
Pagi-pagi sudah ada tamu yang mengetuk pintu rumah keluarga Betrand. Bu Sarah membuka pintu, sementara Devan dan ayahnya berbincang-bincang sambil minum teh di pinggir kolam.
"Selamat pagi, tante." sapa Keysa dengan senyum menyeringai.
"Oh ternyata kau Key, ada apa ya?" tanya Sarah agak cuek.
"Devan ada tante?"
"Ada lagi ngobrol sama papanya."
"Key boleh masukkan tan? Key bawa makanan buat Devan."
"Oh iya silakan masuk. Tante mau kebelakang sebentar temui saja mereka di kolam renang." ujar Sarah. Keysa berjalan sendirian memasuki rumah tersebut dan menghampiri Devan di sana.
"Pagi Om." sapanya dengan sok anggun dan sok kalem. Padahal siapa pun sudah tahu bagaimana sifat sesungguhnya. Devan cuek saja tidak melirik sedikit pun. Dia mendadak gerah saat Keysa datang.
Ah. Malas banget ngapain juga dia kemari? Bikin mood hancur.
"Pa, Devan mandi dulu mau ke rumah sakit." tiba-tiba Devan beranjak.
"Kok gitu sih Dev, ini Keysa temanmu baru datang, sambut dia persilakan duduk dulu." tutur Betrand lembut.
"Key, papaku nyuruh kamu duduk." begitulah Devan berkata. Pak Betrand hanya bisa menggeleng sementara Keysa sangat kesal diperlakukan acuh tak acuh. Devan dengan santainya berlalu pergi menyingkirkan dirinya dari hadapan wanita bermuka dua itu.
"Om, Devan lama sekali ya?" tanya Keysa gelisah.
"Kau bawa apa Key? Sini berikan pada om." Betrand sudah tahu anaknya itu tidak akan kembali, jadi dia berpura-pura saja mengajak Keysa bicara.
Sehabis mandi lalu berkemas. Devan bergegas mengambil jass putih dan stetoskopnya lalu buru-buru pergi tanpa berpamitan karna perasaannya mendadak buruk saat ada Keysa. Ya, sudah dia pergi begitu saja dengan mobil sport merahnya langsung menuju rumah sakit.
Dalam menanggulangi warga yang terkena dampak bencana alam gempa bumi di kota B. Pihak rumah sakit swasta dan negeri bekerjasama memberikan pelayanan pengobatan terbaik.
Saat sedang bertugas Devan tak sengaja bertemu dengan dokter yang dulu pernah menyelamatkan nyawa Nuri. Dokter muda yang dulu memberikan donor darah secara cuma-cuma. Dokter itu juga masih sangat mengenal wajah Devan, mereka berjabat tangan layaknya sahabat. Dokter itu tak menyangka anak remaja yang ditemuinya dulu kini sudah menjadi seorang dokter dan sangat mapan. Mereka berdua pun bekerjasama dengan baik lalu jam istirahat pun tiba mereka mendatangi rumah makan untuk mengobrol dan makan siang.
"Kenalkan, nama saya Devan." ujar Devan sembari memperkenalkan diri.
"Saya Nazmi, senang akhirnya kita bisa bertemu lagi." balas Nazmi tersenyum.
"Bagaimana kabar istrimu, apa dia sehat sekarang?" tanya dr. Nazmi.
"Kami sudah lama pisah kak. Saya tidak tahu kabar mereka." jawab Devan. Nazmi hanya menganggukkan kepala, dia tidak mengetahui siapa Devan sebenarnya.
Mereka pun makan siang sambil berbincang-bincang, terlihat sangat akrab. Dokter Nazmi berpamitan pulang karna anaknya menelepon. Tak lama kemudian Dokter Devan juga pulang dan akan kembali sore nanti ke lokasi pengungsian untuk mengunjungi pasien.
Sebelumnya mereka berdua sudah bertukar nomor handphone agar memudahkan hubungan mereka dalam berkerjasama dan saling tukar pendapat mengenai dunia kedokteran.
*****
Sedari kepulangannya ke Indonesia sampai sekarang Devan tak letih-letihnya memandangi foto Nuri. Dia masih berpikir keras bagaimana cara menemukan Nuri dan anaknya, tapi dia tetap percaya kelak pasti mereka akan bertemu. Ke 3 sahabatnya sedari tadi melongo bengong melihat Devan murung.
"Ayolah berhenti menatapnya. Jangan pesimis Dev." tegur Leo merebut foto Nuri.
"Sini berikan." Devan dengan kesal merampasnya.
"Aku tidak pernah pesimis dalam misiku." sahut Devan keras.
Mereka pikir Devan ingin menyerah mencari keberadaan Nuri, karna melihat wajah Devan yang semakin hari semakin murung saja. Mereka bertiga pun ngerumpi tentang Devan.
"Eh Pak Dokter, apa kau mencintai Nuri?" Denis bertanya.
"Enggak. Aku hanya mencari anakku." jawab Devan masih saja ngeles.
"Alah Nuri dan anakmu pasti keduanya sangat berarti untukmu makanya kau sampai sesedih ini." sahut Leo.
"Tahu apa kalian, melaksanakan tugas saja tidak becus tahu apa tentang hatiku." ketus Devan kesal.
"Dev, dengan terus memandangi foto itu kami sudah tahu kalau kau mencintainya. Mulutmu bisa saja berkata tidak tetapi mata dan tindakanmu menjelaskan segalanya." sambung Albi lagi.
"Hmm. Jika kalian semua sudah tahu harusnya bantu aku, bukan diam dan duduk santai di sini saja. Cepat sana cari mereka lagi." Devan pun memerintah mereka bertiga.
