
Azan subuh berkumandang. Devan langsung bangkit setelah bangun lalu mengambil wudhu melaksanakan ibadah shalat subuh yang sudah menjadi rutinitas semua umat muslim. Selesai shalat kemudian dia berdoa dalam hati, hanya percakapan antara dia dan Tuhannya yang tahu. Berdoa selesai, Devan merapikan tempat tidurnya setelah itu dia akan berolahraga pagi.
"Devan, ada telepon untukmu." Mama datang ke kamar Devan.
"Dari siapa Ma?" tanya Devan memastikan, dia tidak mau mengangkat telepon jika orangnya tidak penting.
"Dari Nuri, cepat jawab." Mama menyodorkan ponselnya ke arah Devan sambil senyum senang. Devan juga ikut senyum dan buru-buru mengangkatnya.
"Halo Nur, ada gerangan apa subuh-subuh menelepon? Kamu sama Nayla baik-baik sajakan?" tanya Devan sempat berpikir mungkin Nuri sedang tidak enak badan sehingga memerlukan tenaganya.
Kami baik-baik aja kok. Dev, kamu sibuk enggak pagi ini?
jawab Nuri dari sebrang sana di telepon.
"Pagi ini ada jadwal operasi sih mungkin agak siangan udah selesai, ada apa Nur?"
"Kangen ya sama aku? hhh." sambil cekikikan dekat Mama.
"Becanda kok Nur, jangan masukin ke hati." sambung Devan berharap Nuri tidak berkecil hati.
Enggak kok Dev. Sebenarnya pagi ini Nayla ada lomba hafis Qur'an di sekolahnya, aku kira kamu bisa datang tapi jangan khawatir Nayla pasti ngerti kok.
"Kamu mengundangku datang Nur, memangnya boleh?"
Nayla yang ingin kamu datang, lagipula aku kan sudah izinin kamu buat ketemu Nayla tapi mau gimana lagi lain kali aja setelah kamu ada waktu.
"Oh begitu Nur, nanti kalau sempat aku sempat-sempatin deh buat datang." jawab Devan tapi terasa mengecewakan bagi Nuri. Kemudian Nuri menutup telepon, Devan juga tidak memberinya kepastian. Devan sendiri bingung dihari dan waktu yang sama ada 2 orang yang memerlukannya, pasiennya di rumah sakit dan anaknya di sekolah. Harusnya hari ini Devan bertemu Nayla selagi ada kesempatan.
"Nuri bilang apa, Van?" tanya Mama penasaran, Devan kadang-kadang tersenyum tapi kadang keningnya mengkerut kayak orang banyak pikiran.
"Wah bagus dong kalau gitu, Mama juga mau ke sana diam-diam buat liat Nayla, Mama mau ambil gambarnya saat dia tampil dan bertemu kamu."
"Harusnya begitu Ma, Devan bertemu Nayla, tapi pagi ini ada jadwal operasi syaraf otak yang memakan banyak waktu, Devan takut enggak sempat lihat Nayla tampil Ma."
"Hmm." Mama pasrah
"Giliran udah mau ketemu ada aja halangannya Van, Mama enggak bisa bayangin gimana kecewanya Nayla jika tahu Papanya enggak bisa datang." ucap Mama sambil berjalan keluar. Devan terduduk di kamar sambil memikirkan beberapa cara agar bisa bertemu Nayla.
Ada handphonenya di atas meja, membuka buku kontak yang ada di handphone. Devan berniat menekan salah satu nomor rekan kerjanya tapi tiba-tiba dia urungkan niatnya. Kemudian Devan malah berolahraga di ruang gym khusus dalam salah satu ruangan di rumahnya.
Setelah membugarkan tubuhnya, Devan pergi ke kamar mengambil handuk dan mandi dengan air hangat. Selesai mandi Devan berkemas tak lupa memakai seragam kedokterannya, lalu bergegas berangkat ke rumah sakit di pukul 6.30.
Devan pergi ke ruang penjadwalan melihat-lihat daftar nama yang terjadwal akan melakukan operasi. Salah satu temannya lewat, Devan langsung memanggilnya.
"Dokter Willy, bisa bantu saya enggak?"
"Kenapa Dokter Devan?"
"Gantiin saya bertugas pagi ini, saya mohon Dok kali ini aja. Saya ada keperluan penting diluar tugas saya."
"Kita semuakan sudah punya tugas masing-masing Dok, saya enggak bisa bantu maaf ya Dok."
"Atau gini aja Dok, kita tukar shif gimana?"
"Enggak bisa saya Dok, kalau saya di shif pagi saya enggak bisa datang dong ke perlombaan anak saya."
"Ya sudah Dok kalau gitu." Devan sedih tak ada satu pun rekan-rekannya yang mau mengerti posisinya.