Devan & Nuri

Devan & Nuri
Saling Memaafkan



Devan tak jera-jeranya pergi menemui Nuri. Meski terus menerima penolakkan namun tidak ada yang bisa menghentikan keseriusannya dalam melunakkan hati Nuri kembali. Devan hanya tahu, setiap penolakkan akan berakhir keberhasilan. Seperti hidupnya yang sudah begitu banyak mengalami kegagalan. Tapi saat dia telah berhasil dalam menggapai satu tujuan, dia tidak akan berhenti untuk mendapatkan tujuan lainnya. Cita-cita Devan menjadi tentara bukan menjadi tenaga medis, tetapi dia tidak akan pernah mau memberitahu Nuri mengenai tujuannya menjadi dokter karna itu hanya akan terlihat menyombongkan diri. Devan bukan orang yang seperti itu.


Devan dengan santainya masuk ke dalam toko bakery milik Nuri. Kalung stetoskop dan jarum suntik yang di bawanya membuat para pelanggan Nuri ketakutan sampai minder. Entahlah untuk apa dia membawa alat seperti itu ke toko kue, apa dia akan memeriksa serta menyuntik kue sebelum dia memakannya? Haha biarkan saja dia seperti itu, wajahnya yang rupawan sudah cukup mengurangi rasa takut orang-orang, sesungguhnya dia tidaklah ingin menyuntik siapapun.


"Hei nona, di mana boss kalian? Katakan suaminya datang." katanya tegas. Devan memanggil seorang pelayan. Gaya Devan yang sok kecakepan membuat para pelayan dan pelanggan Nuri tak mampu bergeming.


Bukannya Nona Nuri sudah pisah ya sama suaminya? Siapa dia main ngaku-ngaku, Nona harus tahu masalah ini.


"Cepat panggil! Jangan melihatku seperti itu, mau aku suntik?" Devan memelototkan mata dan mengacungkan alat suntik ke arah pelayan yang terheran-heran saat Devan mengaku suami dari boss mereka.


Dia pun bergegas memberitahu bossnya.


"Nona, di depan ada dokter sakit jiwa yang mengaku sebagai suami Nona. Mengerikkan Nona." imbuhnya.


Dokter sakit jiwa? Suamiku? Siapa lagi yang datang sih.


Nuri mengomel dalam hati.


Setelah itu Nuri pun keluar dari ruangan menemui dokter sakit jiwa itu. Dia sudah menduga pasti Devan satu-satunya orang yang senang mengganggunya.


"Masih berani rupanya kau datang kemari?" kata Nuri berdiri santai tepat di depan Devan. Devan langsung berdiri dan menarik kursi.


"Bu Nuri, mari bu silakan duduk." ujar Devan sembari menarik tangan Nuri tanpa permisi, Nuri tercekat agak kaget dengan tampang malas duduk di hadapan Devan.


"Umm. Mau pesan apa Bu Nuri, gratis untukmu." kata Devan seolah toko ini miliknya. Nuri jengkel sambil melototkan mata ke arah Devan tetapi dengan menyebalkannya Devan malah tak henti tersenyum.


"Ih. Cantik deh saat galak Bu." celetuk Devan, Nuri mendengus kesal menghebuskan nafas dengan kasar.


"Pelayan, kemarilah." Pelayan mendekat ketika Devan memanggilnya.


"Istri saya biasanya suka makan kue apa? Eh jika bukan kue roti saja tapi roti apa?" tanya Devan semakin membuat Nuri kesal, seenaknya saja memanggilnya istri di depan orang banyak.


Para pelayan saling pandang dan menggunjing, mereka pikir entah dari mana dokter yang mereka sebut dokter sakit jiwa ini berasal.


"Nur, kau suka apa?" Devan bertanya.


"Kasih, ambilkan saya air putih hangat saja." kata Nuri memberitahu pelayannya.


Tetapi dengan jengkelnya Devan menjawab,


"Ambilkan saja semua yang ada."


"Nona..." cengir pelayannya mengunjing Nuri.


