Devan & Nuri

Devan & Nuri
Ada Perubahan



"Jika aku sudah minta maaf, apa kita bisa meneruskan rencana pernikahan?"


"Tidak!"


"Kenapa? Aku kan sudah tulus mau minta maaf demi kamu Dev."


"Aku sudah putuskan untuk kembali ke Swiss untuk mengambil gelar Profesor."


"Lagi pula apa kamu mau menikah dengan orang yang sama sekali tidak mencintaimu, kamu yakin kamu akan bahagia?"


"Seburuk apapun aku tapi aku juga ingin dicintai, aku tidak mau Dev menikah denganmu. Aku tahu tidak mudah mendapatkan hatimu, mulai detik ini aku akui aku menyerah."


"Aku senang kamu mau mengakui kekalahan tapi bukan berarti kamu kalah, inilah awal kemenanganmu dalam menemukan orang yang benar-benar bisa mengubahmu menjadi lebih baik."


"Terima kasih. Lalu bagaimana dengan kamu, Dev? Kamu sangat mencintai Nuri kenapa tidak kamu perjuangkan saja selagi dia belum menjadi milik orang."


"Tidak perlu kasihan atau menasehatiku, aku tahu apa yang perlu ku lakukan. Terkadang kita harus pergi tanpa memiliki, karna kebahagiaan tidak harus selalu mendapatkan yang kita mau, cobalah untuk berkorban agar kita tahu arti cinta."


Sakit rasanya ketika cintamu harus bertepuk sebelah tangan tapi setelah mengingat bagaimana Devan berkorban untuk Nuri, Keysa pun akan melakukannya untuk Devan pertanda dia sangat mencintai Devan. Keysa menyesal hanya karna memperjuangkan cinta sepihak, dia sampai menjadi orang jahat serta melakukan perbuatan jahat yang pada akhirnya semua tetap sia-sia.


Usai berbagi sedikit rezeki pada fakir miskin dan anak jalanan, Nuri segera kembali ke toko bakery.


"Assalamu'alaikum, Nur." suara lembut yang terdengar langsung membuat Nuri memutar tubuh ke belakang.


Betapa terkejutnya Nuri, melihat Keysa berpenampilan sepertinya memakai baju muslim dan hijab yang menutupi hingga dadanya. Nuri melihat perubahan yang sangat signifikan terjadi pada Keysa, padahal baru kemarin Keysa datang melabraknya masih memakai pakaian sexy yang menonjolkan lekuk tubuh, tetapi dihari pertemuan mereka kali ini Nuri menatapnya tanpa berkedip sambil tersenyum sampai lupa menjawab salam.


"Assalamu'alaikum Nur." sehingga Keysa harus mengulang salamnya.


"Wa'alaikumu salaam." jawab Nuri baru dia sadar.


"Masya Allah Keysa, apa ini benar-benar kamu? Aku senang sekali melihatmu seperti ini kamu sangat cantik." tutur Nuri yang tampak terkagum-kagum, Keysa merasa sangat tersanjung mendengarnya tapi dia masih malu mengingat banyak kesalahan yang telah dia lakukan.


"Silakan duduk Key, mau pesan apa?"


"Tidak usah Nur, aku cuma mau bicara 4 mata sama kamu." sembari duduk.


"Iya, kamu mau bilang apa Key? Kayaknya serius banget." terpancar sangat jelas di wajah Keysa ada hal sangat penting yang akan dia sampaikan.


"Nur, aku mau minta maaf. Aku selalu jahat sama kamu." Keysa langsung meraih kedua tangan Nuri dan menelungkupkan di wajahnya.


"Sudah kewajiban memaafkan orang yang mau mengakui kesalahannya, aku tidak pernah dendam sama kamu Key, bahkan sebelum kamu minta maaf aku sudah memaafkanmu karna aku yakin cepat atau lambat kamu pasti akan berubah." sambil tersenyum dan selalu ikhlas.


"Tapi jika kamu tahu apa kamu akan tetap memaafkanku?"


"Memangnya ada apa?" tatapan Nuri berubah seketika.


"Se-sebenarnya..." takut membuat Nuri marah Keysa menjadi gugup untuk mengakui kesalahannya.


