Devan & Nuri

Devan & Nuri
Belajar Masak



"Nuri... bangun! bangun!"


Sambil berteriak dan terus menabuh gendang yang dibawanya untuk membangunkan sang istri.


Pagi-pagi sudah terdengar suara yang nyaring diiringi suara gendeng dari panci dapur yang dipukul oleh Devan tepat terarah dekat telinga Nuri. Suara bising itu benar-benar membuat Nuri terkejut dan jengkel sampai dia harus bangun dari mimpi indahnya.


"Apa yang kau lakukan? memangnya sekarang sudah waktunya 17 Agustus?"


"Sudah berapa lama aku tidur sampai aku tidak sadar hari ulang tahun kemerdekaan sudah tiba, apakah aku koma selama setengah tahun Dev?"


"Bukan itu." jawab Devan.


"Lalu apa yang kau lakukan bawa panci sama sendok nasi, kau mau pawai keliling kampung ya?"


"Bukan itu juga." jawabnya lagi.


"Jadi apa maumu?"


"Aku mau kau mengajariku cara memasak nasi."


"Kau serius, masa masak nasi saja tidak tahu." Nuri kontan menertawakan suaminya sembari kembali meringkuk di dalam selimut.


"Ada-ada saja kau Dev, sudah sana masak sendiri aku mau tidur lagi." seakan tak percaya dengan permintaan Devan.


"Dasar bumil makin hari makin jadi magernya maunya cuma molor doang."


"Hei dengar ini bukan kemauanku, tapi dedek bayinya yang minta supaya mamanya banyak istirahat."


"Ah bilang saja bumil mageran."


"Yeah mending aku enggak manja, kalau aku manja kau yang akan kerepotan.


"Iya aku kalah deh, ya sudah aku masak nasi dulu."


"Awas nanti gosong nasinya." Nuri tersenyum melihat keseriusan Devan tapi dia tetap kembali tiduran.


Dengan wajah malas Devan menuju dapur. Mengambil alat tempat menaruh beras dari dalam rice cooker.


"Masukkan air dulu atau beras dulu ya?" bingung menggaruk kepalanya.


"Kayaknya air dulu seperti merebus mie instankan." ide yang cemerlang pun didapatnya.


Devan menuang air ke dalam rice cooker lalu menambahkan beras ke dalamnya. Masak nasi ala Devan akhirnya siap, sekarang Devan hanya menunggu nasinya matang.


Setengah jam menunggu, Devan pun kembali melihat nasi yang dia masak. Ternyata nasinya masih mentah sama sekali belum ada perubahaan.


"Kenapa enggak panas ya?"


"Apa mungkin benda ini rusak atau kerjanya memang begini, Nuri bilang tunggu saja tanpa perlu di ganggu nasinya akan matang sendiri."


Akhirnya Devan memutuskan untuk menunggu, setelah beberapa menit dia kembali melihat rice cookernya alhasil masih sama seperti tadi.


"Wah sudah pasti rusak ini, sudah 1 jam tapi belum ada perubahan panas juga enggak."


Devan pun mengangkat beras yang dimasaknya untuk dipindahkan ke kompor. Tepat saat itu Nuri menghampiri Devan untuk memastikan Devan sudah memasak nasi atau belum.


"Ada apa Dev?" tanya Nuri.


"Ini rice cookernya rusak jadi aku pindah saja masak di atas kompor."


"Benarkah alatnya rusak?"


"Alatnya enggak bisa panas apalagi namanya kalau bukan rusak, padahal aku sudah pencet tombol powernya tapi lampu kecilnya engga menyala juga."


"Padahal ini masih baru Dev, bagaimana mungkin bisa rusak kan kau sendiri yang membelinya."


"Tapi kan biasa hal seperti itu terjadi namanya juga barang harga murah pasti cepat rusak dong."


Nuri mengangguk bingung merasa tak percaya.


"Nuri, cara masak nasi di kompor gimana?" tanya Devan.


"Kau salin saja berasnya ke dalam panci biasa, Dev."


