
Terdengar suara azan subuh berkumandang ikut membangunkan Devan yang sejak lama tidak sadarkan diri. Devan beristighfar 3 kali mencoba mengingat kembali kejadian yang telah menimpanya tetapi dia juga terkejut melihat ruangan yang asing itu. Di mana adalah kamar anak kecil.
"Aku ada di mana? Rumah siapa ini?" ternyata Devan sama sekali tidak sadar kalau semalam Nuri telah membantunya. Devan menggerakkan kaki dan tangannya untuk turun dari tempat tidur dan berwudhu.
"Ah... Sakit sekali, bagaimana aku bisa shalat jika seperti ini. Aku tayamum aja kali ya, shalat sambil duduk." pikir Devan demikian, kurang lebih 10 menit Devan terduduk berharap rasa sakitnya akan berkurang dengan dia tidak banyak bergerak dan bisa segera menjalankan kewajiban. Dan saat dia mencoba bangkit untuk berjalan, kakinya terlalu lemah hingga membuatnya terjatuh tepat saat itu juga Nayla sudah bangun dia langsung mengecek kondisi om dokter yang selalu ada dalam ingatannya. Nayla terkejut melihat Devan tersungkur di lantai terlihat kesulitan untuk berdiri.
"Om, pasti kaki om masih sakit biar Nayla yang bantu om kembali ke tempat tidur." dengan bergegas Nayla membantunya.
Putriku, nak kamu di sini apa papa tidak salah lihat kamu di sini. Ya, ini benar-benar kamu nak. Papa senang ternyata kalian yang sudah menolong papa. Nuri, aku tahu kamu pasti tidak akan membiarkan aku terluka.
Sejenak Devan diam sambil tersenyum memandang Nayla, tetapi dia harus tetap bersikap layaknya tamu agar Nayla tidak mencurigainya. Nayla pun membantunya bangkit serta duduk di tempat tidur.
"Tapi om mau shalat nak."
"Om tunggu sebentar ya, Nayla panggil bunda. Bunda harus tahu kalau om sudah sadar."
"Iya nak."
Aku harus jaga batasanku, Nuri sekarang sudah jadi milik Nazmi tidak ada hak aku menganggap kebaikkannya sebagai rasa cinta, dia memang seperti ini pada semua orang, aku tidak boleh berpikir berlebihan.
Devan memandangi setiap sudut kamar Nayla, dan dia melihat foto Nayla bersama Nuri di atas nakas samping tempat tidur. Dia pun ingin melihatnya lebih dekat tapi Nuri tiba-tiba datang membuat Devan harus mengurungkan niatnya.
"Kamu sudah sadar, baguslah." ujar Nuri sambil berjalan mendekat, Devan menundukkan pandangannya tak berani untuk menatap Nuri.
"Boleh aku pinjam sajadah dan kopiahnya, aku mau shalat tapi aku tidak bisa ke kamar mandi." ucap Devan.
"Tidak masalah orang sakit tidak diwajibkan untuk berwudhu, bertayamum akan meringankanmu. Tunggu sebentar biar aku ambil sajadah dan kopiah dulu."
Nuri dan Nayla pun datang membawa sajadah serta kopiah lalu menyerahkannya pada Devan. Mereka lanjut keluar dari kamar karna Devan akan melaksanakan ibadah shalat subuh. Nayla mengikuti bundanya ke dapur, Nuri akan memasak lebih banyak pagi ini mengingat ada tamu di rumahnya.
Setelah 8 menit berlalu Devan sudah selesai shalat lalu melipat sajadahnya meletakkannya di atas kasur. Dia masih tak bisa keluar kamar karna kakinya benar-benar sakit terpaksa hari ini dia harus cuti dari pekerjaannya. Devan pun menelepon pihak rumah sakit meminta izin cuti sakit untuk beberapa hari dan dengan mudah dia mendapatkannya. Cukup lama Devan berdiam diri di kamar Nayla sampai akhirnya Nayla datang memanggilnya untuk mengajak sarapan bersama.
"Om dokter, bunda mengajak om untuk sarapan bersama kami." kata Nayla sambil tersenyum manis. Devan meraih wajah anak itu dan membelainya.
Pasti ada Nazmi dan aku akan melihat dia duduk mesra di samping Nuri lebih baik aku nahan lapar dari pada makan hati.
"Kenapa om diam aja, ayo sarapan om." ajak Nayla lagi sambil menggoyang-goyangkan tangan Devan memaksanya untuk ikut sarapan.
"Om tidak lapar Nak, kalian makan saja." tiba-tiba cacing perut Devan berbunyi nyaring sekali sampai terdengar oleh Nayla, Nayla yang tadinya sedikit kecewa saat Devan menolak ajakkannya seketika langsung tersenyum dan sigap menarik tangan Devan untuk diajaknya ke ruang makan.
"Jika om tidak mau makan maka bunda tidak akan memberi om makan sepanjang hari nantinya." ancam Nayla. Devan mengacak rambutnya dengan gemas dan sesekali mencubit pipinya.