"Saat itu pikiran Devan masih labil, tapi bukan berarti dia tidak mau mempertahankan kamu Nur, sebenarnya dia sangat terpukul setelah kalian berpisah. Aku tahu semuanya bagaimana perjuangan Devan, dia benar-benar menempuh pendidikan hanya untuk kamu dan Nayla. Kamu tahu Nur, dia terus mengeja kalimat aku pasti sukses untuk Nuri dan buah hatiku. Aku pernah bertanya jika kamu gagal apa kamu akan kembali untuk mereka, dia jawab apa Nur? Dia hanya menjawab aku akan sukses aku yakin pada takdir Tuhan."


Kenapa kamu tidak pernah cerita Dev, aku kecewa padamu kamu malah mengambil keputusan sepihak. Jika kamu beritahu aku masalahmu mungkin kita tidak akan berpisah saat itu.


"Devan akhirnya beneran sukses dan sempat meniti karir di sana selama beberpa tahun, setelah yakin layak menjadi dokter dan sudah pantas menjadi suamimu, dia pulang untuk menemui dan Nayla, tapi ketika berhasil mencari keberadaan kamu dan Nayla dia malah melihatmu bersama oranglain dan aku memakai kesempatan itu agar dia berhenti mengejarmu." lanjutnya sambil berusaha meyakinkan Nuri mengenai perjuangan Devan, dengan harapan bisa menyatukan mereka berdua sebagai penebus kesalahan.


"Apapun yang terjadi di masalalu biarlah semuanya berlalu, mungkin saja hanya sampai disitu pernikahan kami Key. Sekarang aku dan Nayla sudah menemukan kebahagiaan kami, tolong jangan mengungkit kisah lama ya Key."


"Tapi..." belum selesai Keysa bicara, Nuri memotongnya.


"Kamu tidak perlu merasa bersalah, aku memaafkan semua yang kamu lakukan baik itu dulu atau sekarang. Mengenai Devan, kamu jagalah dia baik-baik. Kalian akan menikah tidak baik membahas hubungan kami yang sudah berlalu, kamu masa depannya bukan aku." tutur Nuri sambil menepuk pundak Keysa dengan tegar.


"Nur, kamu baik sekali. Atas kebaik hatimu, aku mau beritahu kamu sebenarnya tidak ada hubungan apa-apa antara aku dan Devan, semua kata-kata palsu sengaja kubuat untuk menjauhkan kalian, beberapa hari lagi Devan akan ke Swiss. Sekali lagi aku minta maaf Nur." sesal Keysa.


Nuri terdiam, tidak ada yang bisa Nuri harapkan meski Keysa sudah berusaha memberitahu kalau Devan masih mencintainya, tetapi tetap saja Devan memilih pergi dibanding memperjuangankan cintanya. Sebagai wanita yang mempunyai tingkat kegengsian yang tinggi, Nuri mau Devan mengungkapkan perasaannya sekali lagi secara langsung bukan melalui orang lain.


Lalu Nazmi juga datang, dia masih melihat Nuri dan Keysa sedang duduk berdua saling diam-diaman. Keysa dan Nuri serentak melihat ke arah depan di mana Nazmi sedang menuju mereka.


Keysa berdiri dari duduk diikuti oleh Nuri dan Nazmi menghampiri mereka.


"Nur, aku pamit dulu ada rapat di kantor soalnya." Keysa langsung pamit begitu Nazmi tiba.


"Iya Key." mengangguk sambil senyum. Keysa pergi, lalu Nuri mempersilakan Nazmi duduk.


"Kak, mau ngemil kue apa?"


"Burger aja Nur."


"Minumnya?"


"Seperti biasa kopi panas tanpa rendah gula."


Beberapa menit kemudian Nuri datang membawa makanan yang Nazmi pesan.


"Kenapa dia datang lagi kemari? Kamu tidak diapa-apakan sama dia?" Nazmi begitu cemas saat melihat Nuri hanya melamun.


"Tidak kak. Dia sudah berubah sepertinya."


"Syukurlah kalau gitu, kalau ada apa-apa bilang sama kakak." Nuri menjawab dengan anggukkan.


"Kak, kakak enggak apa-apa jika besok papanya Nayla juga datang ke perlombaannya?" Nuri malah mengkhawatirkan perasaan Nazmi jika melihat perhatian Nayla terbagi.


"Kenapa bertanya begitu Nur, jelas aku tidak keberatan aku juga ingin tahu seperti apa papanya Nayla. Pasti dia juga hebat sama seperti Nayla yang pintar sedari kecil." jawab Nazmi sambil tersenyum ketika membayangkan seperti apa sosok Devan yang dimaksud.