
Satu jam Nuri berdiri di pinggir jalan tiba-tiba hujan melanda daerah sekitarnya. Jalanan mendadak menjadi sepi, tidak ada kendaraan seperti taksi yang lewat. Nuri kedinginan taksi yang ditunggu masih tak kunjung datang. Kini bibirnya mulai memucat dan pandangan matanya buram membuat kepalanya terasa berputar-putar.
Ada apa denganku, kenapa tiba-tiba aku pusing dan berkunang-kunang?
Tubuh Nuri tiba-tiba terjatuh, dia masih setengah sadar namun tak mampu berjalan lagi. Kepalanya terasa sangat berat, matanya semakin sendu seperti sedang mengantuk sulit untuk menetralkan penglihatannya kembali seperti semula.
"Siapa pun yang lewat tolong aku..." ucap Nuri suaranya semakin samar-samar ditelan oleh guyuran hujan yang jatuh ke bumi.
"Tolong kepalaku sakit... Aku kedinginan, ku mohon tolong selamatkan aku..." rintih Nuri dengan separuh tenaga yang dimilikinya dia berusaha menjangkau ponsel di dalam tas untuk menghubungi siapa pun itu yang bisa membantunya namun ponselnya tidak dapat menyala karna terlalu banyak menyerap air yang masuk.
Di sisa-sisa suaranya, Nuri masih berusaha meminta pertolongan sampai akhirnya dia pingsan di pinggir jalan. Saat itu jalanan masih sepi karna hujan yang sangat lebat.
Entah berapa lama Nuri pingsan hingga cuaca mulai normal kembali dengan sedikit awan mendung dan hujan rintik-rintik.
"Baik Pak, besok saya akan datang. Iya siapkan saja berkas-berkasnya."
"Baiklah saya tutup dulu teleponnya, saya sedang menyetir jalanan licin."
Nazmi menginjak rem kaki tiba-tiba saat matanya melihat seorang wanita terbaring di pinggir jalan, mobilnya berhenti tepat di dekat Nuri. Nazmi keluar dari mobil untuk memastikan kondisi Nuri.
Masih hidup, dia hanya pingsan.
Nazmi mengambil peralatan medis dari dalam mobilnya, mengambil alat pengukur suhu tubuh yang di dekatkannya ke dahi Nuri. Nuri pingsan dan demam cukup tinggi.
Kebetulan Nazmi melihat ada 2 orang wanita lewat di sekitarnya. Langsung saja diberhentikannya orang tersebut untuk membantu seorang wanita hamil yang dia temukan.
2 orang itu membantu mengangkat tubuh Nuri membawanya masuk ke dalam mobil milik Nazmi. Setelah itu Nazmi membawa Nuri ke apartemennya. Sampai di apartemen, Nazmi meminta bantuan tetangganya untuk membawa Nuri masuk ke dalam rumahnya. Nuri digiring dan dibaringkan di atas sofa. Dia sangat pucat, lemah dan basah kuyup.
Dokter Nazmi langsung memasang selang infus setelah memeriksa keadaan Nuri. Nuri memang memerlukan penanganan medis yang cukup serius, tensi darahnya juga sangat rendah dalam kondisi hamil besar itu akan berisiko jika tidak segera ditangani sampai tensinya kembali normal.
"Bunda, Nazmi memerlukan bantuan Bunda."
Ada apa Naz?
"Naz baru saja menemukan wanita hamil pingsan di pinggir jalan sekarang Naz membawanya ke apartemen, Bunda bisakan datang kemari untuk menemani wanita ini?"
Bunda segera ke sana sekarang.
Tak lama kemudian Bu Rahma sampai di apartemen kediaman putranya. Nazmi segera menyalami tangan ibunya dan mengajaknya masuk.
Mendadak Bu Rahma terkejut saat melihat wanita yang di temukan oleh putranya.
"Kenapa Bunda? Apa Bunda mengenal wanita ini?"
Bu Rahma mendekati Nuri yang masih pingsan, dibelainya pucuk kepala anak muda itu.
"Demamnya belum turun Naz."
"Dia kehujanan dan kelelahan, tapi sebentar lagi panasnya akan turun Bun."
"Kasihan dia, ke mana dia akan pergi malam-malam seperti ini." tutur Bu Rahma sembari mengelus pelipis rambut di dekat telinga Nuri.
"Bunda, apakah kalian sudah saling mengenal?"
"Dia tetangga Bunda, tapi Bunda tidak tahu apa yang sudah terjadi kepadanya. Dia ini anak yang baik, meski pun masih belia tapi perjuangannya tidak kalah dari ibu mana pun. Bunda salut dengan kegigihannya, dia pembuat kue dan menjualnya dengan cara berkeliling kompleks tanpa merasa malu sedikit pun. Dia mengatakan pada Bunda, dia tidak mau merepotkan siapa pun, tidak ingin dikasihani karna dia selalu yakin dan percaya diri dalam menekuni suatu usaha."
