wajah melainkan di hati.


"Aku akan mencari pekerjaan, paling tidak sambil menunggu transferan dari kakak." ucap Nuri beranjak dari tempat duduknya tanpa menoleh ke arah Devan yang berdiri di sampingnya, kemudian berlalu masuk ke kamar dengan sisa air mata di peluk matanya.


Devan masih di dapur. Devan memikirkan cara bagaimana bisa merebus mie tanpa harus menggunakan kompor. Sebelumnya Devan tidak pernah mengonsumsi mie instan, tapi ternyata dia juga bisa menemukan ide.


Dia mengambil air panas dari dalam termos lalu merendam dua bungkus mie ke dalam mangkuk yang akan dia bagi untuk Nuri juga. Sambil menunggu mienya agak mengembang, Devan mulai memikirkan cara untuk mendapatkan uang, tetapi dia bingung mengingat hanya memiliki ijazah SMP.