
Nayla menelepon bundanya melalui ponsel Nazmi. Selama menginap di rumah ayah Nazmi, Nayla selalu dibawa oleh Nazmi ke rumah sakit. Nayla menjadi pusat perhatian pengunjung rumah sakit, wajahnya yang manis dan baik hati membuat orang sekitar tersentuh.
"Permen ini untuk nenek, semoga nenek cepat sembuh ya setelah minum obat dari Nay." Nayla menemui seorang nenek yang terbaring lemah, saat Nazmi selesai mengecek pasiennya Nayla langsung memberikan permen itu dengan penuh ketulusan.
"Terima kasih cu, Pak Dokter putri Anda sangat mulia." ujar si nenek. Nazmi tersenyum dan membelai kepala Nayla.
"Pak, kenapa Anda membawa anak saat sedang bertugas apa istri bapak sudah tidak ada?" tanya si nenek karna sudah beberapa hari dia melihat Nayla berkeliaran di rumah sakit.
"Ibunya sedang bekerja, Nyonya makanya dia ikut bersama saya." jawab Nazmi.
"Nyonya, kami permisi dulu. Nyonya banyak-banyaklah beristirahat dulu." Setelah berpamitan Nazmi segera menggendong Nayla mengajaknya keluar. Entah kenapa Nazmi merasa sedih saat mengingat statusnya dengan Nuri, semua orang tahu Nayla adalah putrinya tapi mereka tidak tahu kenyataan yang terjadi begitu pun si polos Nayla, sedari bayi dia hanya tahu wajah Nazmi dan yang mempunyai wajah itulah ayahnya.
"Ayah setelah ini kita ke ruang mana lagi?"
"Sudah waktunya makan siang Nak, Nay suka kan ayah ajak kemari?"
"Suka! Nay senang ikut sama ayah, apalagi jika bunda mau ikut sama kita barulah keluarga Nay akan terasa lengkap."
"Hm, tapi bundamu juga sibuk kerja Nak nanti jika sudah punya waktu luang baru kita sama-sama."
"Iya Yah. Telepon bunda ya, Yah! Nay kangen sama bunda."
Sampai di kantin rumah sakit, Nayla segera menghubungi bundanya.
"Bunda lagi apa? bunda udah makan siang belum?"
Bunda masih di toko nak, Nay sedang apa?
"Nay lagi sama ayah bun, ayah mengenalkan Nay di dunia kedokteran sekarang Nay tahu bagaimana melayani pasien dengan baik. Bunda mau bicara sama ayah?"
Tidak usah nak, nanti kalau ketemu ayah bunda akan bicara dengannya. Nazmi tahu diri dan merasa akhir-akhiri ini Nuri memang sedang menghindar darinya, tetapi begitulah Nazmi tidak suka memaksa kehendak orang lain.
Bunda tutup teleponnya ya nak.
"Dah bunda! Jangan lupa shalat dan makan siang bunda."
***
Nazmi mengajak Nayla ke toko buku, tapi saat sedang memilah buku tangan Nazmi malah terlepas dari Nayla. Nazmi panik saat menyadari Nayla tidak bersamanya sehingga dia mencari Nayla. Gedung yang bertingkat menyulitkan Nazmi untuk menemukan Nayla. Sedangkan Nayla sedang ketakutan dan menangis mencari ayahnya, Nayla menghimpitkan diri di balik rak buku meringkuk di sana sambil menangis memanggil ayahnya. Nayla ketakutan, takut akan diculik oleh orang asing Nayla juga belum terbiasa berada dikeramaian.
Devan juga berada di sana, dia juga sedang mencari buku ilmu ke dokteran meski sudah menjadi dokter hebat tetapi bukan berarti dia tak memerlukan buku lagi, karna ilmu itu luas dan tidak akan ada habisnya. Devan kebetulan mendengar suara anak kecil sedang menangis, sementara orang sekitar sama sekali tidak memperdulikan suara itu. Devan segera mencari sumber suara dan berhasil menemukan Nayla.
"Nak, kenapa kamu di sini?"
Devan terkejut melihat putrinya menangis berada sendirian di keramaian tetapi dia tidak bisa mengatakan pada Nayla bahwa dia adalah ayahnya. Devan juga sedikit geram Nuri sangat teledor menjaga putri mereka.
Nayla sontak masuk ke dalam pelukkan Devan dan melanjutkan tangisannya. Devan bahagia sekali dapat memeluk putrinya lagi.
"Om, Nay tidak tahu sekarang ada di mana, Nay tersesat, Nay takut."
"Tenang Nak sekarang om bersamamu, dimana ibu nak?"
