Devan & Nuri

Devan & Nuri
Maafkan Aku



Pagi harinya


Nuri mencoba menelepon Devan untuk mengajaknya ketemuan. Devan setuju tapi nanti setelah tugas di rumah sakit selesa. Siangnya Devan segera menuju alamat yang Nuri kirim. Mereka bertemu di taman dekat alun-alun kota.


"Kamu mau membicarakan apa, Nur?"


"Aku cuma bisa sebentar, karna satu jam lagi ada pasien yang harus ku operasi." kata Devan santai. Devan menunjukkan sikap profesionalnya sehingga membuatnya biasa-biasa saja saat melihat Nuri, tapi dalam hati Nuri merasa Devan lebih dingin.


"Maaf mengganggu waktumu. Kita pulang saja." jawab Nuri kecewa.


"Enggak sama sekali tidak mengganggu, aku hanya memanfaatkan waktu istirahatku."


Kamu bicara apa sih Nur, katakan saja jika kamu masih mau bersamaku.


Kedua bola mata Devan tak bisa berbohong bahwa dia masih ingin melihat Nuri lebih lama lagi.


"Katakan saja apakah sangat penting?" tanya Devan.


"Aku mau beritahu kamu mengenai Nayla." jawab Nuri.


"Ada apa? Apakah Nayla sakit?" sontak Devan berubah panik.


"Dia baik-baik saja jangan khawatir."


"Dev, aku mau minta maaf sama kamu."


"Kamu tidak pernah salah Nur, aku sadar semua salahku."


"Bukan masalah kita Dev, tapi tentang Nayla."


"Iya aku tahu."


"Seharusnya aku tidak boleh menjadi ibu yang egois hanya karna aku terlalu marah padamu hingga Nayla ku korbankan padahal aku sadar cepat atau lambat dia akan tahu siapa ayahnya. Nayla sekarang sudah tahu bahwa kamu ayahnya, dan dia marah padaku." tutur Nuri dengan sangat menyesal mengakui kesalahannya.


"Sungguh Nayla tahu aku adalah ayah kandungnya?" wajah Devan langsung bersinar ketika tahu putrinya sudah mengetahui yang sebenarnya. Nuri mengangguk pelan sambil bersedih.


"Aku tidak akan melarangmu lagi untuk bertemu dengan Nayla, Dev. Tidak seharusnya aku menjauhkan kalian berdua seperti ini."


"Terima kasih banyak Nuri. Sebelum aku berangkat ke Swiss ini adalah kejutan terindah yang aku dapatkan, akhirnya aku bisa memeluk putriku. Aku sudah tidak sabar untuk memeluk serta menggendongnya. Akan aku habiskan waktuku yang tersisa bersama dengan Nayla." kata Devan dengan pandangan berbinar-binar. Nuri ikut senang melihat Devan kembali tersenyum.


Kamu benar-benar akan pergi Dev, apakah di hatimu tidak ada lagi niat untuk memperjuangkanku? Aku tidak boleh seperti ini, aku yang salah sudah menolaknya dan kenapa sekarang aku harus sedih mendengar dia akan berangkat ke Swiss, bukankah itu haknya? Sudahlah hentikan.


Bertemu Keysa


Devan sudah memilih untuk membatalkan rencana yang sempat di sepakati dengan Keysa. Malam itu Devan langsung mendatangi Keysa di apartemennya karna Keysa juga sudah menunggunya untuk makan malam.


"Malam ini kami mau makan malam berdua."


"Aku sangat-sangat bahagia akhirnya sebentar lagi akan menjadi istri Dokter Devan, tidak sia-sia aku memisahkannya dengan Nuri beberapa tahun yang lalu." Keysa bicara di telepon dengan temannya.


Membuat Devan kehilangan pekerjaannya sampai dia dituduh sebagai pencuri kamu memang hebat Key


"Hush! Jangan bahas lagi, itu rahasia kitakan jangan sampai ada yang tahu kalau aku yang melakukan semua itu." tutur Keysa mendadak wajahnya ketakutan.


Devan sudah masuk ke dalam apartemen Keysa beberapa menit yang lalu dan sempat mendengar semua pembicaraan Keysa di telepon. Devan menjadi geregetan langsung menarik handphone dari tangan Keysa. Saat itu Keysa terkejut matanya membelalak takut tiba-tiba melihat Devan sudah berada di kamar apartemennya dengan ekspresi merah padam dan rahang yang mengeras seolah akan melabraknya.


"Eh Devvv..." sapa Keysa gugup melangkah mundur.


"Kapan kamu datang?" tanyanya diselingi senyum tetapi tubuhnya terlihat gemetar.


Plakkk!!!!