
"Sekarang kau bersihkan tubuhmu setelah itu temui aku di dapur aku akan masak makan malam." kata Nuri tersenyum sambil membantu Devan berdiri.
Devan pun mengangguk sembari berangsur keluar kamar menuju kamarnya untuk mandi.
Selang waktu 15 menit kemudian
Devan tampak membawa kotak berukuran sedang sambil perlahan berjalan menuju dapur, dihampirinya Nuri yang sedang memasak tanpa mengeluarkan suara langkah kaki.
Devan yang usil meniup leher Nuri membuat bulu kuduknya langsung merinding, wanita itu pun menoleh ke belakang namun tidak menemukan siapa-siapa karna Devan langsung berjongkok saat Nuri melihat ke belakang.
Devan terkekeh geli menahan sakit perutnya saat menjahili Nuri, dilakukannya berulang kali wajah Nuri tampak ketakutan.
"Kok tiba-tiba rumah ini jadi horror." cetus Nuri sambil mengusap lehernya yang merinding karna ulah Devan.
"Mungkin hanya angin lalu, sudahlah Nuri mana ada setan di rumah terang benderang seperti ini." pikirnya menjauhkan rasa takut.
Nuri kembali menetralkan pikiran negatifnya supaya kembali positif dan fokus saja memasak tumis kangkung. Devan merasa ekspresi wajah Nuri cukup lucu saat ketakutan.
"Ini untukmu bumil." Devan melingkarkan tangannya dari belakang tubuh Nuri bersama dengan susu formula ibu hamil yang diberikannya.
"Devan." gumam Nuri sembari memutar badan melihat Devan mengerjap-ngerjapkan matanya.
Tetapi, Nuri hanya melihatnya sekilas karna buru-buru mengangkat tumis kangkung ke dalam piring untuk menghidangkannya di meja makan. Devan mengikutinya dari belakang ke mana Nuri melangkah Devan selalu ikut padahal Nuri hanya mengambil piring dan sendok.
"Kau belum menjawab." ujar Devan.
"Aku harus menjawab apa Dev?" tanya Nuri sembari meletakkan piring di meja makan.
"Kau suka atau tidak dengan susunya? kenapa kau tidak mengambil pemberianku?" tanya Devan heran takut Nuri tidak menyukai sikapnya yang baru saja berusaha bersikap manis.
"Baiklah aku ambil, terima kasih." kata Nuri cuek. Devan cemberut dan tidak mau diajak makan.
"Mengapa kau menekuk bibirmu seperti itu? Ayo makan malam." Nuri bertanya sembari mengajak makan.
Devan beranjak duduk tetapi tetap saja diam tanpa bersuara sedikit pun.
"Kau mau orek tempenya?" tanya Nuri yang ingin mengambilkan Devan makanan tapi suaminya itu tetap diam seperti orang tuli membuat Nuri heran.
Aku bekerja seharian demi dia dan anaknya tapi dia sama sekali tidak tulus menerima pemberianku, apa dia tidak tahu caranya berterimakasih?
Devan berpendapat dalam hati sampai Nuri selesai makan suaminya itu tetap termenung tanpa bergerak dan tanpa suara sama sekali tidak menyentuh makanan di depannya.
"Ayo dimakan Dev, nanti keburu dingin enggak enak." tegur Nuri.
Laki-laki itu menolak semaunya, sepertinya Nuri harus membujuknya kali ini. Nuri pun bangkit dari posisi duduknya lalu mendekati Devan.
Sebenarnya Devan tahu Nuri tidak melakukan kesalahan apa pun, hanya saja Devan merasa ingin Nuri merayu dan membujuknya.
"Kau tidak salah, aku yang salah karna mendiamkanmu berulang kali." tutur Devan.
"Baiklah sekarang jangan diam lagi, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" ujar Nuri, Devan mengangguk dan mempersilakannya.
"Dari mana kau mendapatkan uang untuk membeli susu? pasti harga susu itu tidak murah."
Apakah aku harus jujur kalau aku bekerja di toko fotocopy dan susu itu aku beli dari hasil uang menjual perhiasan. Tidak, dia tidak boleh tahu akan hal itu, nanti dia malah curiga ada apa-apa di balik perhatian yang kuberikan.
"Aku bekerja." kata Devan.
"Sungguh kau bekerja, kau kerja apa Dev? Ayo beritahu aku." Nuri sangat gembira mendengar Devan mulai bekerja.
"Kau ini serba ingin tahu, memangnya apa-apa aku harus memberitahumu begitu?"
"Aku kan hanya ingin tahu kau kerja apa? siapa tahu aku boleh main ke sana membawakanmu makanan agar kau tambah semangat." tutur Nuri dengan nada kecewa.
"Sudahlah kau nikmati saja hasilnya, tidak perlu tahu apa pekerjaanku yang jelas aku bekerja untuk diriku sendiri, aku hanya kasihan padamu makanya aku belikan kamu susu itu."
Nuri pun hanya bisa diam, kegembiraan itu berlalu begitu saja dari wajahnya.
"Apa kata-kataku menyakiti hatimu?" Devan tahu apa yang baru saja dikatakannya akan membuat Nuri sedih tapi Devan terpaksa bersikap dingin. Nuri menggeleng seolah dia baik-baik saja namun Devan semakin mengerti setiap Nuri berkata baik pasti dia sedang menahan rasa perih.
"Aku akan buatkan susu untukmu." kata Devan.
"Kau makan saja dulu, aku bisa membuatnya sendiri."
Devan tetap dengan pemikirannya membuatkan Nuri susu. Nuri meminum susu itu tanpa ragu, tetapi di sisi lain Nuri bingung akan sikap suaminya yang aneh.
"Apa yang harus ku katakan selain berterima kasih." kata Nuri.
"Kau bisa saja memeluk atau menciumku." racau Devan saat tidak sadar apa yang telah dikatakannya, tetapi begitu Nuri memelototkan bola matanya Devan langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
Keduanya pun tampak canggung tanpa berani melirik satu sama lain.
Sembari menunggu Devan sampai selesai makan, Devan bisa merasa senang saat sang istri menemani dirinya. Devan semakin takut berada jauh dari Nuri.
"Apa malam ini kau mau tidur denganku lagi?" mendengar seruan Devan, Nuri mendadak tersipu malu.
"Kenapa pipimu merah?" Devan merasa geli melihat pipi istrinya merona tidak karuan.
Nuri semakin tersipu sampai dia tidak mampu berkutik. Saat Devan ingin menjangkau tubunya Nuri malah berlari dari sana, Devan yang melihat Nuri berlari karna tersipu juga ikut semangat mengejar ke mana istrinya berlari.