
Devan sudah meminta bantuan Albi untuk menyelidiki kasus rencana pembunuhan yang dialami Nuri. Devan bangga dengan Albi sekarang resmi ditunjuk menjadi agen intel rahasia sehingga Devan bisa mempercayai Albi menyelesaikan kasus ini secara cepat dan tepat.
Benar saja dalam waktu 24 jam Albi berhasil menghubungi Devan dan dengan mudah menangkap pelaku yang telah mencelakai Nuri secara sengaja. Devan buru-buru ke markas persembunyian Albi ternyata Keysa adalah pelakunya.
"Sebenarnya apa mau mu dari dulu tidak pernah berhenti mengganggu Nuri, sekarang aku tidak akan memaafkan kamu nyawa Nuri hampir saja melayang akibat ulahmu."
"Aku menyesal karna cinta aku bisa bertindak serendah ini, Dev jangan khawatir aku sudah menyerahkan diri pada temanmu ini, aku lebih baik diam di dalam penjara agar bisa pelan-pelan melupakanmu dan belajar menjadi lebih baik." ucap Keysa penuh rasa menyesal
"Aku percayakan dia denganmu jangan sampai dia kabur." tegas Devan pada Albi
"Jangan cemas kawan, aku pasti membuatnya jera sehingga tidak berani melakukan kejahatan lagi." ucap Albi sambil tersenyum sinis melihat Keysa kemudian memborgol kembali tangan Keysa bersama rekan-rekannya yang membantu dalam melancarkan tugas Albi, lalu membawa Keysa masuk ke dalam mobil untuk ditindak lanjuti di kepolisian pusat.
*
*
Siang itu Devan menjemput Nayla ke sekolah. Devan akan mengajak Nayla ke rumah sakit untuk bertemu ibunya.
Devan menunggu Nayla di luar mobil tepat di depan sekolah Nayla. Saat Nayla keluar dari gerbang sekolah matanya langsung tertuju pada sosok tampan sedang bersandar di mobilnya.
"Papa Devan." Nayla memanggil Devan dengan sangat girang sambil berlari.
Devan memeluk putri semata wayangnya, akhirnya mereka bisa bertemu dan saling berpelukkan kembali.
"Papa punya hadiah buat kamu, anggap saja sebagai tanda permintaan papa karna tidak hadir saat perlombaan kemarin."
"Apa itu pa, Nay mau lihat sekarang!"
Devan membuka pintu mobil dan mengambil boneka teddy besar hampir seukuran Devan. Nayla sangat gembira menari-nari lincah di hadapan Devan.
"Papa, Nayla suka sekali sama teddy." kata Nayla sambil senyum
Putriku mungkin ini hadiah terakhir yang bisa papa berikan untukmu, seterusnya Nazmi yang kamu anggap ayah akan memberimu kebahagiaan.
Devan rasa tak tahan melihat kebahagiaan yang terpancar di raut wajah putrinya hanya membuat Devan semakin sedih.
"Kita ke rumah sakit temui bunda." ucap Devan sembari mengulurkan tangan mengajak Nayla untuk segera pergi.
Sesampainya di rumah sakit Devan membawa Nayla dalam gendongannya. Anak itu terlalu senang karna sedang bersama orangtua kandungnya dan tidak mau jauh dari Devan.
Nuri di dalam ruang inap baru saja selesai menelepon Nazmi. Nazmi memberitahu ia akan datang bersama orang tua mereka. Sebenarnya Nuri kesal dan tidak semangat setiap orangtuanya datang pasti hanya membahas soal pernikahan.
tiba-tiba Nuri membisu saat Devan dan Nayla datang membesuk. Nuri melihat Devan dengan tatapan kemarahan, kesal karna Devan baru datang setelah ia hampir sembuh.
"Aku minta maaf karna sudah lancang menjemput Nayla tanpa memberitahumu." ucap Devan
"Bunda jangan marah sama papa, papa sudah minta maaf sama Nay karna kemarin papa ga datang diperlombaan."
"Sayang, kamu belum mengerti nak. Nayla bisa keluar sebentar bunda mau ngomong sama papamu." ucap Nuri lalu Nayla keluar dan membiarkan bunda papanya berdua.
"Kamu ga datang juga ga masalah, aku sudah sembuh dan bisa pulang sore nanti lebih baik kamu pulang saja."
"Rumah sakit ini tempat aku bekerja jadi kamu tidak bisa mengusirku."
Ya ampun dia benar bagaimana aku bisa lupa di sini tempat dia bertugas, duh jadi malu dulu aku kan pernah kemari cuma buat bertemu dia.
batin Nuri mendadak ke dua pipinya memerah.
Aku ga bisa berharap sama orang sepertinya, dia bahkan baru menjengukku sekarang.
"Kalau begitu kamu keluar saja dan lanjutkan tugasmu jangan kemari aku mau istirahat." menarik selimut dan berbaring kembali
"Aku memang akan pergi bahkan sudah berencana untuk pindah dan tidak akan kembali ke sini lagi, karna ini aku mau menemuimu sebentar." tutur Devan
Nuri terperangah membuatnya duduk lagi setelah mendengar Devan akan pergi.
"Baguslah kalau kamu mau pergi sudah seharusnya tempatmu bukan di sini."
"Kamu benar tempatku bukan di sini, tetapi mulai sekarang setiap bulannya aku akan mengirimi uang untuk Nayla, jangan terima uang dari Nazmi lagi karna aku akan bertanggungjawab pada Nayla, anakku."
Dan kedua kalinya kamu pergi tanpa membawa aku di sisimu, apa kamu sengaja mempermainkanku untuk apa kamu kembali jika hanya terus memberiku harapan yang tak kunjung ditepati. menggerutu dalam hati