"Justru itu kami bertiga kemari untuk memberi kabar gembira." Leo menyahut.
"Apa? Cepat katakan!"
"Kami hanya menemukan alamat toko bakery milik Nuri." jelas Leo.
"Jadi dia jadi pengusaha kue?" Devan tercengang namun senang, Nuri memang wanita luar biasa kegigihan itulah yang membuat Devan semakin menyukainya.
"Benar sekali. Menurut info yang kami dapat dari orang-orang di sana, Nuri sudah sukses. Cobalah besok kau datang langsung ke tempatnya siapa tahu kau menemukan informasi lebih." Denis menjelaskan.
Ke esokkan harinya
Devan mendatangi alamat yang dia dapat dari teman-temannya. Devan turun dari mobil dan mampir ke cafe yang ada di depan toko bakery milik Nuri sambil mencari tahu tentang Nuri.
Mata Devan langsung tertuju pada sosok perempuan berhijab yang baru sampai di toko bakery dengan seorang anak kecil perempuan yang diiringinya. Begitu wanita itu menoleh, Devan dari kejauhan langsung bisa mengenalinya. Dia langsung terpukau dan terlena melihat Nuri sangat indah dalam balutan busana muslim.
Memang banyak yang telah berubah, kau pantas berpenampilan seperti itu Nur. Aku lega akhirnya bisa menemukan keberadaanmu.
Tapi di mana anakku? Apa anak kecil itu putriku, Nayla Sandrina? Jika itu putriku terima kasih Ya Allah. Engkau telah menciptakannya dengan terlahir sempurna tanpa kekurangan apapun. Nak, menolehlah! Papa ada di sini.
Nuri meninggalkan Nayla sendirian di luar toko karna Nayla ngeyel tidak ingin masuk ke dalam. Nayla berlari ke pinggir jalan mengejar anak kucing yang lolos dari gendongannya. Devan tersenyum melihat putrinya sedang mengejar anak kucing langsung saja Devan menghampirinya.
Sebelum Devan sampai di sana, Nayla jatuh tersungkur yang membuat lututnya berdarah sedangkan anak kucingnya berlari ke tengah jalan. Devan berlari menyelamatkan anak kucing itu lalu menghampiri Nayla dan membantunya duduk menepi dari jalanan.
Devan menyuruh anak itu untuk menunggu sebentar karna dia akan mengambil kotak p3k untuk mengobati lutut Nayla. Devan segera kembali dan mengobatinya, Nayla menangis karna takut ibunya akan memarahi dirinya.
"Bunda pasti marah sama aku om hiks... hiks... Bunda tidak suka melihatku terluka." ucap Nayla lirih.
"Tenang ya nak, lukamu akan baik-baik saja om sudah mengobatinya. Dan om pastikan Bundamu hanya bisa berkata ya sudah lain kali hati-hati."
Tetapi pelukkan dan hiburan yang telah Devan berikan membuat Nayla tenang sampai bisa tersenyum. Dia merasa sangat nyaman saat pertama kali di peluk oleh orang asing. Meski ibunya melarangnya dekat dengan orang asing, tetapi Nayla seolah tidak mau lepas dari pelukkan Devan. Itukah yang dinamakan hubungan tak dapat diputus?
"Siapa om sebenarnya?" tanya Nayla sembari menatap mata Devan.
"Emm. Aku, panggil saja om dokter, siapa namamu nak?" jawab Devan sedikit gugup. Dia tidak mau Nayla mengetahui semuanya sekarang.
"Nayla Sandrina, om dokter. Bunda bilang nenek yang memberiku nama tapi aku bingung karna aku punya banyak nenek."
Anak sepolos Nayla bisa mengatakan apa saja yang dia ketahui. Devan hanya tersenyum mendengarkannya. Tidak salah lagi, sekarang putrinya sudah tepat berada di depannya bahkan dia bisa memeluk anak itu walau hanya sebentar. Devan tak henti berucap syukur dalam hatinya karna Allah telah memberkatinya dengan sempurna, Devan tahu pasti putrinya sangatlah pintar dilihat dari gelagat sikap dan caranya berbicara.
Devan mendengar suara Nuri dari kejauhan. Dia segera menghindarinya dengan kembali ke dalam mobil meninggalkan Nayla sendirian. Nuri berhasil menemukan putrinya dan dia terkejut melihat kaki anaknya terluka.
"Bunda, tadi ada om dokter yang mengobati kaki Nay."
"Oh ayah Nazmi datang kemari ya?" pikir Nuri.
"Bukan ayah tapi om dokter lainnya. Nayla tidak pernah bertemu dengannya."
"Sayang, Bunda peringatkan jangan dekat-dekat sama orang asing siapa tahu dia penjahat yang akan menculik anak kecil."
"Baiklah Bunda, Nay minta maaf." sesal Nayla.
"Iya sayang lain kali hati-hati. Ayo kita masuk anak-anak panti akan makan malam di toko Bunda."
"Yeee. Seru Nay punya banyak teman lagi." Nayla selalu gembira setiap kali akan bertemu anak-anak panti asuhan. Dan dia senang berbagi benda-benda yang dia meliki dengan mereka.
Author mau nanya, tolong kasih sarannya ya! Sejauh ini apakah tindakan yang Devan lakukan salah? di mana salahnya? Dan pantaskah jika dia mendapatkan maaf? Pantaskah dia mendapat pengakuan dari anaknya? Lalu apa pendapatmu tentang Dokter Nazmi setelah Devan kembali?