"Baiklah Nak kita sarapan, tapi bantu om jalan ya kaki om masih sakit." Nayla tersenyum dan dengan sigap memegangi tangan Devan dengan senang hati Nayla merawat Devan.
Ternyata sifat Nuri yang suka mengancam juga menurun padanya, aku jadi ingat masa sekolah dulu walau dia perempuan paling menyebalkan tapi kelas akan terasa sepi saat dia tidak masuk sekolah. Nur, aku sangat merindukanmu.
Namun apa mau dikata, jarak sudah terlanjut membentang di antara mereka dan Devan hanya bisa mengenang semuanya tanpa bisa memiliki Nuri.
Devan bersama Nayla sudah memasuki ruang makan, di sana Devan tidak melihat keberadaan Nazmi melainkan hanya ada Nuri sendiri yang sedang duduk seolah menunggu mereka. Nayla pun membawa Devan duduk di depan bundanya, Devan dan Nuri saling melempar pandangan canggung satu sama lain. Nayla memilih duduk di samping Devan dan Nuri tidak bisa menghalangi itu, Nuri tidak akan melarang Devan berada di dekat putrinya.
"Silakan di makan." Nuri menyuruh Devan memakan makanan yang sudah disiapkannya ke dalam piring yang ada di depan Devan.
"Om dokter, mau Nayla suapi?" Nayla menawarkan jasanya karna dia tidak tega melihat Devan kesakitan tangannya saat mencoba memakan sesendok nasi.
"Nay!" Nuri mencoba mencegahnya. Devan juga mengerti dia tidak akan terlalu dekat sama Nayla.
"Tidak Nak, om bisa makan sendiri." tolak Devan lembut tapi matanya melirik ke arah Nuri seolah Devan takut pada Nuri.
"Bagaimana om bisa makan sampai kenyang luka di tangan om sangat besar. Kali ini saja om, bolehkan om?" pinta Nayla membujuk Devan. Tanpa memikirkan Nuri yang sedari tadi sinis menatapnya, Devan mengangguk dan Nayla senang bisa menyuapinya makan. Nuri hanya bisa memperhatikan mereka berdua tanpa bisa berkata apa-apa lagi sampai mereka selesai makan.
Tanpa aku beritahu pun Nayla sudah bisa merasakan ikatan batin dengan ayahnya, bagaimana mungkin aku bisa menghalangi kedekatan ayah dan anak yang sedang saling merindu ini. Apa ini saatnya aku minta maaf sama Devan atas sikapku kemarin.
"Nayla, sudah selesai makannya segera mandi hari ini kamu sekolah nak." tegur Nuri, Nayla mengangguk langsung turun dari kursinya.
"Om dokter, Nayla siap-siap ke sekolah dulu ya. Om dokter cepat sembuh, nanti pulang sekolah Nay bakal merawat om lagi, om jangan khawatir." tutur Nayla begitu lucu, Devan tidak tahan rasanya dia ingin mencium kening anak itu tetapi mana mungkin sedangkan Nuri masih mengawasi mereka, mau tidak mau Devan hanya bisa senyum.
"Duduklah di situ, aku mau mencuci piring sebentar." kata Nuri. Devan diam dan menurut saja.
"Bisa ambilkan segelas air?" saat Nuri tengah mencuci piring tiba-tiba Devan merasa tenggorokkannya kering. Dia pun meminta baik-baik pada Nuri tapi Nuri mengabaikannya Devan berulang kali. Devan pun usil melemparnya pakai kulit buah, Nuri terperanjat tiba-tiba ada sesuatu yang mengenai kepalanya. Devan langsung memalingkan kepalanya saat Nuri menoleh ke arahnya.
"Kamu kan yang melemparku pakai ini?" tanya Nuri sedikit jengkel.
"Amit-amit lemparin kamu, asal nuduh aja." elak Devan.
"Itu kulit buah ada di kamu, kalau bukan kamu siapa lagi, di sini hanya ada Nayla dan aku."
"Udah ketahuan masih aja ngeles, keterlaluan kamu ya enggak tahu bersyukur udah ditolongin malah bertingkah." Nuri sangat kesal melihat ekspresi Devan yang menjengkelkan.
"Kamu yang nuduh malah ngeyel, mau saya lempar beneran, enggak ikhlas banget nolongin pake diungkit segala." Devan sudah berancang-ancang mengangkat tangannya yang di selipkan kulit buah.
"Argh... Sudahlah diam aja di situ jangan banyak tingkah." pasrah Nuri.
"Situ yang mulai duluan jadi orang budek banget, 2 tahun enggak dikorek kayaknya." ejek Devan.
"Kau bilang apa? Aku budek." seketika Nuri geram mendengarnya.
"Ya iyalah dari tadi saya minta minum enggak diambilin, apa lagi namanya kalau bukan budek."
"Ngerepotin banget ya jadi orang." judes Nuri.
