Devan & Nuri

Devan & Nuri
Pergi Ke Taman 2



Devan dan Nuri bermain mengayuh sepeda mengelilingi lapangan di taman sambil bercanda dengan tetap berhati-hati supaya Nuri tidak jatuh.


"Kayuh lebih cepat Dev." perintah Nuri.


"Ini juga sudah kuat Nur, kakiku yang pegal."


"Ya Devan, dasar lembek masa kayuh sepeda saja pegal."


Seorang anak kecil perempuan sendirian berjalan ke arah mereka sambil menangis memanggil ibunya. Nuri yang melihat anak kecil itu segera meminta Devan menghentikan sepedanya, mereka lansung menghampiri anak kecil tersebut.


"Devan, lihatlah anak ini lucu sekali." ujar Nuri.


"Ini anak siapa ya, di mana orang tuanya." Devan melihat ke arah orang yang ada di sekitar mereka.


"Hai nak, kamu kenapa menangis? di mana ibumu?" seru Nuri.


Anak itu hanya bisa menangis mengucek-ngucek matanya sambil terus mempertanyakan ke beradaan ibunya. Devan dan Nuri keheranan melihatnya orang tua mana yang telah tega menelantarkan anaknya, pikir mereka.


"Mama, di mana mamaku, hiks... hiks..."


"Di mana rumahmu nak?" tanya Nuri.


Anak kecil itu juga tidak ingat dari mana dia berasal.


"Aku tidak tahu, hiks... hiks... mama di mana?x


"Dev, gimana ini apakah kita harus merawat anak ini atau kita cari ibunya sekarang?"


"Kita cari saja dulu ibunya di sekitar sini siapa tahu ada yang kenal sama anak ini."


"Daddy."


"Hei aku bukan papamu enak saja manggil daddy." awalnya Devan ketus pada anak kecil itu.


"Dev, jangan ketus gitu dong mukanya, dia juga enggak ngerti kasihankan dia." tutur Nuri.


Sambil mencari orang tua anak tersebut, meski baru saja berkenalan sepertinya anak kecil itu suka pada Devan. Dia mulai manja sampai tidak mau berjalan kaki melainkan minta digendong oleh daddy Devan, begitulah anak kecil itu memanggilnya dan memanggil Nuri dengan sebutan mommy. Tidak ada yang tahu siapa anak ini, sepertinya dia terpisah dari ibunya dan bukan berasal dari daerah tersebut. Sehingga Devan dan Nuri kebingungan harus bertindak apa, jika mereka tidak berhasil menemukan ibu dari anak tersebut maka mereka memutuskan untuk melapor ke petugas keamanan.


"Wajah daddy tampan sekali sama seperti pangeran di negeri dongeng yang mama Kya ceritakan, daddy cocok sama mommy yang cantik." anak kecil itu betah berada di gendongan Devan.


"Jadi namamu Kya sayang?" tanya Nuri.


"Iya mommy, aku Kya Kirana."


"Cantik sekali namanya sama seperti orangnya." puji Nuri menghibur anak tersebut.


"Nak, apa kau masih merasa sedih?" tanya Nuri menarik pelan tangan Kya agar mereka lebih dekat.


"Tidak, mommy dan daddy baik sekali sama Kya, terima kasih mommy, daddy, Kya sayang kalian." katanya tiba-tiba mencium Devan.


"Sini Kya duduk di pangkuan mommy." Kya sama sekali tidak cerewet dan tidak malu langsung saja dia naik ke pangkuan Nuri karna dia menyukai Devan dan Nuri yang sudah baik kepadanya.


"Kasihan anak ini, dia merindukan ibunya." tutur Nuri sambil menaikkan Kya ke atas pangkuannya.


"Kita sudah keliling taman tapi tidak ada yang tahu siapa ibunya, sekarang kita harus apa?"


"Aku juga tidak tahu Dev, bagaimana sambil beristirahat kita makan bakso dulu di sana."


"Apa kau punya uang untuk beli bakso? lebih baik kita beli roti saja yang harga seribuan."


"Tenang saja aku masih punya sedikit tabungan jadi kita bisa sekalian ajak Kya makan setelah itu kita lanjutkan mencari ibunya."


"Kau lapar ya Kya?" tanya Devan.


"Hmm iya tapi daddy gendong Kya lagi." anak itu mengangguk dan minta digendong lagi.


"Baiklah ayo naik ke punggungku kita makan bakso setan di pinggir jalan sana." Kya kesenangan digendong oleh Devan sambil berlari berasa seperti sedang terbang naik spiderman.


"Daddy, bakso setan itu apa? apakah menyeramkan?"


"Mamang bakso, kita pesan bakso setannya 3 tapi 1 jangan pedas ya." ucap Devan.


"Daddy, Kya takut sama bakso setan." di pikiran Kya bakso setan itu buruk dan berulat seperti wajah setan yang membuatnya jijik membayangkannya.


"Dev, Dev, anak kecil kamu ajak bicara seperti itu nah dia mau nangiskan dia pikir ada setan di sini." cengir Nuri.


"Kya, nama baksonya bakso setan artinya baksonya berukuran cukup besar dan pedas tapi untuk Kya mommy pesan yang rasanya manis karna Kya masih kecil enggak baik makan pedas." Nuri memperjelasnya agar anak kecil seperti Kya mengerti.


Tak lama kemudian bakso pesanan mereka pun datang, Kya sudah bersiap-siap naik di pangkuan mommy Nuri dan meminta daddy Devan untuk menyuapinya makan.


Devan pun dengan sabar menyupai Kya makan, Nuri memperhatikan sikap lembut Devan terhadap anak kecil, tak pernah Nuri bayangkan Devan bisa sepenyayang itu kepada anak kecil yang bawel seperti Kya.


"Kya enggak mau mie, bakso daddy buat Kya juga biar daddy makan mienya."


"Astaga iya Kya sudah jangan nangis lagi, daddy berikan semua bakso milik daddy untuk Kya."


Melihat kau tulus memberi Kya perhatian, aku berharap kau juga akan menyayangi anak kita, kau tidaklah seburuk sikapmu sebenarnya hatimu sangatlah lembut hanya saja kau tidak mampu meredam emosimu sendiri harus memerlukan bantuan orang lain, dan semoga aku bisa selamanya menjadi orang tersebut.