
Setelah mandi dan mengganti pakaian kerjanya, Nazmi turun ke bawah menemui ibunya di dapur yang sedang menghidangkan makan malam untuk mereka.
"Bunda hari ini masak apa?" dengan manja Nazmi memeluk ibunya dari belakang.
"Opor ayam sama bakso balado kesukaan kamu."
Nazmi dengan senang hati membantu ibunya karna memang sudah terbiasa.
"Ayo kita makan dulu Naz, selesai makan Bunda mau bicara hal penting denganmu."
"Baik Bunda."
Makan malam di keluarga Nazmi Faiz Abdullah berjalan dengan lancar. Lalu Nazmi mengikuti ibunya duduk di ruang keluarga.
"Bunda, apa yang mau bunda bicarakan?" tanya Nazmi lembut.
"Naz, Bunda merasa kesepian selama kamu sudah menjadi seorang dokter ditambah sekarang kau jadi pimpinan rumah sakit, kamu hanya seminggu sekali kadang sebulan sekali menemui Bunda, Bunda memaklumi kesibukkanmu."
"Umm. Naz kan kerjanya enggak jauh Bunda, sebenarnya Naz juga enggak mau jauh dari Bunda sudah lama Naz ingin mengajak Bunda untuk tinggal di apartemen Naz supaya Bunda bisa setiap hari bertemu Naz, Bunda maukan ikut Naz?" tutur Nazmi sembari mengusap punggung tangan sang ibu.
"Tapi bukan itu maksud Bunda."
"Iya, lantas apa yang Bunda inginkan dari Naz?"
"Bunda ingin seorang menantu Naz, kapan kau akan menikah?"
"Umm. Bunda, Naz tidak bermaksud memperlambat pernikahan. Naz tahu menikah adalah kewajiban, tapi sampai sekarang Naz memang belum menemukan sosok wanita yang pas di hati Naz, Bu. Naz tidak mau salah memilih pendamping, karna yang Naz cari bukan wanita yang bisa membahagiakan Naz di dunia saja tapi juga diakhirat." Nazmi coba menjelaskan pada ibunya.
"Bunda mengerti alasanmu Naz tetapi usiamu juga sudah cukup matang 25 tahun, jika kau pemilih seperti ini bisa-bisa kau tidak menikah jadi bujangan tua."
"Ya Allah Bunda jangan bicara seperti itu, istighfar Bun setiap ucapan Bunda itu seperti doa untuk Naz. Naz juga enggak mau kalau sampai tidak menikah."
"Makanya Naz, kamu jangan egois."
"Naz tidak egois Bun, Bunda doakan saja supaya Naz bisa cepat-cepat bertemu dengan jodoh Naz."
"Bunda selalu mendoakan yang terbaik untukmu." sembari memeluk dan mencium kening Nazmi.
Suara telepon mengalihkan pembicaraan seorang ibu dan anaknya.
"Bunda, Naz minta maaf malam ini Naz harus tidur di rumah sakit ya."
"Ada apa lagi, Naz?"
"Bunda ada kecelakaan mobil, Naz buru-buru ke rumah sakit sekarang pasien harus segera di operasi." ucap Nazmi.
"Naz... Nazmi..." panggil ibu.
Nazmi naik ke lantai 2 mengambil jass putih dan peralatan kerjanya lalu kembali ke bawah menemui ibunya lalu mencium pipi ibunya.
"Bunda, Naz pamit. Assalamualaikum." setelah bersalaman dengan ibunya, Nazmi buru-buru bergegas kembali ke rumah sakit.
"Nazmi, Nazmi. Baru saja Bunda ingin melepas kerinduan sekarang kau sudah pergi lagi. Bunda tidak dapat mencegahmu karna kewajiban dan tanggungjawabmu sebagai seorang dokter."
Nazmi tidak tega terlalu sering meninggalkan ibunya, tapi profesinya sebagai dokter membuat dia harus siap siaga jika sewaktu-waktu dapat panggilan dengan berat hati dia kembali meninggalkan ibunya sendirian.
*****
"Devan."
Keysa memanggilnya dengan mesra. Saat Devan masih berada di parkiran tempat dia bekerja.
"Ngapain kamu di sini?"
Devan berusaha menghindarinya.
"Aku mencarimu selama berbulan-bulan akhirnya ketemu juga tempat kerjamu." Sembari berlari ke arah Devan dan dengan lancangnya menggandengi tangan Devan.
Tapi Devan sigap melepaskan tangan Keysa karna merasa tidak nyaman lagi berada di dekat wanita lain. Keysa membuka blazernya untuk menunjukkan bagian atas depan yang menenjol di tubuhnya. Devan sedikit melirik wanita itu, dan menyuruhnya memasang blazernya kembali. Keysa sangat kesal usahanya untuk menggoda Devan sama sekali tidak berpengaruh.