"Udah tahu ngerepotin makanya jangan ditolongin gampangkan, gitu aja kok repot." Dengan berjalan cepat seolah sedang marah Nuri membawakan ceret air dan gelas ke hadapan Devan.
"Ini airnya tuang sendiri. Jangan manja." perintah Nuri menekankan kata-katanya. Devan tertawa geli saat beradu pertengkaran kecil bersama Nuri, dia sedikit melongo menatap Nuri dari belakang.
Kemudian Nayla pun datang menemui mereka.
"Bunda, Nayla berangkat sekolah dulu ya." sambil mencium tangan bundanya.
"Hati-hati nak, sekolah yang benar." balas Nuri mencium pipi Nayla. Nayla pun mendekati Devan meraih tangan Devan untuk berpamitan.
"Om dokter, Nayla sekolah dulu ya. Om jangan pergi ke mana-mana sebelum Nay datang." pinta Nayla tersenyum manis.
"Iya Nak." jawab Devan seperlunya. Nayla pun berlalu, Nuri dan Devan masih berada di dapur.
"Siapa yang mengantar Nayla ke sekolah?" tanya Devan mencairkan suasana hening.
"Sama tetangga, biasanya juga diantar oleh ayahnya saat ayahnya tidak sibuk."
"Oh. Omong-omong suamimu di mana? Apa dia sudah berangkat kerja sejak dini hari, aku tidak melihatnya."
"Ayah Nayla di rumah ibunya, kenapa kau bertanya begitu?"
"Aku tidak enak aja di rumah berdua sama seorang wanita."
"Tenang saja, aku sudah memberitahu Pak RT saat membawamu menginap di sini jadi tidak akan timbul hal yang tak diinginkan."
"Oh, begitu."
"Kamu di sini hanya menginap satu malam, siang ini kamu harus pulang."
"Iya aku mengerti, jika tidak mengalami kecalakaan aku juga tidak mau berlama-lama di sini."
"Baguslah kau tahu diri. Dan mobilmu jangan khawatir sekarang sedang diperbaiki, tadi pihak bengkel langgananku bilang nanti siang sudah bisa di ambil."
"Terima kasih sudah mengurusku, pagi ini juga aku akan pulang maaf selama di sini aku merepotkanmu." kata Devan sangat menyesal sambil buru-buru menatap saku celananya mencari ponselnya.
"Kau mau telepon siapa?" tanya Nuri.
"Supirku, dia yang akan menjemputku."
"Nanti saja teleponannya, pagi ini aku akan membawamu chek-up ke rumah sakit."
"Itu tidak perlu, Nur. Apa yang kau lakukan sudah membuatku lebih baik."
"Aku tidak mau dituntut jika terjadi sesuatu padamu, karna orang-orang tahunya aku membawamu ke rumah sakit tapi karna permintaanmu aku membawamu ke mari."
"Tapi aku tidak akan menuntut apapun padamu jika sesuatu terjadi padaku." tutur Devan. Nuri mendekatinya sambil menuang air ke dalam gelas lalu meminumnya sedikit.
"Kau seorang dokter, aku pikir kau bisa membedakan luka biasa dengan serius, kau tanggungjawabku, aku tidak mau mendengar ada penolakkan darimu." kata Nuri dengan tegas, Devan hanya bisa diam. Devan sendiri merasa sudah tidak nyaman bersama Nuri di dalam rumah yang hanya tersisa mereka berdua.
Sebelum pergi ke rumah sakit, Nuri ingin mengganti perban di kepala Devan terlebih dulu. Sekarang Nuri tepat berada di belakang Devan dan Devan duduk kursi tanpa melakukan perlawanan.
"Kau tidak perlu repot-repot menggantinya, lagi pula luka ini akan sembuh dengan sendirinya." kata Devan.
"Apa semua dokter seperti dirimu? Aku rasa cuma kau yang hanya peduli pada pasienmu tapi kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri. Sebelum melindungi orang lain cobalah untuk menjaga dirimu sendiri, jika perbanmu tidak diganti maka bakteri penyebab infeksi akan merusak isi di kepalamu."
Terserah kau saja, aku memang tidak peduli. Devan tidak peduli pada dirinya sendiri meski tahu luka di tubuhnya bisa infeksi jika tidak segera dibawa ke rumah sakit tetapi dia juga tidak bisa bersama Nuri terlalu lama, atau hasratnya akan goyah jika tidak segera diimbangi dengan sikap dingin.
Entahlah bagaimana perasaan Devan sekarang, wanita yang dicinta sudah berada tepat di depan mata tetapi dia masih tidak bisa menjangkaunya. Walau berdekatan satu sama lain, mereka seolah terhalang jarak yang begitu luas, Devan hanya bisa menahan perasaannya begitu juga Nuri saat itu dia ingin Devan bicara padanya. Sesekali Nuri mencuri pandangan Devan berharap suasana kembali normal sialnya Devan dengan angkuh memalingkan wajahnya. Devan hanya diam saja tanpa melihat atau menatap mata Nuri sampai perbannya selesai diganti.