
"Tadi pagi dia meneleponmu." kata Devan tiba-tiba berdiri di belakang Nuri saat Nuri tengah menjemur pakaian di belakang rumah.
Pendengaran Nuri langsung teralihkan ke arah Devan, Nuri hanya melirik Devan sekilas lalu melanjutkan aktivitasnya.
"Dia juga mengirimimu pesan." ucap Devan memperjelasnya.
"Dia siapa yang kau maksud?" tanya Nuri karna sama sekali belum melihat ponselnya pagi ini.
"Kakak kelasmu itu." ungkap Devan kesal tetapi Nuri tidak bisa membaca ekspresi Devan yang sedang kesal.
"Sungguh dia meneleponku pagi tadi?" tanya Nuri dengan mata berbinar senang Devan mengangguk pelan dengan sedikit rasa kecewa.
Nuri sontak tampak girang berlari ke dalam rumah meninggalkan pekerjaannya hanya untuk melihat ponselnya. Devan tertegun dengan mata sendu menatap kepergian Nuri yang berlalu melewati dirinya sambil terlihat sangat bahagia saat mendengar nama Riki.
Devan pun ikut masuk menghampiri Nuri di kamarnya, Nuri sontak kaget saat Devan tiba-tiba masuk dan segera mungkin mengumpatkan ponselnya.
"Aku sudah melihat isi pesannya kau tidak perlu merahasiakan dariku." ujar Devan mengambil ponsel yang Nuri umpatkan di belakang tangannya.
"Aku bisa jelaskan Dev, ini tidak seperti yang kau pikirkan." sangkal Nuri.
"Temuilah dia, kau tidak perlu ragu sudah aku bilangkan dari awal kita bebas mau berhubungan dengan siapa saja." ujar Devan.
"Aku tidak akan melakukannya Dev meski pun kau menyuruhku untuk menjalin hubungan dengan orang lain." Nuri tetap membantahnya.
"Terserah kau saja." pasrah Devan.
"Dev, perlu kau tahu kak Riki meneleponku karna kemarin aku mengiriminya pesan, aku menjelaskan padanya bahwa kita sudah menikah karna itu dia ingin bertemu denganku untuk memperjelas semuanya."
"Oh begitu." ketus Devan sok tidak peduli.
"Aku bukan orang yang suka memberi harapan pada orang lainnya makanya aku menjelaskan hubungan kita kepada kak Riki."
Devan seolah tidak percaya dengan alasan yang Nuri sampaikan tetapi Nuri tetap berusaha meyakinkannya.
"Jika kau tidak percaya baca saja pesan yang aku kirim kemarin masih tersimpan di ponselku."
Nuri berlalu keluar dari kamar meninggalkan ponselnya di atas tempat tidur. Devan mendadak penasaran sehingga dia mencari pesan yang Nuri kirim kemarin ternyata Nuri selalu berkata jujur Devan tidak bisa meragukannya lagi kalau istrinya itu serius membina rumah tangga bersama dengan dirinya. Hanya saja dia selalu menganggap enteng pernikahan mereka dengan masih suka keluyuran dan bermain dengan para gadis di luar sana tanpa memikirkan perasaan sang istri.
*****
Sepulang kerja tepatnya sehabis magrib saat sampai di rumah Devan melihat rumahnya kosong, dia pun teringat dengan istrinya.
Devan hanya mencari Nuri dengan terus berjalan langsung menuju kamar Nuri. Devan masuk ke dalam matanya langsung disuguhkan dengan pemandangan Nuri sedang melaksanakan ibadah shalat magrib.
Devan masih tertegun di muka pintu sambil merasa minder karna merasa tidak pantas menjadi seorang imam yang bukan membimbing istri tapi malah memperdaya istrinya.
Selesai shalat Nuri hendak berdoa tapi terdengar suara pintu bergetar sehingga Nuri menoleh ke belakang sedikit kaget melihat ke beradaan Devan.
"Masuklah!" ajak Nuri. Devan yang tadi merasa minder pun memberanikan diri melangkahkan kaki.
"Duduklah di sini." pinta Nuri sembari mempersilakan Devan duduk di sampingnya.
Devan menatap lekat sorot mata sang istri di mana seolah tidak ada kesedihan lagi di matanya tetapi Nuri sama sekali tidak membalas tatapan itu. Devan menjadi mengagumi sosok lembut yang selalu peduli akan dirinya.
"Kau sudah shalat?" tanya Nuri dengan tutur bahasa yang halus, Devan menggelengkan kepalanya pelan.
Nuri pun menyuruh Devan untuk mengerjakan shalat lebih dulu sebelum mereka makan malam tetapi Devan tampak kebingungan saat istrinya memintanya shalat, Nuri yang melihatnya juga heran saat suaminya tak kunjung beranjak pergi.
"A-aku, aku lupa caranya shalat, aku bahkan tidak hafal surah-surah pendek." Devan pun tanpa malu mengakui kelemahannya sebagai seorang laki-laki.
"Baiklah tidak masalah." Nuri pun bangkit menuju nakas lalu diambilnya sebuah buku panduan shalat yang diberikannya kepada Devan.
"Bacalah buku ini, di sini kau bisa mempelajari ilmu dari mulai berwudhu sampai tata cara melaksanakan shalat dan menghafal surah pendek." Nuri menjelaskan dengan sangat lembut, Devan semakin terpesona.
Devan langsung tersungkur malu ke atas pangkuan Nuri. Dia menangis entah karna apa tapi yang jelas Devan pertama kalinya menangis. Nuri tercekat bingung tanpa berani menyentuhnya.
"Mengapa kau menangis?" Nuri memberanikan diri mengangkat tubuh Devan kembali duduk seperti semula sembari melihat butiran bening yang menetes.
"Nuri, apakah dengan shalat Tuhan mau mengampuniku dosa-dosaku? aku pemabuk, sering melawan orang tua, aku tidak pernah shalat seumur hidupku Nur." tutur Devan menangis tersedu-sedu. Kali ini Nuri merasa ada perbedaan dalam diri Devan, Nuri seolah merasa ada perubahaan baik.
"Allah maha pengampun Dev, saat kita meminta ampun dan nyawa kita belum sampai di krongkongan Insha Allah dosa kita akan di ampuni. Mulailah dari sekarang memperbaiki diri, aku akan membantumu untuk itu." kata Nuri menenangkannya.
"Benarkah kau mau membimbingku?"
"Insha Allah, jika Allah mengizinkan kita akan bersama-sama memperbaiki diri."
"Bolehkah seorang wanita membimbing seorang pria?"
"Tentu boleh, bukan hanya suami yang berkewajiban membimbing istrinya tetapi sang istri juga berhak menuntun suaminya ke arah yang benar ketika mereka salah arah."
Devan senang sambil menghapus sisa air matanya di ujung pelupuk mata, Nuri tersenyum menundukkan kepala saat kedua mata mereka saling bertemu mereka menjadi canggung dan malu-malu.