
Devan duduk santai di kursi menunggu Nuri yang sedang memasak makanan untuk mereka makan siang. Devan tak bisa mengalihkan tatapan matanya dari sosok Nuri yang penyabar dan kuat walau terus tersakiti.
Ah! Mengapa aku terus memandangnya?
Mendadak Devan tersadar dari lamunannya dan berkilah mengalihkan tatapannya ke sisi lain ketika Nuri bergerak untuk mengambil piring. Nuri sudah selesai memasak.
"Makan siangmu sudah siap." ujar Nuri setelah meletakkan masakkan yang dimasaknya ke atas meja.
"Kau tidak ikut makan?" tanya Devan, Nuri menggeleng sambil ikut duduk.
"Kenapa kau tidak makan?" tanya Devan lagi.
"Aku masih kenyang." jawab Nuri.
"Memangnya kau makan apa sampai merasa kenyang?"
"Sudahlah kau makan saja, bukankah dari awal kau bilang kita urus hidup masing-masing saja."
"Oo jangan-jangan kau dapat makanan gratis dari seseorang ya?" tebak Devan.
"Jika iya kenapa? jangan bilang kau yang melakukan semuanya." ketus Nuri.
Devan tersenyum simpul sambil melahap makanannya tetapi Nuri tidak menduga jika Devan lah yang telah melakukan semuanya.
Aku senang kau mau memakan pemberian dariku, tapi apa yang ku lakukan tidak akan pernah bisa membayar kesalahanku yang sudah membuat kau dan bayimu celaka.
Sekejap Devan merasa senang, sekejap lagi Devan menunduk penuh penyesalan mengingat perilaku kasarnya terhadap Nuri.
Selesai makan, Nuri mencuci piring bekas Devan sementara Devan langsung berkemas untuk berangkat kerja yang masih di rahasiakannya dari Nuri.
"Kau mau kemana?" Nuri melihat Devan buru-buru menuju pintu depan saat Nuri akan kembali ke kamarnya.
"Mau keluar, apa kau mau ikut?" jawab Devan memicingkan matanya seolah sedang mengajak Nuri.
"Aku masih lemas, kau pergi saja sendiri mulai hari ini aku tidak akan menghalangimu pergilah sesuka hatimu." kata Nuri yang mulai lelah menghadapi Devan masih saja suka keluyuran.
"Baiklah jika begitu maumu jaga dirimu baik-baik di rumah, aku kembali malam hari." ujar Devan.
"Iya aku tahu itu." jawab Nuri lesu, Nuri merasa hampir putus asa bertahan demi pernikahannya.
Tetapi sebelum pergi tiba-tiba Devan mendekat langsung menarik tengkuk leher Nuri membawanya sangat dekat menyatu dengan tubuhnya membuat wanita muda itu menggerak-gerakkan tubuhnya untuk lolos dari cengkraman Devan.
"Aku tidak akan menyakitimu." ujar Devan menatap Nuri lebih dalam, wanita muda itu hanya bisa mengatupkan bibir meronanya, lalu Devan meraih kedua pipi mungil wanita muda itu sehingga wajah mereka saling berdekatan,
Cup...
Kecupan itu berlabuh di kening Nuri. Kecupan lembut seolah penuh ketulusan mendarat sangat lama sampai membuat Nuri mematung tak sanggup bergerak saat sikap hangat Devan membelai dirinya.
"Apa yang kau lakukan padaku Dev." Tegas Nuri malah mendorong tubuh Devan saat Devan ingin merasakan lebih lama berada di dekat Nuri.
Devan membuang muka, sorot matanya tak ingin melihat Nuri lagi setelah menyadari apa yang baru saja dilakukannya pada Nuri. Devan memang berhak mencium Nuri tetapi saat ingat dirinya selalu kasar, Devan tahu Nuri pasti tidak senang mendapatkannya. Devan segera meninggalkan rumah tanpa bicara sepetah katapun.
Nuri tertegun di depan pintu menatap kepergian Devan sambil memegang jidatnya yang baru saja mendapat kecupan.
Apa arti semua ini? Mengapa dia lakukan ini padaku?
Nuri masih termenung memikirkan kecupan itu dengan terus merasa benci terhadap Devan yang sikapnya selalu berubah-ubah.
Aku tidak akan jatuh cinta pada orang yang tidak bisa mencintaiku, dia bahkan tidak pantas untuk dicintai. Aku tidak akan membiarkan dia melakukan ini lagi.
Tempat Kerja Toko Fotocopy
Teman-teman sekelas Devan datang ke toko fotocopy tempat Devan bekerja untuk memotocopy makalah. Tetapi, sewaktu melihat Devan ada di sana mereka langsung mengejek pekerjaan Devan. Devan diperolok habis-habisan oleh teman-teman sekelasnya.
"Kasihan ya anak pengusaha berlian sekarang kerjanya cuma jadi tukang fotocopy, mimpi apa kita semalam guys bertemu dia di sini." ledek mereka.
"Namanya juga diusir sama keluarganya, mana mau orang tua punya anak pembawa aib seperti dia." sindir mereka.
Devan tetap diam menahan emosinya, dia mencoba sabar agar tidak terjadi keributan di tempat kerjanya atau dia akan kehilangan pekerjaan.
"Beruntunglah kita guys uang tinggal minta sama orang tua, mau beli sesuatu tinggal papa yang membelikan, coba lihat dia mau beri makan anak bininya saja mesti kerja jadi mesin fotocopy." sindir mereka lagi.
"Dimana istrimu si Nuri itu Dev? apa kau menjadikannya jimat di rumah semenjak menikah dia sudah tidak terlihat lagi." ledek mereka lagi.
Mendengar nama Nuri dibawa-bawa Devan merasa sudah tidak sanggup menahan emosinya, di lemparnya semua makalah milik mereka yang baru saja di fotocopy dan hendak memukul salah satu dari mereka, untungnya si pemilik toko menahan Devan.
"Kalian yang tidak bisa merasakan hidup susah sebaiknya diam saja, jangan meremehkan pekerjaan orang lain karna orang seperti kalian belum tentu mampu hidup susah sepertiku, itu sebabnya anak manja seperti kalian hanya bergantung pada harta orang tua sebenarnya kalian itu tidak punya apa-apa jika mereka menarik semua fasilitas yang mereka berikan untuk kalian semua." ucap Devan dengan emosi yang berusaha ditahannya.
"Sabar Dev, biarkan saja mereka bicara sepuasnya. Ingat saja anak istrimu jangan buat mereka sedih melihatmu pulang dalam kondisi terluka." bisik si pemilik toko menyabari Devan yang sudah tersulut emosi.