Devan & Nuri

Devan & Nuri
Tidak Memaksa



Jum'at pagi, seperti biasa Nazmi mengajak Nuri mengunjungi panti asuhan. Mereka berbagi rezeki dan tak lupa juga membagi ilmu agama yang mereka punya untuk menanamkan sedari dini kepada anak-anak di sana.


Anak-anak yang tinggal di sini mempunyai beraneka ragam masalah. Ada yang ditinggal mati oleh orang tuanya tapi ada pula yang sengaja ditelantarkan oleh orang tuanya. Saat Nuri memeluk seorang anak yang bernasib sama dengan Nayla, Nuri langsung teringat pada putrinya. Setidaknya nasib putrinya sedikit beruntung karna tidak tinggal di panti asuhan, Nayla masih bisa bersekolah di tempat pilihannya sendiri, dan masih merasakan kasih sayang dari ibu dan ayah meski bukan ayah kandungnya.


Nuri kembali memikirkan tentang kesiapan dirinya untuk menerima Nazmi sebagai suami sepenuhnya. Nuri masih gelisah memikirkannya sampai dia mengabaikan ibu pemilik panti yang mengajaknya bicara.


"Nur, Bu Desi memanggilmu." seru Nazmi barulah Nuri tersadar dari lamunannya.


"Ah! Iya Bu, saya segera ke sana." sahut Nuri dengan tampang mencurigakan dan langsung mengikuti langkah kaki pemilik panti.


Setelah menunggu Nazmi melaksanakan shalat jum'at mereka memutuskan untuk pulang karna Nazmi pun harus kembali ke rumah sakit melakukan pekerjaan seperti biasa.


Sedari tadi sampai menuju pulang Nazmi merasakan ekspresi wajah Nuri seperti benang kusut. Tampak lesu dan banyak pikiran. Nazmi enggan untuk bertanya banyak hal, karna dia merasa belum pantas untuk itu.


"Kak, semalam orang tuaku menelepon."


"Itu bagus Nuri, tandanya mereka merindukanmu."


"Iya kak aku tahu, tapi mereka juga bicara serius denganku."


"Hmm. Bicara apa memangnya?"


"Mereka terus bertanya dan itu bukan hanya sekali hampir setiap malam. Kak, mereka bertanya kapan kita akan menikah."


"Oh itu sama, Bunda kakak juga terus bertanya seperti itu. Tapi kakak bingung harus mengatakan apa."


"Kak, Nuri minta maaf sampai sekarang tidak memberi kakak kejelasan sampai membuat kakak bingung seperti ini."


"Nur, aku tidak pernah bisa memaksa kehendak apalagi soal pernikahan karna Allah lah sang pemilik hati. Hanya Allah yang mampu membolak balikkan perasaan manusia. Terkadang orang yang kita benci bisa menjadi cinta, namun tak sedikit juga tadinya saling mencinta tapi harus berakhir menyedihkan hingga saling membenci. Kita sebagai hamba-Nya hanya bisa berusaha tanpa harus mengeluh." tutur Nazmi.


"Setiap kakak bicara hatiku selalu merasa sejuk. Sudah sejak lama aku memikirkan ini tapi aku ragu membaginya dengan kakak. Ternyata aku salah justru dengan membagi duka hati akan menjadi lebih tenang." hati Nuri tersentuh begitu saja ketika laki-laki itu menasehatinya.


Nazmi melebarkan senyumnya dengan sedikit menoleh wajah Nuri yang tidak seperti benang kusut lagi. Nazmi selalu mencoba memahami setiap perasaan Nuri. Dia tahu betul luka yang Nuri rasakan mungkin sangat membekas sampai membuatnya sulit melupakan masalalu. Nazmi tidak akan pernah memaksa Nuri untuk jatuh cinta padanya, menjaga Nuri dan putrinya saja Nazmi sudah merasa senang. Karna Nazmi tahu dia tidak akan bisa mengambil hati orang yang masih mencintai orang lain, Nuri masih mencintai Devan sampai detik ini meski cinta yang bercampur dengan kebencian. Entahlah pantaskah rasa seperti itu di sebut CINTA?


*****


Bu Rahma bersama Nazmi mampir ke rumah Nuri karna Bu Rahma sudah sangat merindukan Nayla, anak kecil yang sudah dia anggap sebagai cucunya.


