
Setelah saling mengenal sangat lama antara Nuri dan Nazmi, pernikahan yang semula hanya jadi wacana mulai diseriusi oleh orang tua masing-masing.
Di mata Aryo dan Aliya, Bu Rahma dan Dokter Nazmi bagai malaikat penyelamat yang membebaskan Nuri dari jerat penderitaan yang Devan goreskan. Mereka berkunjung ke rumah Bu Rahma atas undangan dari Bu Rahma untuk mengajaknya makan siang. Sedangkan Nuri dan Nazmi tidak tau apa-apa mengenai hal ini, mereka masih bersuka cita atas kemenangan Nayla menjadi hafis Qur'an terbaik antar sekolah.
Setelah makan siang selesai mereka kembali berbincang-bincang di ruang tamu, terus membahas persiapan pernikahan yang telah di tentukan 2 minggu lagi.
"Di musim pandemi sekarang saya rasa acaranya tidak perlu mengundang banyak tamu, demi menjaga keamanan dan keselamatan kita semua." usul Aryo memberi pendapatnya.
"Saya setuju sekali Pak Aryo, saya serahkan semuanya pada pihak Bapak." jawab Bu Rahma sependapat. Kemudian suasana hening sembari menunggu orang yang ditunggu datang.
"Mereka datang Pak Aryo, Bu Aliya." ucap Bu Rahma mendengar suara mobil masuk ke pekarangan rumahnya, Ia kenal betul suara mobil Nazmi.
Nazmi, Nuri dan Nayla yang berada dalam gendongan Nuri mulai memberi salam sambil membuka pintu untuk masuk ke rumah.
Bu Rahma menjawab salam mereka, Nazmi dan Nuri langsung dikejutkan atas kedatangan Aryo dan Aliya tiba-tiba.
"Paman, bibi." Nazmi menyalimi tangan mereka bergantian.
"Apa kabar, nak?" tanya Aryo basa-basi
"Alhamdulillah baik, paman." jawab Nazmi tanpa ada rasa curiga.
"Ayah, ibu, kenapa kalian datang ke rumah Nuri?" bukan maksud Nuri tidak senang orang tuanya datang, melainkan ia merasa ada sesuatu yang terencana antara orang tuanya dengan Bu Rahma.
"Memangnya ibu dan ayah tidak boleh rindu sama anak dan cucu kami, tidak ada yang larangkan kami datang kemari?" Aliya menyahuti
Kecurigaan bermain dalam benaknya, "Ga biasa aja kalian datang, bu."
Bu Rahma meminta semuanya untuk duduk sambil minum teh yang barusan ia buat sebelum membahas hal ini.
"Nenek, kakek, Nay dapat juara 1 lho." Nayla mengutarakan rasa senang karna dapat piala pada kakek neneknya.
"Kamu masuk kamar dulu ya sayang, nenek sama kakek ada bicara sama bunda dan papamu, nanti nenek beliin baju princess yang paling bagus karna kamu udah menang." bujuk Rahma, Nayla hanya mengangguk pelan lalu Aliya memapahnyamasuk ke kamar.
"Nazmi, bunda mau tanya sama kamu tapi kamu harus jawab yang jujur katakan semua yang kamu rasakan selama ini." ujar Bu Rahma
"Ada apa ini bun, kenapa seolah bunda sedang mengintrogasi kami?" Nazmi bertanya tapi tidak dapat menebak apa yang ingin Rahma tanyakan.
Sedangkan Nuri merasa berat hati karna ia bisa menebak semuanya melalui perasaan curiga yang sedari tadi ia taruh.
"Mau kah kalian menikah demi bunda?" permintaan dari Rahma tentu mengejutkan Nazmi dan Nuri hanya bisa diam tidak tau harus menjawab apa.
"Apa, menikahi Nuri, bun?" jawab Nazmi dengan nada terkejutnya. Bu Rahma mengangguk mengiyakan.
"Bunda, Nazmi sudah membahas ini sama bunda bahwa Nazmi hanya menganggap Nuri sebagai adik, Nazmi ga bisa menikahi adik Nazmi sendiri." ungkap Nazmi berlainan dengan perasaan yang ada dalam hatinya.
Tetapi sebagai seorang ibu yang melahirkan dan menyusuinya, Bu Rahma tau kalau putranya sedang berbohong.
Bu Rahma mengeluarkan cincin dari dalam tasnya menunjukkan pada semua, Nazmi tercekik terbongkar sudah rahasia bertahun-tahun yang coba ia tutupi, Nuri juga spontan melihat cincin itu dengan mata menganga.
"Apa salahnya menikah kalian tidak sedarah dan sesusu, dan asal kamu tau bunda sudah lama melihat cincin ini dalam kamarmu, untuk siapa lagi kalau bukan untuk wanita yang kamu sebut sebagai wanita impian yaitu Nuri."
"Cukup sudah permainan bunda, Nazmi memang suka bahkan Nazmi siap menerima Nuri dan Nayla sebagai anak tapi itu dulu, sebelum Nazmi tau Nuri masih mencintai Devan." jawabnya dengan segala upaya menutupi malu karna Nuri sudah tau segalanya.
"Bu Rahma yang dikatakan nak Nazmi tidak benar, Nuri tidak lagi mencintai Devan." Pak Aryo menyalip pembicaraan.
"Benarkan kamu tidak ada rasa lagi sama Devan, nak?" tanya Aryo pada Nuri.
Tidak tau harus mengatakan apa, jujur pun tiada guna karna ayah pasti membenci Devan tiada harapan untuk bersama lagi.
"Tenang semuanya, dari tadi kita belum mendengar jawaban dari Nuri." ucap Rahma
"Nak, bagaimana apa kah kamu setuju menikah dengan Nazmi?"
Next...
Jawaban apa yang akan Nuri berikan untuk membuat orang tuanya dan Bu Rahma, akan kah Nuri menyetujui pernikahannya dengan Nazmi? mungkinkah Devan akan datang merebut kembali hati orang tua Nuri?