"Keysa, sebaiknya kau pulang ke rumahmu. Ngapain kamu keluyuran sendirian ini sudah malam."
"Enggak kok, ada supir yang mengantarku itu di sana. Aku kangen sama kamu, Dev."
Tiba-tiba Keysa memeluk Devan membuat Devan sedikit terhenyak tapi dia tetap berusaha sadar mendorong pelan tubuh Keysa.
"Aku mau pulang, kamu pulang juga sana sudah malam."
"Enggak mau kalau kamu tidak mengantarku."
"Ayolah aku hanya meminta kamu mengantarku pulang, enggak lebih kok Dev." rayunya.
"Baiklah, ayo ikut aku."
Devan menuruti kemauan wanita itu tapi siapa sangka Devan malah menarik Keysa ke arah mobilnya.
"Dev, kenapa naik mobilku, aku mau kita naik motormu." mulai kesal.
"Kamu datang dengan supirmu berarti pulang harus sama supir, ok."
Devan pun membuka pintu mobil sembari mendorong Keysa masuk ke dalamnya.
"Pak, antar dia pulang. Jangan dengarkan apapun jika dia mengeluh." pinta Devan pada pak supir.
"Devan...!"
"Aaa Devan..."
"Cepat pak jalankan mobilnya." perintah Devan, supir Keysa segera menurutinya.
Keysa berteriak-teriak memanggil Devan tapi Devan sama sekali tidak menggubrisnya dan hanya fokus menyetir motor.
Nuri menyambut kedatangan suaminya sepulang dari kerja. Bersalaman mencium tangan suami lalu Devan memeluk serta mencium kening dan perut buncit Nuri.
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam kamar.
"Capek ya? aku pijet ya." tanya Nuri.
"Enggak kok kalau sudah bertemu istri seindah dirimu."
"Umm. Mulai deh gombalnya." mencubit gemas lengan Devan.
"Apakah aku salah memuji istriku?"
"Tidak salah. Tapi kamu kan playboy mana bisa aku percaya semudah itu."
"Hmm. Iya playboy ini sudah tobat kok sejak bertemu bidadarinya Jaka Tarub."
"Makin ngelantur deh." Nuri kesal membuat Devan merasa gemas sehingga dia senang memainkan rambut Nuri dan menggelitik leher Nuri.
"Makanya jangan ngambek, jelekkan mukamu." kata Devan sambil mengejek mencubit kedua pipi Nuri.
"Iya enggak ngambek, mending kamu mandi dulu entar air hangatnya keburu dingin."
"Siap laksanakan, nyonya Nuri Devan Steven." dengan sigap Devan berdiri seolah memberi hormat pada komandannya sampai Nuri tertawa melihat tingkahnya.
"Kenapa masih di sini?" sindir Nuri setelah Devan tak kunjung bergerak hanya diam menatapnya.
"Oh iya aku lupa habisnya peri cantik masih di sini." ucap Devan.
"Ugh. Dasar tukang gombal."
"Ampun Baginda Ratu, hamba tidak bermaksud menggoda Ratu."
"Apalagi ini, cepat mandi sana! apa kamu ingin aku memandikanmu lagi?"
Sontak Devan menarik tangan Nuri, membawanya sangat dekat menempel di tubuhnya yang hanya bertelanjang dada.
"Ayo kita mandi berdua!" ajak Devan menyeringaikan senyum nakalnya selebar mungkin.
Nuri mendorong pelan tubuh suaminya agar mereka kembali berjauhan.
"Enggak, sudah malam dingin." mencari alasan.
"Umm. Dingin ya? kan ada aku yang menghangatkanmu." Devan semakin asik menggoda istrinya yang sudah tersipu malu.
"Mandi dulu, baru kamu boleh menghangatkanku."
Tentu saja Devan buru-buru ingin mandi saat Nuri setuju menuruti permintaan anehnya, tapi sebenarnya Devan hanya bercanda tidak serius ingin menghangatkan Nuri.
Aku harus sembunyi, gara-gara salah bicara dia akan menagihnya.
Nuri pun sibuk mencari tempat untuk bersembunyi setelah sadar dia sudah salah bicara.
"Awas kalau kamu sembunyi, aku akan menemukanmu untuk memberimu hukuman yang berat." teriaknya dari kamar mandi.
Devan malah mengancam Nuri yang membuat Nuri merana sembari segera tiduran bersembunyi di balik selimut untuk menyelamatkan diri dari suaminya.