"Nay kemari bersama ayah, om."
Ayah?
"Tangan Nay terlepas dari ayah mungkin ayah masih di sini mencari Nay."
"Baiklah Nay ikut om ya, kita cari ayah Nay."
Baru saja mereka beranjak dari situ saat menaiki eskalator Nayla sudah melihat kebaradaan ayahnya.
"Om, itu ayah Nay. Sepertinya ayah sangat cemas, ayo ke sana om." sambil menarik-narik kemeja Devan. Nayla bagai tak sabar untuk bertemu ayahnya.
"Itu ayahmu, Nak?"
Sepertinya aku kenal laki-laki itu tapi siapa?
Betapa kagetnya Devan ketika sudah berhadapan dengan laki-laki yang ditunjuk oleh Nayla, Devan tak menyangka dokter Nazmi yang sudah seperti temannya ternyata ayah tiri anaknya.
"Ayah ini om Devan, dan ini ayahku om." kata Nayla. Devan tersenyum kecil bagaimana mungkin bisa terjadi, orang yang sudah dianggapnya teman ternyata juga suami dari orang tercintanya.
"Dokter Devan, bagaimana dokter bisa bertemu anak saya?" tanya Nazmi, dia langsung menggendong Nayla dan mencium keningnya barulah Nazmi merasa tenang.
"Jadi ini putri dokter?" tanya Devan ragu.
"Iya dok." jawab Nazmi seperlunya. Devan langsung terdiam nyaris menjatuhkan air mata, tapi jika dia menangis mungkin akan membuat Nazmi curiga jadi lebih baik hatinya yang menangis agar tak ada orang yang tahu.
Ternyata benar Nuri sudah menikah lagi, betapa beruntungnya dia mendapatkan suami seperti dokter Nazmi yang mau berlapang dada menerima mereka dengan tulus, sementara aku ayah dari Nayla malah meninggalkan istri dan anakku bahkan dia sangat mencemaskan putriku.
"Tadi saya menemukannya di lantai bawah." jelas Devan.
"Terima kasih banyak dokter Devan, untunglah dokter yang menemukannya, saya sangat takut kehilangan dia."
"Hm... Kalau gitu saya ke atas dulu, jaga putrimu baik-baik kawan." tutur Devan sembari permisi, betapa perihnya hati Devan saat putrinya memanggil orang lain dengan sebutan ayah sementara dirinya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengakui dirinya sebagai ayah rasanya sudah tidak pantas.
Tanpa terasa air mata Devan menetes begitu saja hanya bisa melihat putrinya dari kejauhan sedang berada di pelukkan orang lain, dan melihat mereka tertawa bersama.
Andai aku bisa memberitahu bahwa aku lah ayahmu Nak, apa kau bisa menerimaku sebagai ayah, aku telah berdosa meninggalkan kau dan ibu, maafkan aku, nak. Tapi aku ingin sekali mendengarmu memanggilku ayah walau hanya sekali, pantaskah aku mendapat pengakuannya, Ya Allah?
***
Beberapa hari kemudian, Nuri memaksakan diri datang ke rumah sakit tempat Devan bekerja. Nuri merasa bersalah karna kemarin telah menolak Devan secara kasar, karna terbawa emosi makanya Nuri acuh tak acuh.
"Dokter Devan ada, sus?" tanya Nuri.
"Sudah beberapa hari dokter tidak masuk, nona."
"Kira-kira kenapa ya sus?"
"Tidak tahu nona, beliau tidak memberi konfirmasi apapun ketika ditanya pihak rumah sakit."
"Terima kasih sus, kalau gitu saya pulang dulu nanti jika sudah ada kabar tolong hubungi saya, ini nomor telepon saya sus."
"Baik nona."
Nuri pun keluar dari rumah sakit tanpa mendapatkan apa yang ingin di dapatkannya. Devan hanya bisa berdiri melihat dari ketinggian Nuri sedang merasa kecewa karna tidak berhasil bertemu dirinya. Devan sengaja meminta suster tadi merahasiakan keberadaannya, Devan sudah tak ingin lagi mengharapkan apa yang seharusnya tidak di harapkan.
"Maafkan aku Nur, setelah aku tahu kamu sudah menjadi milik orang lain aku sudah memutuskan untuk mundur. Aku tidak mungkin merusak rumah tangga yang sudah kau bangun bertahun-tahun, sekarang aku bisa merasakan kau dan Nayla bahagia bersama Nazmi hanya dia yang pantas untuk membahagiakan kalian." Devan hanya bisa menunduk menyesal karna telah menyia-nyiakan istri dan anaknya.