
Membina rumah tangga dalam usia yang masih sama-sama muda, tidak memiliki pengalaman, pikiran yang masih mentah alias belum matang memang sangatlah tidak mudah. Orang yang sudah sama-sama dewasa saja, pemikiran pun sudah mantap dan matang untuk menikah terkadang masih sering mengeluh saat rumah tangganya diterpa masalah baik itu masalah kecil atau pun berat. Namun tidak ada salahnya dengan usia muda jika mereka mau bersama-sama berjuang dan memperbaiki segala kesalahan.
Mata itu terus memandang apa yang ingin dia lihat. Senyum itu selalu melengkung saat melihat bibir merah muda itu tertawa. Devan meluangkan waktunya untuk menemani istrinya bermain di taman.
Sudah lama sejak mereka menikah, Devan tidak pernah melihat Nuri tertawa terakhir kali mereka tertawa bersama ketika SMP saat mengerjai guru olahraga yang menghukum mereka berjemur di lapangan karna mereka tidak memakai seragam olahraga. Setelah mendapat hukuman, Devan dan Nuri memakan pisang di koridor sekolah begitu guru tersebut keluar dari dalam kelas Devan membuang kulitnya di lantai setelah itu mereka pergi bersembunyi dengan yakin guru itu akan lewat di jalan tersebut. Setelah mereka menghitung 1-3 akhirnya malah guru lain yang terpeleset, mereka terbahak-bahak tertawa karna mengira guru olahraganya sudah pingsan yang berujung pada hukuman, mereka di hukum menari seperti monyet di lapangan upacara sehingga menjadi tertawaan oleh warga sekolah.
"Dev, kemari." suara Nuri memanggil memecah lamunan Devan. Laki-laki itu berlari mendekati istrinya diiringi senyum semangat yang terpancar di wajahnya.
"Ada apa? Apa kau lelah dan ingin pulang?" tanya Devan duduk berjongkok di bawah Nuri yang sedang menduduki ayunan.
Nuri menggeleng dia masih betah bermain ayunan sambil melihat capung-capung berterbangan, dan meminta Devan untuk mengayunkannya kencang-kencang. Karna Nuri sedang hamil Devan memperlambat gerakkan tangannya mengayunkan Nuri, tetapi bumil itu merengek dengan bawelnya minta di kencangkan.
"Devan, kenapa hari ini kau mengajakku ke taman apa kau ingin menunjukkan padaku kalau kau itu sebenarnya perhatian?"
"Lihatlah di sana banyak muda-mudi yang membawa pacarnya ke taman."
"Tapi kita enggak pernah pacaran."
"Itulah bedanya kita sama mereka."
"Memang apa bedanya, katakan!"
"Kita pacaran setelah menikah, bukankah itu mengasyikkan?"
"Aku mau seperti mereka, lihatlah mereka bermain sepeda bersama bisakah kita melakukan itu juga?"
"Kau mau naik sepeda?"
"Hmm" mengangguk.
"Jangan ya nanti bahaya untuk anak kita." tangan Devan tiba-tiba menyentuh perut Nuri.
"Anak kita?" Nuri kembali mempertanyakan keyakinannya.
"Iya anak kita, karna aku memanglah ayah dari anak ini." Devan kali ini benar-benar mengakuinya.
"Mengapa tiba-tiba kau mengakuinya?"
"Aku mulai menyayanginya, aku ingin bisa merawat dan menjaganya seperti kau menjaganya." tutur Devan.
"Ah, kau manis sekali kali ini." Nuri mengulum senyuman.
"Ayo kita pacaran seperti mereka." ajak Devan sembari melingkarkan tangannya ke tangan Nuri.
"Ayo cepatlah." Nuri dengan gembira menariknya.
"Gantung diri saja sana, memangnya ada orang yang mati gantung diri di pohon cabai."
Sambil tertawa Nuri berlari dan Devan mengejarnya ke tempat menyewa sepeda di taman.
"Bang, berapa sewa dua sepeda?" tanya Devan.
"Lima belas ribu 1 orang."
Devan membuka dompetnya hanya tersisa selembar uang 50.000 dan memang itu uang yang dia punya.
Aduh mana Nuri pengin naik sepeda tapi uangku malah adanya segini, ya sudahlah enggak masalah yang penting dia senang lagi pula lusa sudah gajian.
"Dev, kenapa bengong ayo buruan bayar kita naik sepedanya, aku sudah tidak sabar." saat Devan kebingungan istrinya malah sudah duduk di atas sepeda sambil berteriak sangat tidak sabar untuk mengayuhnya.
Nuri masih melihat suaminya mikir-mikir hingga di dekatinyalah sang suami.
"Ada apa Dev?" tanya dengan nada pelan seolah mengerti apa yang Devan pikirkan.
"Tidak apa-apa kau naiklah, aku tidak akan naik sepeda biar kau saja tapi tenang saja aku akan menemanimu dengan berjalan kaki." Devan tetap merahasiakan agar tidak membuat Nuri sedih, mungkin dengan dirinya mengalah Nuri bisa naik sepeda sendiri.
Mengapa kau tidak terus terang saja Dev jika kau tidak punya cukup uang, aku juga tidak akan memaksa jika tahu dari awal.
"Bang, kita tidak jadi naik sepedanya maaf ya." ujar Nuri.
"Ada apa denganmu, bang tetap jadi naik sepeda tapi untuk satu orang saja." kata Devan menyangkal Nuri.
"Dev, jika tidak punya uang sudah jangan dipaksakan aku tidak pernah memaksamu, lebih baik kita kembali bermain ayunan saja." bisik Nuri yang ternyata didengar oleh abang yang menyewakan sepeda.
"Kemarilah kalian berdua mau ke mana?" abang itu memanggil mereka saat Devan dan Nuri beranjak dari tempatnya.
"Kami mau ke sana bang." jawab Devan.
"Jangan khawatir soal uang, saya punya sepeda unik 1 sepeda bisa dikayuh oleh 2 orang, kalian boleh memakai sepeda ini dengan cukup membayar uang lima belas ribu." ucapnya sembari menyerahkan sepeda tersebut pada Devan dan Nuri. Bayangkan saja sepedanya Upin & Ipin.
"Wah serius bang?" Nuri amat kegirangan dengan sepedanya.
"Iya, harga sewa sebenarnya 20 ribu tapi tidak masalah di diskon 5 ribu."
"Kami jadi sewa sepedanya bang, terima kasih." kata Devan ikut senang.
Devan senang saat Nuri gembira tetapi dia merasa sedih saat gagal membuat Nuri tersenyum. Begitulah sosok Devan sekarang yang tidak mau Nuri tahu kesusahan apa yang tengah dia rasakan karna Devan benar-benar ingin Nuri bahagia meski dirinya yang harus bekerja keras.