
Di rumah
"Van, kamu serius jadi mau pindah ke Amerika mendekatkan diri dengan kakakmu di sana? Lalu S3 mu di Swiss gimana?" tanya mama menghampiri Devan sedang membaca buku di ruang perpustakaan pribadi miliknya.
"Serius ko ma setelah papa keluar dari rumah sakit." jawab Devan
"Papamu kan hanya kecapean ga perlu ada yang dikhawatirkan tadi siang dokter sudah membolehkan pulang tapi kamu menahannya, sebenarnya kenapa sih Van ?"
"Iseng aja sih ma biar papa ga gila kerja terus kalau dia di rumah sakit kan jadi bisa banyak beristirahat."
"Hm kamu ya Van ga pernah berubah senang sekali isengin papamu mana udah tua juga."
"Begitu lah ma sama orangtua kalau papa ga bisa dibilangin ya mau gimana Devan ga ada pilihan lain."
"Devan kan mau ninggalin mama kalau papa ga sering di rumah kasihan mama sendirian terus, bisnis bisa di wakilkan tapi kebersamaan dengan mama apakah bisa diwakilkan juga, engga kan ma."
Mama merubah posisi dan duduk di samping Devan
"Van, Nayla dan kamu gimana hubungannya?"
"Gadis kecil itu tidak bisa jauh dari Devan, ma. Ketika paman Aryo ngusir Devan di rumah sakit rasanya Devan mau ikutan nangis lihat anak Devan satu-satunya menangisi Devan pergi. Devan ga ada kuasa ma mau melawan paman."
"Sejak kamu ninggalin Nuri hubungan keluarga kita dengan kak Aryo memang tidak sebaik saat kakakmu menikah dengan Nana. Papamu sebenarnya tertekan atas perlakuan Aryo karna melarang kami untuk bertemu cucunya, Nayla.
"Semua salah Devan, ma. Mama sama papa juga ikut menanggung kemarahan paman."
"Jangan terus menyalahkan diri sendiri Van, mereka hanya tidak bisa memahami perasaanmu saat itu, tanggungjawab seorang suami apa lagi sudah memiliki anak itu besar jadi mama bisa mengerti yang kamu rasakan saat itu, Van."
"Sudahlah ma apalagi yang bisa Devan perjuangkan Nuri akan menikah dengan dokter Nazmi, Devan ga mau dianggap perebut calon istri orang."
"Mama sangat sedih setelah ini benar-benar tidak bisa bertemu Nayla, kamu yang sabar ya Van. Mama selalu dukung setiap keputusanmu, tetapi mama sangat berharap kamu dan Nuri bisa bersama lagi karna kalian sekarang sudah dewasa bukan remaja lagi."
ditengah perbincangan mama dan devan ponsel devan tiba-tiba berdering.
Apakah aku mengganggumu?
Tidak sama sekali Nur, tapi ada apa meneleponku?
Van, Nayla masuk rumah sakit dari pagi tadi.
Ya Tuhan kenapa baru beritahu sekarang, lalu dokter bilang apa tentang Nayla?
Na-Naylaaa... Nayla keritis Van cepat kemari
Aku segera ke sana
Devan mengakhiri panggilan telepon.
"Nayla kritis di rumah sakit ma, Devan harus segera ke sana."
"Van, mama ikut mama juga cemas mendengarnya."
"Iya ma."
Devan dengan mamanya pun langsung meluncur ke rumah sakit tempat Nayla di rawat. Nayla sudah di operasi tetapi belum membuahkan hasil yang signifikan dan sedang ditangani kembali oleh dokter di ruang UGD.
"Mengapa bisa seperti ini Nur, katakan Nayla kenapa?"
"Ini salah kami nak Devan yang tidak becus menjaga Nayla." ucap Aliya lirih, ibu Nuri.
"Nayla jatuh dari tangga sehingga otaknya mengalami pendarahan hebat." sahut Aryo dan tertunduk menyesal sambil menangis.
"Ya Allah, kenapa kalian semua tidak memberitahuku lebih awal hingga kondisinya separah ini kalian baru memberitahuku." mengusap wajahnya gusar
Dokter keluar dari ugd dengan raut wajah sulit dijelaskan.
Nuri dan Devan bersamaan menghampiri dokter.
"Kecil kemungkinan harapan pasien bisa bertahan hidup pendarahan tidak bisa berhenti dan semakin menyebar."
"Dokter Devan, pasien harus di operasi lagi tapi kami tidak berani mengambil langkah operasi sebesar ini hanya dokter harapan satu-satunya."
Devan sebenarnya takut, ini juga pertama kali baginya melakukan double operasi pada pasien yang baru saja selesai di operasi terlalu besar risikonya.
"Van, aku yakin kamu bisa. Ku mohon lakukan demi Nayla." Nuri mengangkat punggung tangan Devan dan meletakkan di sebelah ruas pipinya dengan tatapan berkaca-kaca.
Dokter Nazmi juga memberi dukungan pada Devan untuk melakukan operasi menyelamatkan nyawa Nayla.
"Devan, aku yakin kamu pasti bisa menolong Nayla. Kamu harus bersedia karna aku akan melepaskan Nuri dan Nayla untuk kamu jaga apabila operasimu sukses."
"Baiklah akan aku lakukan demi putriku, dokter Anjas siapkan stok darah kita akan segera melakukan tindakan operasi lagi."
"Rumah sakit kehabisan stok darah golongan O- dok itu sangat langkah."
"Darah saya o- sebelum operasi ambil darah saya dulu." kata Devab
"Saya juga o- " ucap mama Devan
"Tetapi dokter itu sangat berisiko dokter bisa saja pusing dan kurang konsentrasi, akan fatal akibatnya jika melakukan transfusi darah."
"Tidak ada waktu lagi." tegas Devan