Devan & Nuri

Devan & Nuri
Tiada Hentinya



Devan membelikan Nuri sepeda mini agar istrinya itu bisa lebih mudah mengantar kue pesanan para pelanggan. Hubungan Nuri dan Devan semakin membaik, karna Devan sudah berjanji untuk menjadi suami yang bertanggungjawab. Nuri senang karna Devan tidak melarangnya untuk membuka usaha kue kecil-kecilan, dengan syarat dia harus tetap menjaga kesehatannya agar suaminya tidak membuat alasan untuk melarangnya.


Jika biasanya Nuri mengantar kue dengan naik ojek, sekarang dia bisa mengayuh sepedanya mengantar pesanan para pelanggan jadi lebih praktis. Kompleks demi kompleks Nuri hampiri, kebetulan dia sedang menerima banyak orderan. Rasa syukur selalu Nuri panjatkan, berapa pun hasil yang dia terima dia akan selalu bersyukur setidaknya mereka tidak bergantung lagi kepada orang tua dan kakak-kakaknya.


"Lain kali saya pesan lagi Nur, kue buatanmu ini walau bentuknya sederhana tapi rasanya enggak kalah lezat kayak di toko bakery langganan saya dan harganya lebih murah lagi jadi saya bisa hemat kantong."


"Hmm, terima kasih nyonya saya senang jika banyak yang suka."


"Kalau gitu saya pamit dulu nyonya, masih ada beberapa pack yang harus diantar."


"Hati-hati Nuri bawa sepedanya, jaga baik-baik kandunganmu."


Nuri pun melanjutkan mengantar pesanan. Dia merasa senang banyak orang yang menyukai kue buatannya dan pelanggannya juga peduli pada dirinya.


Namun, ada saja cara orang-orang yang iri terhadap dirinya untuk menghancurkan kebahagiaan yang tengah dibangunnya.


Di jalan saat menuju arah pulang, Nuri tak sengaja berpapasan dengan mobil berwarna merah yang ketika itu langsung berhenti di dekatnya.


Nuri tak menyangka ternyata Keysa bersama teman-temannya sengaja ingin menemui Nuri.


Mereka mau apa, aku harus berhati-hati.


"Kalian mau apa?"


Keysa semakin dekat dengan Nuri, Nuri berhati-hati terhadap mereka terutama dalam melindungi kandungannya, Nuri tidak akan membiarkan Keysa mendorong dirinya dan membuatnya keguguran.


"Guys hancur semua barang yang dia bawa." perintah Keysa.


Keysa tidak menggubris pertanyaan Nuri, dia hanya memerintahkan teman-temannya untuk merusak kue yang Nuri bawa. Kue pesanan pelanggan hancur dilempar dan diinjak-injak oleh Keysa bersama dua temannya.


Nuri tidak berdaya untuk menghalangi kelakuan buruk mereka, sehingga hanya bisa diam dan menangis melihat kuenya hancur. Nuri mengalami kerugian tidak begitu besar tapi dia harus tetap mengganti kue yang rusak yang belum sampai ke tangan pelanggan karna pelanggan sudah membayarnya.


"Kenapa kalian tega melakukan ini padaku, apa salahku? sehingga kalian tiada henti menggangguku." rintinya sambil memungut sisa-sisa kue yang sudah hancur sambil terisak tangis.


"Itu yang pantas kau dapatkan." seru Keysa.


"Auh sakit Keysa... ah..." Nuri menjerit ke sakitan saat wanita itu menginjak tangannya.


"Sakit Keysa, lepaskan tanganku." rintih Nuri, Keysa langsung mengangkat kakinya.


Terlepas dari injakkan kaki Keysa giliran rambut Nuri yang dijambak oleh Keysa yang membuat leher Nuri miring ke sebelah kanan.


"Heh. Aku tidak akan membiarkan orang sepertimu bahagia." ancamnya.


"Apa salahku sama kalian?"


"Karnamu, dia menolakku."


"Dia siapa?"


"Alah jangan belagak pikun."


"Lepaskan aku, Keysa." bentak Nuri, wanita itu semakin kuat menarik rambut Nuri sampai Nuri setengah terhuyung hampir mencium aspal.


