Devan & Nuri

Devan & Nuri
Cemburunya



Rumah Devan


"Kenapa bisa seperti ini nak?" tanya mama khawatir melihat luka bekas kecelakaan yang Devan alami.


"Kamu sudah bawa ke dokter nak?"


"Sudah kok Ma." jawab Devan lemas.


"Sebenarnya apa yang terjadi kemarin, nak?"


"Kecelakaan tunggal biasa Ma. Ini salah Devan kurang hati-hati, mama jangan khawatir mungkin karna Devan banyak pikiran makanya jadi begini." ungkap Devan membuat mama mencurigainya.


"Kamu mikirin apa sih Nak, sampai membahayakan diri sendiri, kamu masih mikirin lamaranmu di tolak?"


"Enggak kok Ma, lebih berat dari itu."


"Cerita sama mama, Nak!"


"Ma, ternyata Nuri sudah menikah." ucap Devan kesal.


"Wajar saja dia menikah Nak, dia memang memerlukan pendamping untuk merawat Nayla dan pastinya jadi singleparent tidak mudah nak apalagi Nuri anak yang baik pasti tak sedikit yang menyukainya."


"Kenapa mama bicara begitu seperti tidak mendukung Devan bersatu sama Nuri." Devan tambah kesal mendengar mama.


"Van, jika kenyataannya demikian kamu harus terima Nuri bukanlah jodoh kamu. Kamu dan Nuri memang sempat dipersatukan tetapi bukan untuk selamanya, kalian jodoh yang dipaksakan nak, jadi kamu harus siap menerima risikonya apapun yang terjadi."


"Lalu bagaimana dengan Nayla ma, bagaimana Devan memberitahunya kalau aku ayahnya bukan Nazmi sementara Nuri tidak mau mengatakan kebenarannya. Devan sedih ma mendengar Nayla memanggil orang lain dengan sebutan ayah, meskipun Nayla ada di depan Devan tetapi Devan tetap tidak bisa memilikinya. Devan sangat terluka ma, apa ini karma untukku karna aku sudah menelantarkan mereka, apakah kesalahanku tidak bisa dimaafkan ma?"


"Kamu yang sabar ya nak! Seorang anak tetaplah anak tidak bisa diputuskan, Nayla tetaplah anakmu darah dagingmu sampai kapanpun akan begitu nak. Hanya saja mungkin Nuri masih kecewa makanya dia tidak ingin Nayla tahu siapa ayahnya tetapi mama yakin Nuri pasti sudah memaafkan kamu, nak."


"Mama bisa keluar, Devan pengin menyendiri."


Mama keluar dari kamarnya, Devan duduk di balkon sambil memandang ke langit.


*


*


Nuri pun mempersilakan Nazmi masuk ke dalam dan mereka duduk taman belakang rumah sambil minum kopi berbincang membahas pernikahan yang kemarin orang tua mereka bahas, Nuri juga tak lupa memberitahu Nazmi bahwa semalam dia baru saja membawa mantan suaminya masuk ke dalam rumah dengan alasan membantunya dari kecelakaan.


"Apa dia menginap di sini, Nur? Di mana dia?" tanya Nazmi.


"Iya kak, tapi dia sudah pulang."


"Oh!" Nazmi mendadak lemas mendengar pengakuan Nuri kalau semalam mantannya suaminya sempat menginap. Ada bumbu cemburu dalam benak Nazmi walau sekeras apapun dia berusaha untuk tidak jatuh cinta pada Nuri.


"Kak, kemeja kakak ada noda saos." kata Nuri dalam sekejap membuyarkan lamunan Nazmi.


"Em...?"


"Permisi ya kak, biar Nuri yang membersihkannya." pinta Nuri sembari mengambil tissue dan hendak menyentuhkan ke kemeja Nazmi.


Nazmi dengan cepat mengelak sampai membuat Nuri bingung sendiri. Nazmi sendiri yang mengelap noda dari kemejanya, sementara Nuri merasa heran.


"Kak, kenapa menghindariku?" tanya Nuri sambil merasa heran. Sejenak Nazmi terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Aku hanya merasa tidak enak seperti ini Nur." ucap Nazmi, ada raut penyesalan di raut wajahnya.


"Mengapa begitu kak? Bukankah aku ini seperti adikmu, lalu kenapa kakak tiba-tiba merasa tidak nyaman bersamaku?"


"Nur, adik kandung dan adik angkat itu berbeda. Aku rasa kau sebaiknya segera menikah Nur, jika kau masih mencintai mantan suamimu dan dia juga mencintaimu, kenapa kamu harus berpura-pura seolah tidak mencintainya? Kau harus membuat pengakuan Nur, agar orang lain tidak berharap padamu."


"Kak, ada apa kakak bicara seperti itu?"


Nazmi bangkit sembari mengambil jassnya lalu keluar dari rumah dan dikejar oleh Nuri. Nuri menahan Nazmi, karna dia bingung melihat tingkah Nazmi.


"Boleh Nuri tahu sesuatu?"sambil menatap ke dua mata Nazmi.


"Apakah kakak cemburu saat kita membahas dia?" tanya Nuri. Nazmi hanya diam tanpa menatapnya, ponselnya tiba-tiba berdering. Nazmi mendapat panggilan dari rumah sakit sehingga dia harus buru-buru ke sana karna pasiennya sedang kritis.


Nazmi pun berpamitan dengan Nuri dan juga Nayla setelah itu dia pergi mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Nuri yang semula curiga segera melupakan kecurigaannya terhadap perasaan Nazmi.