"Naz, bagaimana kandungannya?"
"Baik Bun, hanya kondisinya saja yang belum stabil."
"Semoga dia cepat sadar."
"Bunda tunggu dia sadar, Naz mau ke belakang panaskan makanan sebentar."
Bu Rahma memberi Nuri selimut agar dia tidak ke dinginan sampai Nazmi kembali akhirnya Nuri mulai bergerak dan pelan-pelan membuka matanya.
"Aku di mana?" lenguh Nuri sambil melihat sekelilingnya yang tampak asing.
Tak ada satu barang pun yang dia kenali, dia tidak tahu di mana dirinya berada yang dia ingat hanya rumahnya tetapi Devan sudah mengusir dan mengakhiri hubungan mereka. Nuri merasa sedih saat bayangan Devan terlintas di benaknya.
"Kamu ada di apartemen, tenanglah jangan banyak bergerak dulu." tutur Bu Rahma.
"Bu Rahma? Ibu ada di sini?" tanya Nuri. Dia sudah bisa melihat Bu Rahma dengan jelas.
"Anak saya menemukan kamu pingsan di pinggir jalan, dia yang meminta saya untuk menemanimu di sini."
"Terima kasih Bu, Pak Dokter kalian sudah membantu saya. Berapa biaya yang harus saya bayar?" ujar Nuri.
"Tidak perlu dibayar, saya ikhlas membantumu. Beristirahatlah dengan nyaman sampai kondisimu pulih kembali." kata dr. Nazmi.
"Saya ucapkan sekali lagi, terima kasih Pak Dokter. Tapi saya harus pulang sekarang."
Nuri tiba-tiba berdiri dan ingin melepas infusnya tetapi Bu Rahma sigap mencegahnya. Dia tidak akan memberi toleransi, Nuri sedang hamil tidak akan dia biarkan Nuri pulang tengah malam sendirian karna Jakarta sangat rawat kejahatan.
"Bunda, izinkan Naz untuk memeriksa kondisinya kembali." pintanya.
Nuri mengangguk dan Bu Rahma mempersilakan putranya untuk memeriksa kondisi Nuri. Dari hasil pemeriksaan kondisi Nuri sudah stabil namun dia masih demam dan panasnya baru saja turun tidak baik baginya terkena angin malam.
"Alangkah lebih baik jika kamu menginap semalam di sini, besok pagi saya akan memeriksa kondisimu lagi jika benar-benar sudah stabil kamu saya izinkan pulang." kata Nazmi.
"Benar Nuri bermalamlah di sini ada ibu yang akan menjagamu."
"Tapi Bu, saya..."
"Nak ambil ponselmu, kita hubungi suaminya."
"Tidak perlu menelepon siapa pun." kata Nuri tiba-tiba, Nazmi pun kembali memasukkan ponsel ke dalam kantong celananya.
"Ibu ingin kamu memberitahu suamimu kalau kamu akan bermalam di sini supaya dia tidak khawatir."
"Jangan Bu Rahma."
"Ada apa? kenapa kamu menangis Nuri?"
"Tidak ada yang peduli sama saya Bu, hubungan kami sudah berakhir. Percuma saja jika ibu meneleponnya, tidak ada tentang saya di dalam hidupnya."
"Baiklah ibu tidak akan mengungkit apa pun lagi, kamu harus banyak istirahat supaya besok kesehatanmu normal kembali dan bisa pulang ke rumah ayah ibumu."
"Bunda, kalian tidur di kamar Naz saja biar Naz tidur di sofa."
"Kamu maukan Nuri tidur di kamar anak saja, di sini tidak ada kamar lain karna memanh hanya ada satu kamar."
"Tapi ibu juga akan tidur bersama saya kan?" Bu Rahma mengiyakan dan Nuri menerima tawaran dari mereka.
"Umm. Tunggu." panggil Nazmi. Nuri dan Bu Rahma langsung berhenti, Nazmi mengejar mereka sambil mendorong koper Nuri yang ketinggalan.
"Kopernya Bunda, bagaimana dia bisa mengganti pakaiaannya jika kopernya tidak dibawa." kata Nazmi.
"Saya minta maaf Pak Dokter, saya benar-benar lupa." sesal Nuri sembari mengambil alih kopernya.
"Emm. Selamat malam Bunda. Selamat malam untukmu juga." tutur Nazmi.
"Selamat malam sayang. Bunda ajak dia masuk sekarang." jawab Bu Rahma, Nuri hanya tersenyum kecil sambil terus menundukkan pandangannya dari laki-laki asing.