"Berani kau membentakku akan kubuat bayimu itu keguguran."


"Cukup Keysa." Dengan sigapnya Nuri menangkap tangan Keysa dari kepalanya dan menangkisnya dengan kuat.


"Kau pikir hanya karna aku hamil kau bisa menindasku, apa kau pikir orang hamil tidak berani melawan?"


"Kau..."


Nuri menguatkan tenaganya untuk kembali berdiri tegap menghadap wanita yang ingin menindasnya. Mata elangnya membuat Keysa merasa takut, Nuri hendak menampar wajah Keysa tapi emosinya tiba-tiba tertahan. Tidak ada gunanya berdebat dengan orang seperti mereka, Nuri dengan sengaja melempar kue yang di pungutnya ke hadapan Keysa dan teman-temannya sehingga kaki mereka kotor setelah itu dia buru-buru naik ke atas sepedanya.


"Hei urusan kita belum selesai, kemari kau." teriak Keysa tapi Nuri tetap terus mengayuh sepedanya.


"Arghhh! Dia benar-benar-benar berani melawanku." Keysa mendengus kesal.


Akhirnya Nuri sampai di depan rumah pelanggannya yang tinggal di kompleks yang sama dengannya.


Dengan berhati-hati, Nuri mencoba mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kal,i penghuni rumah segera membukakannya pintu.


Nuri bingung harus dari mana memulai pembicaraan tentang kuenya yang sudah hancur. Bu Rahma bisa menebak raut wajah Nuri terlihat membingungkan seperti habis melakukan kesalahan, dia pun mengajak Nuri untuk masuk ke dalam rumahnya mungkin dengan begitu Nuri akan merasa nyaman dan mau membagi dukanya.


"Bu Rahma, saya mau minta maaf sama ibu." ujar Nuri dengan suara yang gemetar.


"Katakan nak, apa yang terjadi?"


"Bu, kue pesanan ibu hancur." ujar Nuri sangat menyesal.


Bu Rahma kaget hendak memarahi Nuri, karna dia memesan kue itu untuk putranya yang akan pulang hari ini tapi Nuri dengan mudahnya menghancurkan kue pesanannya.


"Bu, saya minta maaf tadi saya mengalami kecelakaan ringan di jalan membuat kue itu jatuh dan rusak, tapi saya janji bu akan mengganti setiap kerugiannya dan besok saya akan menggantinya."


"Apa kau terluka Nuri? berikan tanganmu biar ibu lihat lukanya."


"Ini hanya luka ringan bu, bu saya akan mengganti kuenya." ujarnya lagi.


"Sudah jangan dipikirkan saya enggak marah kok, yang penting kau dan kandunganmu baik-baik saja." tutur Bu Rahma membuat Nuri merasa tenang.


"Terima kasih bu, tapi saya tetap akan bertanggungjawab."


"Iya sayang, kau boleh menggantinya kapan saja tidak masalah."


Di tengah perbincangan Nuri dan Bu Rahma, tiba-tiba terdengar suara orang dari luar.


"Assalamualaikum Bunda." suara parau seorang laki-laki menghentikan perbincangan.


"Wa'alaikum salam nak, Bunda di dalam." sahut Bu Rahma sementara Nuri buru-buru ingin keluar lewat pintu samping.


"Nuri, kau mau kemana nak? itu anak ibu yang datang."


"Mau pulang bu, saya buru-buru." kata Nuri.


"Oh ya sudah hati-hati nak."


Begitu Nuri keluar lewat pintu samping, anak Bu Rahma masuk lewat pintu depan sehingga mereka tidak saling bertemu.


Dia menyalami serta mencium tangan ibunya dengan penuh rasa hormat.


"Bunda, tadi Nazmi lihat ada sepeda di depan rumah dan Nazmi dengar ada suara orang, siapa Bun?"


"Tadi ada tetangga, tapi saat dengar suaramu dia buru-buru pulang kayaknya dia takut sama pak dokter."


"Kenapa dia takut Bunda? memangnya Naz menyeramkan?"


"Iya dia takut sama kamu Naz, takut kamu suntik." canda Bu Rahma.


"Ah Bunda bisa saja." memeluk sang bunda dengan hangat.