"Ambilkan saja, walau sakit jiwa dia punya banyak duit kita porotin saja uangnya yang sudah tidak tahu akan dia kemana kan itu." bisik Nuri.


Pelayannya tersenyum, mereka pun ke belakang mengambilkan semua kue yang Devan pesan. Devan terkejut melihat beraneka ragam kue dan biskuit disuguhkan untuk dirinya sebanyak itu.


"Banyak sekali?" tanyanya heran.


"Itu semua pesananmu." sahut Nuri.


"Bu Nuri, Anda tidak ingin memesan sesuatu?"


"Tidak saya sudah kenyang." ketus Nuri.


Lagi pula untuk apa Nuri memesan kue yang dibuat oleh resepnya sendiri dan dari tokonya. Devan hanya mengada-ngada sengaja untuk mengganggu Nuri.


Untuk apa kue sebanyak ini mana mungkin aku menghabiskannya. pikir Devan gelisah.


"Bukan urusan saya." Nuri malah menjawab.


"Siapa yang bicara denganmu?" ujar Devan. Nuri menggelengkan kepala dan diam.


Kemudian Devan terdiam sembari mengambil pisau bedah dari dalam tas peralatannya. Nuri yang melihatnya mengerutkan dahi karna merasa keheranan.


"Apa kau tidak waras?" Nuri mencelanya.


"Apa?" Devan pura-pura tidak mendengar.


"Kau memang tidak waras." pekik Nuri. Mendengar suara keras Nuri, pelanggannya seketika menatap mereka dengan heran.


"Namaku Devan Steven. Presiden Indonesia adalah Ir. Joko Widodo. Ibu Kotanya Jakarta. Indonesia terdapat 34 Provinsi. Saya rasa itu cukup untuk membuktikan saya masih waras." imbuh Devan.


"Pintar sekali." Nuri tersenyum malas merasa jengkel.


"Hah! Orang waras tidak akan memotong kue menggunakan pisah bedah dan memakannya. Orang aneh pun tidak akan melakukannya." sangkal Nuri.


"Kenapa emangnya? Kau mau mencobanya? Tenang aku punya banyak pisah seperti ini." dengan sedikit bercanda sambil mengambilkan pisau yang lain. Nuri menepiskan bibir kecutnya yang mendesis habisnya dia sangat jengkel.


"Apa kau tidak punya pekerjaan lain di tempatmu bekerja? Setiap hari datang menggangguku, aku tidak suka." Nuri cemberut.


"Jika ponselku tidak berdering tandanya aku free." kata Devan sambil tersenyum manis memperlihatkan iphonenya.


"Sok sibuk sekali." ketus Nuri.


"Aku masih ada waktu, mau tidak kita jalan sebentar? Ada yang ingin ku bicarakan." ujar Devan.


"Bicara saja di sini." Nuri sebenarnya tidak senang pergi ke luar.


"Hah. Di sini?"


"Ya, kenapa?"


"Tidak harus di sini juga, pelangganmu sangat banyak. Pegawaimu juga terus memata-mataiku, mereka pikir aku penjahat kali ya."


"Tentu saja mereka berpikir demikian benda yang kau bawa sangat tidak lazim, tidak sesuai tempat." tegur Nuri.


"Baiklah aku penjahat." pasrah Devan.


"Akhirnya sadar diri."


"Mau ya! Bentar saja." kata Devan lagi sembari memohon walau Nuri selalu ketus padanya.


Nuri diam, Devan langsung saja menganggapnya sebagai tanda persetujuan. Nuri menekan tangannya ke kursi sembari menahan rasa kesal terhadap Devan. Mereka pun pergi ke lokasi korban bencana alam dengan mobil masing-masing, ya karna Nuri tidak ingin naik mobil berdua dengan Devan. Mana sudi berbaur dalam satu ruangan sempit dengan mantan suaminya.


