Devan & Nuri

Devan & Nuri
Menjaga Batasan



Tengah malam Nayla terbangun dari tidurnya. Dia merangkak turun dari tempat tidur lalu mengampil iphone ibunya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidur mereka.


"Nay kangen sama ayah." ucap Nayla setelah dapat mengambil iphone dia melangkah keluar dan duduk di ruang tamu.


"Kenapa ayah tidak mengangkat telepon Bunda? Coba sekali lagi ah."


Nayla agak kecewa saat ayahnya mengabaikan telepon darinya dan mencoba lagi menghubungi sang ayah. Sampai akhirnya Nazmi menjawab telepon dari Nuri yang ternyata bukan Nuri melainkan Nayla.


Nur, aku baru selesai melakukan operasi darurat maaf tadi aku mengabaikan teleponmu. Omong-omong kenapa kamu menelepon tengah malam, apa terjadi sesuatu di rumah? kata Nazmi sembari bertanya.


"Ini bukan Bunda Yah, tapi putri ayah." tutur Nayla sontak membuat Nazmi agak terkejut.


Sayang, kamu belum tidur ya? mana bundamu nak?


"Bunda tidur Yah. Nay tidak bisa tidur dengan nyenyak."


Kenapa sayang, cerita sama ayah.


"Kangen sama ayah. Nay pengin tidur sama ayah dan bunda. Ayah semua teman Nay tidur bersama ayah dan ibunya, tapi Nay merasa tidak pernah merasakannya."


Sayang, ayah masih...


"Ayah pulang ke rumah ya malam ini. Ayah tidak sibuk lagi kan?"


Nazmi diam sejenak dia merasa bingung saat Nayla terus mendesak dan memaksanya pulang. Bagaimana dia akan membuat Nayla mengerti? Tapi dia juga sedang tidak sibuk tidak ada alasan lain untuk menolak keinginan Nayla. Namun, di sisi lain ada batasan yang harus tetap dia jaga.


"Ayah kenapa diam? Nay sedih jika ayah menolak."


Ayah pulang sekarang ya nak, tunggu ayah dan bangunkan Bundamu beritahu dia kalau ayah akan datang.


"Yeee. Baik ayah, Nay bangunkan bunda sekarang. I love ayah."


I love you too peri kecil.


Sontak Nayla meloncat girang karna ayahnya akan pulang. Nayla masuk ke kamar dan menggelut tubuh ibunya sampai membuat Nuri terbangun karna ulah putrinya. Nuri seperti shock saat tahu Nazmi mau datang, entah apa yang membuat dirinya tiba-tiba panik.


Tak lama kemudian Nazmi sampai di rumah Nuri. Dia mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Nayla melarang ibunya untuk membuka pintu karna dia sendiri yang akan menyambut ke datangan ayahnya. Betapa riang gembiranya anak itu, dia benar-benar merindukan sosok seorang ayah. Dia melompat dan masuk ke dalam dekapan Nazmi yang sudah siap melebarkan tangannya membuat Nayla naik ke punggungnya.


"Ayo ayah temui Bunda di kamar, Bunda sudah bangun."


"Ayah boleh masuk nak?"


Nuri mendengar perbincangan Nayla dengan Nazmi, dia buru-buru keluar memasang hijabnya lalu menemui mereka.


"Kak Nazmi..."


"Nur." Nazmi tersenyum ragu sembari menurunkan Nayla dari punggungnya.


"Kak, aku buatkan kopi dulu." Nuri seolah menghindar dari Nazmi begitu pun Nazmi jika bukan karna permintaan putri kecil dia masih tidak nyaman berdekatan dengan Nuri, apalagi di saat malam seperti ini.


Lalu Nuri menyusul mereka di dalam kamar dan memberikan segelas kopi pada Nazmi. Kemudian Nuri berpindah duduk di sofa kamar sementara Nayla bersama Nazmi duduk di ranjang. Nuri menatap kedua orang itu, air matanya tak terasa jatuh begitu saja. Melihat Nayla tertawa dan menangis terhanyut dalam suasana saat Nazmi membacakan sebuah dogeng, lalu tertidur di dalam dekapan Nazmi membuat Nuri sedih. Nazmi melihat ke arah Nuri, dia tahu kesedihan apa yang sedang Nuri rasakan.


"Nur, kamu pasti sedang membayangkan masalalumu ada di sini menemani Nayla." tutur Nazmi menyadarkan Nuri dari kebungkamannya.


"Tidak kak, aku hanya terharu bagaimana Nayla bahagia bersama kakak. Dia kehilang sosok seorang ayah sejak dari kandungan tapi saat dia terlahir ada kakak yang mau menerimanya sebagai anak. Kakak menjaga dan membantuku membesarkannya sehingga dia bisa merasakan cinta dan kasih sayang dari kedua orang tuanya." jelas Nuri.


"Walau dia bukan putriku tapi aku sangat menyayanginya Nur. Aku mencintainya dengan segenap jiwa apapun yang diinginkannya jika aku mampu maka aku akan mewujudkannya." sembari memindahkan Nayla berbaring di tempat tidur lalu memakaikannya selimut dan mencium keningnya.


Nuri terhenyak tak mampu bicara lagi. Dia hanya menatap Nazmi yang hendak beranjak dari kamar. Sambil berpikir Nuri memikirkan pertimbangan yang sudah lama ditahannya, tentang siapkah dirinya menerima Nazmi untuk menjadi suami sekaligus ayah sepenuhnya. Namun hati Nuri selalu berkata belum siap dan entah kapan akan siap, Nuri tidak dapat memastikannya.


"Kakak mau kemana?" mencegat Nazmi keluar.


"Aku mau pulang Nur, lagipula Nayla sudah tidur. Besok pagi aku akan kemari menemui Nayla." jawab Nazmi.


"Tidurlah di sini kak temani Nayla, dia sangat membutuhkanmu setiap hari dan setiap waktu dia hanya mengeja namamu sambil terus bertanya kapan ayah akan tinggal di sini. Dia pasti senang saat bangun langsung melihat kamu kak."


"Emm. Tapi Nur, lalu kamu bagaimana?"


"Aku akan tidur di kamar lain."


"Nuri, aku tidak bisa ini namanya kita melanggar peraturan."


"Kak tolong wujudkan impian Nayla satu malam saja, aku pastikan kita tidur terpisah kita tidak akan melanggar peraturan yang sudah ada."


"Baiklah Nur, aku akan menginap di sini untuk Nayla. Kamu masuklah ke kamarmu dan segera tidur. Aku juga akan tidur."


Sekarang Nuri bisa tenang memastikan putrinya sudah bisa tidur dengan nyenyak dan dia pun masuk ke kamar yang berbeda untuk menjaga jarak dari Nazmi. Nuri naik ke atas tidur sambil membaringkan tubuhnya di sana dan berusaha menutup matanya. Tetapi, Nuri agak gelisah begitu ingatannya terganggu oleh bayangan Devan, orang yang berusaha dia singkirkan dari hatinya.


Andai Bunda bisa mengatakan padamu nak. Tapi ayahmu membuat Bunda tidak bisa mengatakannya. Ayahmu yang begitu kejam tidak pernah mengharapkan kehadiranmu, Bunda tidak bisa mengatakannya sekarang nak. Maafkan Bunda, Bunda tidak ingin membuatmu bersedih bagi Bunda kamu masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya. Bunda akan melakukan apapun itu asalkan Bunda bisa membahagiakanmu tapi tidak dengan ayahmu.