Devan & Nuri

Devan & Nuri
Aku Kembali



Siapa saja bisa punya masalalu yang kelam. Entah itu soal harga diri yang ternoda, kekasih memilih orang lain, terpisah oleh maut, atau karna sikap pengecut diri sendiri, masih banyak lagi. Namun, masalalu bukan untuk menjatuhkan dirimu lebih terpuruk lagi. Masalalu banyak mengajarkanmu bagaimana kau bisa bangkit dari lobang penderitaan yang telah menyiksamu. Orang lain mungkin tidak bisa membantumu, kau bisa bahagia dengan caramu sendiri. Tetapi, orang lain tetap kau perlukan dalam merangkai masa depan yang indah.


Devan Steven adalah si pengecut yang ingin membahagiakan Nuri. Namun, di masalalu dia telah sadar sudah salah dalam mengambil keputusan dengan meninggalkan anak dan istrinya. Seperti yang kita tahu, dulu dia hanyalah seorang remaja biasa yang tidak punya apa-apa, jalan pikir pun masih sangat sempit hingga perceraian dianggap sebagai jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah.Tetapi, kini dia datang kembali untuk membuktikan pada Nuri bahwa dirinya bisa menjadi sukses.


Aku kembali. Aku kembali untukmu dan buah hati kita. 7 tahun telah berlalu, zaman bisa saja berubah tapi cintaku padamu masih tetap sama. Hai, apa kabar kau dan anak kita? Aku yakin kau pasti merawatnya dengan sangat baik karna kau ibu yang tangguh.


Dia pasti sudah tumbuh besar dan menggemaskan seperti dirimu. Aku tidak tahu bayi itu laki-laki atau perempuan tapi yang aku tahu sungguh aku merindu. Aku semakin tidak sabar untuk menemui kalian dan memeluk anakku. Dan aku ingin menyampaikan rasa maafku padamu karna telah meninggalkan kalian berdua, tapi percayalah aku melakukan semua itu demi dirimu dan anak kita, Nur.


Setelah helikopter mendarat sempurna di atas gedung. Seorang pria gagah, putih dan berhidung mancung memakai setelah serba putih turun dari helikopter pribadinya, dia baru datang dari SWISS. Tiupan angin membelai rambutnya membuat wajahnya nan indah tertampang dengan jelas. Semua mata orang yang menyambutnya di buat terlena.


Dia melangkah dengan tegap di lapangan berkat kaki jenjangnya, diikuti oleh 2 pegawai yang membawa barang-barangnya. Wajahnya berseri-seri, senyuman sangat manis itu menyapa orang-orang di sekitarnya. Matanya sungguh indah, bercahaya bak purnama. Tentu saja siapa pun yang melihatnya akan mudah terpana, di mana lagi mereka akan menemukan dokter keren seperti itu masih sangat muda dan berprestasi.


Dia keluar dari gedung tempat helikopternya mendarat. Di luar gedung sudah ada seorang wanita yang menunggunya. Siapa lagi jika bukan Keysa, wanita yang sudah dari dulu mengejar-ngejarnya. Keysa juga baru sampai mereka memiliki satu tujuan sama-sama dari SWISS.


Keysa sudah melebarkan tangannya untuk mendapat pelukkan hangat dari dokter tersebut, dokter itu tersenyum melihat ke arahnya sembari berjalan.


Eittts!!! tunggu sebentar kemana dokter itu pergi? kenapa dia melintasi Keysa dan ternyata bukan tersenyum pada wanita itu.


Rupanya ada 3 sahabatnya yang sedari tadi berada di belakang Keysa, siapa lagi jika bukan Leo, Albi dan Denis. Mereka menyambut sang dokter muda dengan gentleman, berpelukkan ala pria sejati kini mereka bukan remaja lagi, mereka pantas disebut pria dewasa. 3 sahabatnya memberi ucapan selamat atas kesuksesan yang telah di raihnya selama 7 tahun merantau menuntut ilmu di negeri orang sampai akhirnya bisa menjadi orang besar.


"Ayo, kita pesta di rumah." sang dokter dengan senang mengajak sahabat-sahabatnya.


"Yoi Bro, let's go back to go home." sahut mereka serentak dengan gembira.


Wanita yang ada di belakang mereka tak mau ketinggalan, dia segera menerobos lalu menggandeng lengan dokter muda itu.


"Aku boleh ikutkan, Pak Dokter Devan?" katanya masih tetap manja.


"Turunkan tanganmu!" Devan dengan tegas menyingkirkan tangan Keysa yang sudah berani menyentuh tubuhnya.


"Kau yakin ingin mengajaknya, Dev?" ujar Albi.


"Hei memangnya siapa kalian? Aku berhak ikut karna aku dan Devan pulang dari negara yang sama. Penghasut kalian bertiga." hujat Keysa.