Nayla berlari menemui neneknya lalu mencium punggung tangan ayahnya bersama sang nenek. Bu Rahma memeluk serta menciumnya. Nayla menarik tangan neneknya, membawanya ke belakang rumah menemui ibunya di sana.


"Bu Rahma." Nuri langsung bangkit dan menyalami Bu Rahma. Begitulah sopannya Nuri terhadap orang tua.


"Aduh maaf ya Bu berantakkan banyak pasir, saya dan Nayla lagi main rumah-rumah dengan pasir jadinya seperti ini." Nuri langsung mempersilakan Bu Rahma bersama Nazmi untuk duduk di kursi tapi mereka malah duduk di anak tangga teras belakang rumah mengikuti gaya Nayla.


"Uhh. Pintarnya cucu nenek, Nayla sudah minta hadiah dari ayahkan?" mencium kening Nayla sambil memeluknya gemas.


"Sudah nek, ayah mengajak Nayla ke Ancol kami bermain di sana bersama anak-anak panti nek."


"Hanya itu sayang, kamu tidak minta lebih dari ayah dan bundamu nak?"


"Ada satu lagi nek. Nayla berhasil membuat ayah tidur di rumah kemarin malam. Nayla senang banget nek saat bangun tidur melihat wajah ayah sambil dipeluk oleh ayah. Nay akan lebih bahagia jika setiap hari ayah berada di rumah."


"Benar begitu nak?"


"Iya nek, ayah dan bunda saling tatap-tatapan. Nay ingin punya adik nek biar ada yang nemenin Nayla main." kata Nayla dengan polosanya. Nuri dan Nazmi hanya mampu menelan liur susah payah hampir akan tersedak.


"Jadi kemarin kamu menginap di sini, Naz?" Bu Rahma terkejut.


"Bun, ini tidak seperti pikiran Bunda." jawab Nazmi.


"Bu Rahma, saya bisa jelaskan tidak terjadi apa-apa di antara kami. Kak Nazmi hanya menemaninya tidur dan kami sama sekali tidak berbuat maksiat." sahut Nuri menjelaskan kenyataan.


"Kenapa tidak segera menghalalkan saja hubungan kalian, Nayla juga sudah besar apa yang kalian tunggu lagi?"


"Bunda, soal menikah memanglah mudah tapi kesiapan fisik dan mental lebih utama." tutur Nazmi.


"Nuri, apa dengan kalian bertemu setiap hari itu namanya bukan maksiat? Iya memang ditemani sama Nayla tapi kamu Naz sebagai seorang ustadz harusnya mengerti akan hal itu, apa kalian tidak takut iblis tidak akan pernah berhenti menggoda manusia sampai hari akhir."


"Bunda, kami berdua tahu hal itu. Setidaknya Bunda pahami kondisi Nuri, dia hanya terlihat baik tapi hatinya masih terluka Bunda."


Nuri hanya tertunduk, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Jika memaksakan untuk menikah dengan Nazmi saat hatinya belum siap, dia takut kejadian masalalu akan menguasai dirinya hingga gagal kembali dalam berumah tangga.


"Nur, maafkan ibu sudah membentakmu. Ibu tidak akan seperti itu lagi kalian berdua berhak menentukannya."


Bu Rahma menyesal telah memarahi Nuri dan Nazmi. Dia langsung meminta maaf dan memeluk Nuri. Dia sama sekali tidak bermaksud mencampuri urusan anak-anaknya tapi dia hanya ingin melakukan yang terbaik untuk Nuri dan juga putra semata wayangnya. Bu Rahma pun membawa Nayla pergi untuk memandikannya.


"Nur, tenanglah aku tidak akan memaksamu. Jangan ambil hati kata-kata Bunda. Kamu berhak menentukan pilihan hatimu sendiri, tapi jangan pernah melarangku untuk bertemu Nayla hanya itu yang aku inginkan." ucap Nazmi menenangkan hati Nuri yang kacau.


"Terima kasih kamu sangat memahamiku, aku tidak akan melarangmu bertemu putriku." jawab Nuri tersenyum.


"Ayolah aku antar kamu ke toko kue." ajak Nazmi agar Nuri tidak terus bersedih.


"Hmm. Iya, tunggu sebentar aku ganti hijab sama ambil tas." kata Nuri sembari berlalu pergi.