Devan & Nuri

Devan & Nuri
Demam



"Kenapa hujannya belum reda juga, sekarang sudah jam 8." ucap Devan gelisah sambil berteduh menunggu hujan berhenti di depan ruko.


Hujan di luar sana lumayan lebat Devan kesulitan untuk pulang ke rumah. Tidak tahu kapan hujan itu akan berhenti sedangkan malam akan semakin larut, pikiran Devan terus terbayangi oleh Nuri sehingga dia gelisah dan tidak ada pilihan selain menerobos hujan supaya bisa cepat bertemu Nuri di rumah.


Hujan ini mengingatkanku pada masa itu dimana aku dan dia terjebak dalam hujan di sebuah rumah kosong, ketika api asmara mulai menggelora di dalam kalbu tapi siapa sangka justru menjadi awal rasa benci itu muncul kembali. Aku tidak bisa melupakan kenangan manisnya meskipun aku membenci dirinya.


Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku nama Nuri terus mengisi otakku, ini pertama kalinya aku ingin cepat sampai di rumah hanya demi bertemu dengannya.


Sambil berhati-hati mengendarai motor di tengah hujan lebat, Devan terus bergumam mengingat masa-masa saat dia bersama Nuri. Bagaimana mereka yang semula saling bermusuhan lalu menjadi teman, tapi justru saat rasa cinta mulai bersemi kebencian malah menjadi pembatas di antara rasa cinta dan benci.


Beberapa saat kemudian akhirnya Devan sampai di rumahnya dalam kondisi basah kuyup dan tubuh bergetar kedinginan.


Nuri ternyata belum tidur meski sudah jam 10 malam, saat melihat Devan masuk ke rumah dia langsung merangkul tubuh Devan karna Nuri sudah tahu fisik Devan sebenarnya sangat lemah dia akan demam setelah hujan-hujanan.


Mengapa dia belum tidur, mungkinkah dia masih menungguku?


Pikir Devan sambil menatap Nuri dari samping yang sedang merangkul menuntunnya masuk ke dalam kamar.


Nuri membiarkan Devan berdiri di depan tempat tidur, sementara dia akan mencarikan pakaian salinan untuk Devan.


"Cepat ganti bajumu Dev, setelah itu minumlah teh hangat lalu pergilah tidur, aku akan keluar membuat tehnya." ujar Nuri sambil meletakkan baju dan handuk di atas tempat tidur lalu Nuri berjalan keluar.


"Nuri tunggu!" panggil Devan, Nuri berhenti melangkah tanpa menoleh ke belakang.


"Ada apa Dev, apa kau ingin aku memasak sesuatu untukmu?" tanya Nuri.


"Tidak, bukan itu." kata Devan ragu-ragu dan gugup seperti ada yang sulit untuk dikatakannya.


"Kau ingin apa? aku akan mengambilkannya." tanya Nuri lagi.


"Kenapa kau belum tidur, kau menungguku ya?" jawab Devan.


Bibir Nuri melengkungkan senyuman kala itu dengan sedikit tawa di pipinya.


"Jangan kepedean kamu Dev, aku sedang belajar membuat kue untuk dijual." kata Nuri.


"Apa membuat kue? kau ingin jualan kue?" Devan seakan terkejut Nuri sama sekali tidak menunggunya.


"Kakak baru saja kirim uang jadi aku pikir aku harus buka usaha agar tidak bergantung lagi pada mereka." jawab Nuri. Devan terdiam menahan malu ternyata dugaannya salah jika Nuri akan menunggu dirinya.


"Apa kau berharap aku masih menunggumu?" tanya Nuri.


"Ah... Tidak, tidak. Aku pikir kau menungguku biasanya kau kan seperti itu tapi baguslah kau capek sendiri menungguku jadi aku tidak perlu lagi memintamu untuk berhenti menunggu." jawab Devan berkilah. Padahal dia berharap kali ini Nuri masih sama seperti dulu selalu menunggunya pulang ke rumah. Devan mulai menyadari ternyata seseorang juga akan lelah menunggu tanpa kepastian sama seperti halnya Nuri.


