
Tok tok tok
"Masuk!" sahut Nuri dari dalam ruangannya.
"Nona, di luar ada orang ingin bertemu Nona." ucap karyawan Nuri.
"Siapa?"
"Tidak tahu Nona."
"Oh. Suruh dia masuk."
"Baik Nona."
Setelah membungkuk, karyawan Nuri memanggil tamu yang tadi dia maksud. Tamu itu pun di persilakan memasuki ruangan tempat Nuri bekerja.
"Silakan duduk dulu." ucap Nuri tanpa melihat tamunya karna dia sedang mengetik sesuatu lalu dia akhiri sebelum tamunya berfikir tindakannya tidaklah sopan.
Nuri terkejut ketika melihat wajah tamu yang datang. Sampai membuatnya menjatuhkan gelas berisi kopi yang hendak di seruputnya.
"Devaaan..." lirihnya terkejut.
Devan berdiri tegap melihat Nuri yang tepat berada di depannya. Tampangnya sedikit sangar tapi perasaannya sulit menahan rindu yang terpendam sekian lama. Nuri bangkit dan berdiri dengan berani menghadap Devan.
"Apa maksud semua ini?" cetus Nuri.
Devan maju selangkah dan mencoba menggapai lengan Nuri, satu sentuhan pun Nuri tidak akan memberikannya. Devan tidak berhak lagi atas dirinya karna mereka sudah lama berpisah.
"Untuk apa kau kemari? Setelah sekian lama kau menghilang tanpa kabar." Nuri marah meninggikan suaranya tetapi Devan masih diam mendengarkan semua ocehan-ocehannya. Devan paham betul, Nuri sangatlah menderita juga terkejut saat dia muncul tiba-tiba di depan Nuri.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil putriku. Kau tidak berhak atas dia karna kau tidak menginginkannya." Nuri berteriak lagi memaki Devan.
Ini hanyalah kesalah pahaman. Nuri hanya tahu Devan tidak peduli pada mereka namun dia tidak tahu seperti apa perjuangan Devan selama 7 tahun ini sampai membawanya bisa menjadi orang yang sukses, tentunya sudah bisa menafkahi anak dan istri jika mereka menikah.
"Aku bisa jelaskan Nur." tutur Devan lemah lembut.
"Stop! Aku tidak mau mendengar apapun alasanmu itu. Jangan menyentuhku." Bentak Nuri semakin geram.
Devan mengabaikan amarah Nuri, malah berjalan maju dan terus maju sementara Nuri berjalan mundur dengan tubuh gemetar. Nuri sampai terhenyak di atas kursi putarnya karna takut mendapat perlawanan dari Devan. Devan merunduk memegang pegangan kursi sambil menatap mata Nuri. Nuri gerah dan kepanasan, Devan telah mengunci separuh tubuhnya dalam posisi ini. Jantungnya berdegup tak beraturan, namun berusaha ditutupi dengan rasa bencinya. Devan merasakan hal yang sama, dia senang bisa melihat wajah Nuri sangat dekat.
"Apa maumu, hah?" ketus Nuri.
"Bagaimana aku bisa bicara jika kau tidak memberiku kesempatan untuk ngomong." ucap Devan. Nuri sempat terlena saat mata itu kembali bertemu, dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Aku datang untuk menjemputmu dan anak kita." Devan melanjutkan kalimatnya berbisik mesra di telinga Nuri.
Hah!!!
Suara keras Nuri menginjak kaki Devan membuat Devan terkejut hingga dia berdiri tegap kembali. Nuri masih dalam posisi duduk di kursinya dengan sikap dibuat-buat agar terlihat dingin dan berani.
"Kemana saja kau selama ini? Kau ingin kami kembali padamu? Kau pikir itu akan terjadi, tidak akan terjadi." jawab Nuri.
"Apa kau tidak merindukan aku?" tanya Devan dengan percaya dirinya.
"Rindu? Tentu saja tidak. Haha aneh." cengir Nuri balik menertawakannya.
"Ok tidak akan membahas tentangmu. Emm. Di mana putriku?" tanya Devan mencari bahan pembicaraan lain.
"Putrimu? Hei dia anakku, aku mengandung selama 9 bulan, aku membesarkannya seorang diri."