"Stop! Biarkan dia ikut." jawab Devan pasrah. Wanita itu kegirangan menggaet tangan Devan tapi Devan juga kembali menjauh. Wanita itu sangat menyebalkan masih saja dia tersenyum centil, padahal hatinya sangat sakit selalu mendapat penolakkan dari Devan.


Beberapa hari telah berlalu sejak kembalinya Devan ke tanah air. Tetapi sampai hari ini dia belum menemukan keberadaan Nuri dan anaknya, orang yang ingin sekali dia temui. Orang tuanya juga tidak tahu di mana Nuri pindah rumah, karna mereka tidak sempat bertanya waktu itu dan mereka lupa untuk meminta nomor telepon Nuri. Devan juga takut untuk bertanya kepada orang tua Nuri, karna dia tahu jika datang tiba-tiba menemui mereka suasana pertemuan tidak akan baik.


"Aku berjuang untukmu Nur, lihatlah aku menjadi dokter seperti cita-citamu. Tetapi di mana kalian sekarang Nur, tahukah kau jika aku sangat merindukan kalian berdua." tutur Devan di saat menghentikan mobilnya karna lampu merah.


"Dokter Devan, kami memilih Anda untuk menjadi Direktur Utama rumah sakit swasta ini." tutur dokter kepala yang hampir pensiun. Dia ingin Devan yang menggantikan posisinya. Tetapi, anak itu malah tertawa bukannya senang sampai mereka terheran-heran melihatnya.


"Pak Direktur kenapa Anda memilih saya sedangkan saya baru beberapa hari bekerja di sini, bagaimana kalian bisa mempercayai saya memegang tanggungjawab sebesar ini. Lihat Wakil Kepala, dia sudah lama mendampingi Anda pilihlah dia yang loyalitasnya sudah terjamin." kata Devan. Dia tidak sombong tapi sedang merendah diri.


"Dokter, Anda sarjana terbaik dan kami sudah mendengar karir Anda saat di Swiss seperti apa, mangkanya kami semua sepakat untuk memilih Anda memimpin rumah sakit ini." jelas Wakil Direktur.


"Dokter Kepala dan Wakilnya beserta dokter lain yang sangat saya hormati. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, saya tidak bisa menerima niat baik kalian yang satu ini." jawab Devan dengan rendah diri.


"Kenapa begitu Pak? Kami semua setuju dan mendukung Anda di sini." timpal dokter yang lain.


"Karna tujuan saya datang kemari bukan untuk mencari tahta, saya ingin mengabdi dengan sepenuh hati dan segenap jiwa saya untuk melayani pasien." jawab Devan dengan membungkuk memberi penghormatan untuk mereka semua.


"Baiklah Dokter Devan, Anda memang luar biasa. Beri tepuk tangan yang meriah." ucap Dokter Kepala dan Devan mendapatkan tepuk tangan meriah.


Mereka sangat terpukau dengan pengakuan dr. Devan. Ini pertama kalinya mereka menemukan orang yang benar-benar tidak ingin mengejar kedudukan. Jika orang lain di posisinya sekarang mungkin mereka akan menerima kedudukan ini dengan rasa bangga. Tetapi Devan sedikit pun tidak berminat. Baginya hanya menjadi dokter itu sudah lebih dari cukup, mengabdi untuk seluruh masyarakat yang membutuhkan selain itu dia tidak akan mengubah apa yang telah menjadi cita-cita Nuri.


*****


"Bagaimana Al, apa kalian sudah berhasil melacak keberadaan Nuri?" tanya Devan pada ketiga sahabatnya yang dia perintahkan untuk mencari keberadaan Nuri dan anaknya.


"Apa mungkin mereka pindah dari negara ini?" Devan mendadak lesu dan matanya ikut sembab.


"Aku yakin Dev, Nuri masih di kota ini hanya saja kita belum berhasil menemukannya." ujar Leo.


"Kalian gimana sih Al, Leo, Den. Aku sudah menyuruh kalian untuk mengawasi Nuri sampai aku kembali." Devan merengut kesal.


"Kami sudah mengawasinya tapi setelah Nuri melahirkan kami langsung kehilangan jejaknya begitu saja. Bahkan kami sudah mendatangi rumahnya, orang tuanya tidak mau bicara pada kami." jelas Albi.


Di mana kamu sekarang Nuri, aku sudah kembali untukmu. Temui aku sekali saja Nur, agar aku dapat memastikan kamu dan anak kita baik-baik saja.


"Dev, sepertinya perjuanganmu akan sia-sia." tambah Denis semakin membuat Devan memanas dan gelisah.


"Atau jangan-jangan Nuri sudah menikah lagi. Hah! Devan bagaimana jika itu terjadi?" timpal Leo dengan isengnya membuat Devan murka.


"Hah. Pulang kalian semua! Aku mau sendiri." ucap Devan tegas dia mulai gusar. Bisa-bisanya dia malah dijahili oleh ke 3 temannya.