Devan & Nuri

Devan & Nuri
Karna Kecewa



Setelah memikirkan masak-masak akhirnya Devan menemukan jawaban dari cinta yang menyakitkan batinnya. Dia pun memutuskan untuk kembali berkarir di Swiss, mungkin hanya dengan cara menjauh dari hidup Nuri dia bisa membuang perasaannya yang tidak akan pernah terbalas lagi.


Aku menyadari ternyata cinta memang tidak harus saling memiliki, meskipun orang berkata cinta yang sempurna adalah ketika cinta itu terbalas, tapi tidak dengan cintaku yang tidak sempurna ini. Untuk siapa lagi aku menunggu jika aku sudah tahu jawabannya, aku tidak akan menunggu lagi karna dia yang ku tunggu ternyata bukan jodohku.


Devan sempat termangu di ruang kerjanya memilih tetap tinggal atau pergi adalah pilihan yang berat. Jika tetap bertahan maka hatinya akan terus sakit, namun pergi pun akan membuatnya selalu rindu pada sosok sang buah hati.


"Dokter Devan, Anda dipanggil sama dokter kepala." ujar seorang suster yang diperintahkan ke ruangan Devan.


"Saya segera ke sana sus." sahut Devan. Suster itu berlalu pergi, Devan sudah tahu sebentar lagi dia akan di kembalikan ke tempat sebelumnya menempuh karir semua ini atas kemauan diri sendiri.


Tetapi mengapa sekarang ketika pemindahan akan di sahkan dia merasa tidak sanggup untuk menjauh dari Nuri dan Nayla. Devan takut kepergian kali ini membuat dia jauh lebih menyesal, tapi semua yang dilihatnya dengan mata sendiri bahwa Nuri dan anaknya sudah bahagia bersama orang yang tepat itu sudah membuat Devan percaya kalau mereka sudah bahagia tanpa dirinya.


Ketika itu Keysa datang bertemu Devan di restoran. Devan tidak memintanya datang tapi dia sendiri yang selalu membuntuti Devan kemana-mana.


"Apa?" Keysa terkejut setelah mendengar keputusan Devan.


"Kau yakin mau ke Swiss hanya gara-gara wanita tidak tahu diri itu?"


"Justru aku yang tidak tahu diri, aku datang dengan tidak tahu malu lalu mengajaknya untuk sama-sama lagi." ucap Devan yang masih dipenuhi penyesalan.


"Tetap saja dia tidak tahu diuntung, di sana kau berjuang demi dia dan anaknya tapi di sini dia malah nikah sama orang lain."


"Diam kau Key! Aku tidak ingin mendengar kata-kata buruk tentang Nuri."


"Kau pulang saja jangan ganggu aku!" usir Devan dengan halus.


"Bagaimana jika kita pura-pura nikah saja?"


Keysa selalu punya cara jahat untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Kali ini siasat apa yang akan dia lakukan pada Devan?


"Menikah?" Devan terngiang sejenak.


"Iya, bagaimana?"


"Anggap saja ini bantuan dariku Dev, kau harus buktikan sama Nuri kalau kamu juga bisa bahagia tanpa dia."


"Bagaimana mungkin aku menikahimu, aku tidak mencintaimu."


"Kita hanya nikah pura-pura setelah berhasil membuat dia menyesal kita tinggal pisah saja."


"Aku perlu waktu untuk memikirkannya."


*****


Setelah aku menikah dengan Devan, aku bisa dengan mudah untuk menguasai dia dan membuat Nuri nangis darah. Kasihan kau Dev, kau pikir Nuri sudah menikah dan tidak mencintaimu tapi sebenarnya tidak seperti itu.


Ha..ha...ha...


"Aku puas sekarang kau masuk dalam genggamanku, dan aku akan menang dua kali memisahkan kalian."


"Hai Nuri, kita bertemu lagi." sapa Keysa diiringi senyum liciknya.


"Ngapain kau kemari, tokoku sudah mau tutup." ujar Nuri ketus.


"Aku mau beli kok sandwice aja yang rasa original." kata Keysa.


Sebagai penjual yang baik, Nuri tetap melayani Keysa layaknya pelanggan seperti raja meskipun Nuri sudah merasa ada niat lain yang terselubung di dalam diri Keysa.


"Ini sandwicemu, aku beri kau tidak perlu bayar." kata Nuri sembari memberikan sekotak sandwice.


"Thanks ya, tapi aku bingung kemana harus ngabisin uangku kalau bukan untuk bayar makanan murahan ini." ujar Keysa menyombongkan diri.


"Lagi pula aku tidak rugi hanya karna memberikan makanan murahan." sahut Nuri dengan berani sampai Keysa tutup mulut.


"Keluarlah, aku mau tutup toko." pinta Nuri.


"Iya aku keluar."


"Tapi sebelum itu aku mau kau tahu dulu."


"Kau ingin aku tahu apa?"


"Aku sama Devan akan segera bertunangan dan kemudian kami akan menikah." ucap Keysa. Nuri terkejut sejenak membuatnya diam, dan dadanya mulai ikut sesak.


"Nanti aku pasti undang kalian."


"Oh begitu? Aku cuma bisa ucapin selamat kalau enggak sibuk aku usahain datang, soalnya sekarang aku sudah jadi orang sibuk ya enggak kaya dulu." jawab Nuri sambil menahan sesak di dada.


"Kau jangan beritahu anakmu bahwa Devan adalah ayah kandungnya, karna aku sengaja ingin menjauhkan anakmu dari Devan, aku muak melihat Devan menderita gara-gara kau."


"Kelak Nayla juga akan tahu siapa Devan sebenarnya tanpa harus aku beritahu."


"Jadi kau jangan takut aku dan anakku akan mengganggu rumah tangga kalian." ketus Nuri sembari hendak melangkah masuk ke dalam ruangannya, tapi langkahnya terhenti seketika melihat Nayla ada di belakang mereka.


"Nayla, sudah lama di sini?" tanya Nuri lembut sambil berhati-hati Nayla jangan sampai mendengar keributan tadi.


"Hai anak manis, apa kau dengar apa yang ibumu katakan?" ucap Keysa sembari berjalan mendekati Nayla.


Nayla tercengang kemudian menatap tajam dan dalam ke wajah Nuri.


"Apa itu benar bunda?" tanya Nayla.


Nuri hanya bisa tutup mulut untuk sesaat, dia tak menyangka Nayla sudah terbangun dari tidur padahal baru saja Nuri melihat putrinya sedang tidur di ruangannya sambil menunggu toko tutup.


"Apa benar om Devan itu ayah kandung Nayla?" bertanya lagi dan Nuri tetap termenung lalu memeluk putrinya.


"Jawab Nayla, bunda!" pinta Nayla sedikit keras sambil berontak tidak mau menerima pelukkan Nuri dan itu membuat Nuri menjatuhkan air mata ketika putrinya sendiri menolak pelukkannya.