"Tapi kan aku juga berperan andil hingga terwujudlah dia."
"Hmm. Peran apa ya? Perasaan kau menghilang sekian lama."
"Aku yang membuatnya, ups! Maksudku dulu kita berdua." kata Devan dengan nyaring dan bangga. Nuri ingin sekali menutup rapat-rapat kupingnya, Devan sangat memalukan.
"Dengar ya, aku tidak akan biarkan kau mengambilnya dariku. Hak asuh anak pastilah berada di tanganku, jika kau maksa merebutnya maka pengadilan akan menghukummu." ancam Nuri.
Hahaha
"Kau pikir aku akan mengambilnya darimu? Sorry, aku tidak sejahat itu." kata Devan sambil tertawa centil.
"Lalu apa tujuanmu jika bukan untuk merebutnya dariku?"
"Aku sudah bilang tadikan, aku mau tittit."
"Apaan tittit? percuma kau diberi mulut tapi tidak digunakan dengan benar."
"Maksudnya, aku kamu jadi kita, ya mau ya!" kata Devan sembari mengembangkan senyumnya.
"Aish! Tidak." bantah Nuri cemberut.
Dia menyebalkan sekali. Sekian tahun menghilang setelah kembali bukannya minta maaf tapi malah menjadi-jadi. Enak saja main minta balikkan, dia pikir semudah itu mentang-mentang penampilannya sudah seperti orang sukses sekarang.
"Baiklah jika kau mendiamiku, aku hanya akan memberikan alamatku bekerja."
"Jika kau sakit entah sakit hati, sakit karna rindu semua segala penyakit datang saja ke rumah sakit ini. Aku akan melayani dengan segenap jiwaku." sembari mengedipkan sebelah mata dan meletakkan kartu nama rumah sakit. Nuri langsung bisa menebak, Devan kini adalah seorang dokter.
"Kau menyumpahiku jadi penyakitan, begitukah?" darah Nuri naik pitam.
"Bu-bukan begitu Bu Nuri yang terhomat. Bisakah turunkan suara Anda jangan sampai Anda hipertensi." kata Devan dengan nada pelan.
"Asli seorang dokter dong." jawab Devan santai.
"Haha. Kau dan rumah sakit? sangat tidak masuk akal." Nuri kemudian tertawa.
"Lihatlah penampilanmu, aku pikir kau rentenir." kemudian Nuri mengejeknya.
"Jadi rentenir pun bisa ku lakukan, rentenir cinta. Aku akan menagih setiap cintamu." Devan malah menanggapinya dengan candaan yang membuat Nuri semakin geram.
"Makan itu cinta sampai kenyang." bantah Nuri.
"Sebelum predator mendapat mangsanya mana bisa dia kenyang." cengir Devan membuat Nuri memelototinya, senyum Devan justru membuat Nuri kesal.
"Pak Dokter yang terhomat silakan Anda keluar! Saya tidak menerima gombalan apapun dari seorang tamu." Nuri menegaskan suaranya.
"Bu Nuri yang arogan, apa kau tidak tahu caranya melayani tamu?" tetapi Devan menanggapinya sebagai candaan.
"Kau hanya tamu bersikaplah layaknya tamu pada umumnya."
"Biar aku ajarkan caranya melayani tamu dengan benar." Devan mendekatinya dengan tatapan membius mendekatkan tubuhnya.
"Kau mau apa, hah?" Nuri kembali gemetar membayangkan akan terjadi sesuatu.
"Jangan berpikir aneh-aneh." Devan selalu bisa menebak pikiran kotornya jadi Devan berbelok sedikit untuk membuat Nuri malu sendiri karna pemikirannya itu.
Devan duduk dengan santai di atas meja kerja Nuri. Dia mengambil dengan asalan pulpen dan buku lalu menulis namanya di sampul buku tersebut.
"Hei. Apa yang kau lakukan? Itu buku jurnalku." pekik Nuri sembari menjangkaunya. Percuma Nuri mengambilnya, Devan sudah menstempel namanya di sana.
Aaaa
"Anda sudah kurangajar pada saya. Siapa Anda berani sekali mengganggu saya." Nuri menggerutu justru itu membuat Devan tersenyum.