Sementara Nuri mendekati rice cooker yang dibilang Devan rusak, hati Nuri mengatakan kalau benda itu masih berfungsi semalam tapi bagaimana mungkin pagi ini tiba-tiba rusak. Jadi Nuri tidak percaya kepada Devan sehingga memastikan benda itu dengan sangat teliti.


"Dev, jangan dimasak dulu berasnya." kata Nuri tiba-tiba.


"Salin dan bawa lagi panci rice cookernya kemari." perintah Nuri.


Devan pun melaksanakan sesuai dengan yang Nuri perintahkan. Dia masih bingung bagaimana Nuri memaksa untuk memasak nasi dengan alat yang sudah rusak.


"Dev, apa kau yakin benda ini rusak?" tanyanya sekali lagi.


"Ya, tentu aku yakin sekali." Devan tetap meyakini apa yang sudah dilihatnya.


"Kau memang pintar saat sekolah, tapi kau tidak tahu kalau benda ini harus dicolokkan ke listrik dulu baru dia bisa bekerja." cetus Nuri sembari mengulum bibirnya menahan tawa.


"Ya ampun aku jadi malu, sungguh aku tidak tahu itu Nur." Seketika pipi Devan merona sampai dia tertunduk malu.


"Makanya belajar jangan sok tahu."


"Aku juga mau belajar, tapi kau bilang setelah beras dan airnya di masukkan ke dalam tekan tombolnya terus tunggu nanti akan matang sendiri, begitukan yang kau bilang?"


"Iya benar, tapi alat ini tidak otomatis sepenuhnya, apa kau tidak pernah masak nasi di rumahmu?"


"Jangankan masak nasi, bikin susu saja kak Nana yang buatin."


"Dasar anak manja." sembari mencubit hidung Devan dan segera berbalik menghadap belakang.


"Tapi kamu sukakan punya suami manja?" Devan datang menggoda istrinya.


"Emm. Entahlah?" Nuri menyeringai mengernyitkan dahinya.


"Cepat masukkan ke dalam panci rice cookernya." pinta Nuri.


"Ya Allah Devan..." tiba-tiba Nuri terkejut tanpa alasan.


"Ada apa Nuri, kenapa berteriak?" Devan sontak ikut terkejut.


"Rasanya aku pengin nangis sekarang." ucap Nuri.


"Aduh jangan nangis dong Nur, aku kan jadi bingung apa salahku."


"Aku nangis saja sekarang." akhirnya Nuri menangis tanpa alasan yang membuat Devan harus berpikir keras mencari setiap inci kesalahan yang telah dia perbuat.


huaaa... hiks... hiks...


"Nur, kenapa? apa tanganmu kena panci?"


"Bukan Dev."


"Aku mohon jangan nangis Nur, aku minta maaf kalau salah." segala cara dan upaya pun Devan lakukan demi membujuk istrinya.


"Dev, apa kau tidak mencuci berasnya?"


"Emangnya perlu dicuci ya? kayak baju saja harus dicuci."


"Semua perlu dicuci supaya bersih, apa kau tidak lihat airnya jadi penuh debu?


"Oh iya, mana aku tahu Nur, aku kan enggak pernah kayak gini."


"Hah. Kau ternyata orang yang aneh."


"Aneh apanya? suami tampan dibilang aneh."


"Emm. Tapi aku suka."


"Giliran aneh kau bilang suka, pas aku tampan kau enggak pernah bilang suka apalagi mengakui aku lelaki tertampan di dunia."


"Iya aku akui kau tampan."


"Nah gitu dong, aku kan jadi senang dengarnya." sembari melingkarkan tangannya di perut Nuri memeluk dari belakang.


"Kau tampan."


"Katakan sekali lagi! Devan suamiku laki-laki tampan sedunia." pintanya."


"Tapi bohong." dengan cepat Nuri mencolokkan kabel ke listrik lalu meloloskan diri dari pelukkan Devan, dan mereka pun bermain kejar-kejaran di dapur.


"Awas kau ya, kalau dapat enggak akan aku lepaskan lagi." ancam Devan sembari mengejar Nuri yang mempermainkannya mengelilingi meja makan.


Nuri merasa kelelahan karna beban perut yang dibawanya semakin hari semakin membesar. Devan membawanya duduk di kursi sembari berjongkok mengelap keringat di kening Nuri.