Beberapa menit kemudian, Nuri datang ke kamar Devan membawa segelas teh hangat. Devan juga sudah berganti pakaian.


"Ini teh hangatnya, setelah itu kau tidur." ucap Nuri.


"Kau juga akan tidurkan?" tanya Devan sambil meminum tehnya.


"Belum, sampai aku berhasil membuat kue baru aku akan tidur." jawab Nuri.


"Ingat kau sedang hamil jangan biasakan tidur larut malam." ucap Devan.


"Baiklah aku akan tidur." Nuri keluar dari kamar suaminya.


"Nuri." Devan memanggilnya lagi.


"Kau perlu apa lagi Dev?" tanya Nuri menghampirinya kembali.


"Tidak perlu apa-apa." Devan menggeleng.


"Jadi kau ingin apa, katakan dengan jelas."


"Tetaplah di sini bersamaku." tiba-tiba Devan meraih tangan Nuri sambil memohon agar Nuri tidak meninggalkannya.


"Kau sendiri yang ingin kita tidur terpisah, aku harap kau tidak mengubah keputusanmu."


"Aku masih ingat semuanya, untuk itu aku ingin..."


Hacuiiihhh... bukannya melanjutkan kalimat, Devan malah bersin ke wajah Nuri.


Hacuiiihhh...


Belum sempat Nuri menyingkirkan liur Devan dari wajahnya, Devan malah kembali bersin lagi-lagi mengenai wajahnya.


Devan menggosok-gosok hidung dan matanya mulai terasa gatal, merah dan berair tanda-tanda dia akan demam.


Nuri tidak protes apapun saat Devan bersin ke wajahnya, dia malah membantu Devan berbaring di atas tempat tidurnya lalu menyelimuti tubuhnya agar tidak kedinginan.


"Kau sudah tahu tidak bisa main hujan kenapa kau masih melakukannya? apa kau tidak sayang dengan kesehatanmu? siapa yang susah jika kau sakit, apa kau pikir mama akan datang ke sini untuk mengurusmu? tidak Dev." gerutu Nuri sambil menyentuh kening Devan dan merasakan suhu panas di tubuhnya. Nuri tampak cemas dan sedikit kesal mengetahui Devan demam.


"Kau mengkhawatirkanku ya?" tanya Devan.


"Aku ambil kompresan sebentar, tidak apakan aku tinggal?" Nuri mengalihkan pembicaraan dari rasa khawatir yang dia rasakan.


Devan mengangguk dan mempersilakan Nuri keluar. Tak lama Nuri datang membawa alat kompres dan obat penurun panas. Devan memintanya untuk duduk di sisi ranjang tepat di sampingnya, Nuri pun duduk sambil menyodorkan segelas air dan obat.


"Minumlah obatnya sebelum tidur." ucap Nuri.


"Pahit aku tidak suka." bantah Devan.


"Apa kau ingin aku memanggil teman-temanmu membiarkan mereka memaksamu." ancam Nuri, Devan kesal karna Nuri tidak membujuknya minum obat.


Terpaksa Devan meminum obatnya dari pada teman-temannya akan datang kemari dan mereka tidak bisa dekat seperti ini. Setelah itu dia duduk bersandar sambil memandang penuh kelembutan wajah Nuri yang kini berada di dekatnya. Nuri malah menyuruh Devan untuk tidur sementara Devan merasa tidak ingin tidur.


"Pejamkan matamu." pinta Nuri memaksa Devan tidur.


Devan malah bangkit membenarkan posisi tidurnya ke sebelah kiri lalu menyuruh Nuri berbaring di sisi kanan.


"Aku tidak mau Dev." Nuri menolaknya dengan keras.


"Aku tidak akan tidur jika kau tidak menemaniku." ancam Devan.


"Kau ini kenapa biasa kau juga mengusirku bahkan kau tidak senang aku masuk ke kamarmu."


"Bukankah seorang suami berhak tidur bersama istrinya." kata Devan.