"Malah senyum. Saya tidak mau tahu perbaiki bukunya, nama Anda ini sangat buruk merusak sampul jurnal saya." imbuh Nuri jengkel.
"Bu Nuri, orang tua saya susah payah memberikan nama yang terbaik untuk saya tapi dengan mudahnya Anda mengatainya buruk."
"Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus perbaiki jurnal ini karna pegawai saya yang akan memegangnya."
"Jika saya tidak mau, bagaimana?"
"Aku akan menindasmu."
"Ow! Aku jadi teringat saat kau melemparku dengan gayung waktu membersihkan toilet SMP."
"Aku sudah lupa." jawab Nuri cuek.
"Kenapa masih di sini? cepat perbaiki." Nuri bertambah kesal.
"Tidak mau." Devan tetap ngeyel.
"Baiklah silakan Anda keluar saja." pintanya dengan tegas.
"Tidak mau juga." lagi-lagi Devan menggoyangkan tubuhnya. Sikap ngeyelnya menampah kekesalan dalam diri Nuri.
"Mau Anda apa, hah?" menampar meja di depannya.
"Menikah." Devan dengan santai menjawab namun tetap serius.
"Menikah saja sana tidak ada urusannya denganku. Kau sudah kaya bukan? kau bisa mendapatkan semua wanita yang kau mau."
"Tidak. Aku hanya mau denganmu." bisik Devan.
"No way! Anda harus pergi dari sini. Banyak wanita di luar sana tidak harus dengan saya. Saya tidak mau. Are you understand?"
Nuri mengusir Devan dari ruangannya. Devan menolak dan menahan pintu yang akan Nuri tutup. Devan sigap mengambil alih pegangan pintu dan bermaksud mengunci pintu tersebut tetapi justru membuat baju Nuri terjepit pintu tanpa mereka sadari. Saat Nuri berjalan maju menyebabkannya koyak hingga terlihat ke pangkal pahanya. Seketika melihat itu, Devan langsung berputar membelakanginya.
Nuri berusaha melindunginya dan menarik bajunya yang sudah terlanjur koyak dan sekarang dia berada berdua dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Sebenarnya tujuan Devan datang bertemu Nuri untuk menjelaskan serta meminta maaf tetapi pertengkaran kecil mereka sepertinya tidak bisa terhindarkan.
"Apa kau masih tidak bisa berubah? Kau pasti punya niat kotorkan?" Nuri berpikir demikian sembari menyembunyikan bagian yang terlihat.
"Nur, aku, aku tidak bermaksud begitu. Nuri aku minta maaf ini tidak seperti yang kau bayangkan." Devan juga tahu dengan memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Pergilah! Kali ini kau tidak akan bisa menodaiku. Kau itu masih sama tidak akan pernah berubah." Nuri sangat menyesali yang telah terjadi.
"Aku akan pergi. Tetapi kau pakailah ini untuk menutupi auratmu yang terlihat agar karyawanmu tidak salah paham." suara Devan begitu halus.
Devan menyerahkan bantuan dengan memberikan jass bajunya kepada Nuri. Tetapi Nuri menolak bantuannya, Devan tidak memaksanya mungkin Nuri masih membenci dirinya dan berpikir memiliki niat yang jahat.
"Aku memerlukannya." ucap Nuri saat Devan hendak membuka pintu.
Devan pun tersenyum dan melangkah mundur agar aurat Nuri tidak terlihat oleh matanya, dia menyerahkan jassnya dan Nuri meraihnya dengan ragu-ragu. Setelah itu, Devan benar-benar enyah dari hadapan Nuri.
"Aku lupa sesuatu." tiba-tiba Devan muncul kembali mendongakkan wajahnya di balik pintu.
"Hah?" sahut Nuri terkejut dari tempat duduk.
"Jika kau merindukanku temui saja di alamat yang tadi, ok!" ucap Devan sambil mengulum senyum. Nuri merengut kesal sambil meremukkan tissue di tangannya.
"Enyahlah dari sini! Menyebalkan." teriak Nuri melempar tissue dengan sigap Devan mengelak dan menertawakan ekspresi lucu wajah Nuri saat marah.