Nuri terheran-heran pikiran Devan mudah sekali berubah mendadak pergi mengunjungi pengungsi bukannya mengajak bicara. Nuri ikuti saja kemana langkah kaki Devan akan berhenti. Devan menyeru semua pengungsi lalu membagikan makanan yang di belinya dari toko Nuri tadi. Semua kebagian sama rata, Devan sudah membaginya dengan adil agar mereka tidak berebutan. Pengungsi sangatlah menyukai dokter Devan, mengapa? Karna dari sekian banyak dokter yang berkunjung, hanya dia yang mau berbaur mendekati para pengungsi tanpa ada rasa jijik juga mau berbagi barang dan bahan yang mereka perlukan, ya memang semua dokter tidak boleh jijik tetapi di mata mereka Devan lebih istimewa walau kadang menyebalkan. Setiap pagi dan sore Devan selalu mengunjungi mereka, bukan untuk mencari pujian tetapi Devan tulus memperhatikan kondisi serta kesehatan mereka tanpa terkecuali.


Nuri mendadak termenung menyaksikan Devan bergaul dengan anak-anak pengungsi yang tentunya agak dekil dan bau, maklum daerah pengungsian juga terkena dampak kemarau jadi tidak tersedia banyak air. Nuri tak percaya, apakah itu Devan yang sama? Devan yang manja dan selalu jijik dengan segala hal yang kotor tapi sekarang malah bersahabat dengan keadaan seperti itu.


Apakah dia benar-benar banyak berubah? Atau dia hanya sengaja mencari perhatianku?


Tetapi Nuri merasa bangga dengan apa yang telah Devan raih. Devan menarik tangannya lalu Nuri ikut bermain bersama anak-anak tersebut. Usai sudah mereka bercanda gurau. Devan dan Nuri berpamitan untuk segera pulang. Devan mempersilakan Nuri berjalan di depan menuju mobil mereka terpakir, karna dia tahu cara menjaga wanita sekarang.


Sesampai di dekat mobil, Devan mencegah Nuri untuk masuk. Devan pun mengajak Nuri duduk sebentar di kursi yang ada di dekat mobil mereka terparkir. Devan tengah menyiapkan keberaniannya, Nuri memandang ke atas langit melihat burung-burung berterbangan. Devan juga melakukan hal yang sama, mereka tetap menjaga jarak duduknya sambil sesekali curi-curi pandang.


Hmm...mmm


tanpa diduga mereka berbarengan saat akan memulai pembicaraan sehingga keduanya jadi malu-malu.


"Kau mulai duluan!" Kata Nuri canggung.


"Kau saja!" balas Devan juga canggung.


"Aku mau pulang." jawab Nuri malas.


"Um. Tunggu sebentar aku mau bicara." kata Devan. Nuri mengangguk sembari kembali duduk.


"Nur, aku cuma mau minta maaf telah meninggalkan kamu. Apakah kamu mau memaafkan aku?" ucap Devan lirih.


"Kenapa kamu tega Van meninggalkan kami, hah? Apa kamu pikir kami tidak menderita? Kami menderita selama bertahun-tahun Van." jawab Nuri sambil menahan air matanya.


"Nur, ada hal besar yang ingin aku raih saat itu. Aku tidak berdaya saat pergi meninggalkanmu tapi jika aku tidak pergi aku tidak akan bisa meraih kesempatan berharga itu. Aku bersyukur pada Tuhan karna masih diberi umur panjang dan bisa melihatmu untuk kedua kalinya. Aku mohon maafkan aku, Nur jangan buat aku larut dalam penyesalan." lirih Devan sembari memohon melalui tatapan matanya.


"Apa yang ingin kamu raih tapi kamu menyiksaku, Dev. Aku tersiksa seharusnya kamu tidak perlu kembali."


"Nur, aku hanya ingin membahagiakan kamu dan anak kita. Dulu aku bukan siapa-siapa bahkan untuk memberimu sesuap nasi pun aku tidak mampu. Aku terpukul, aku malu Nur dengan keadaan seperti itu, aku merasa tidak pantas untuk menjadi suamimu. Beri aku satu kesempatan lagi dan maafkan aku, Nuri." Devan berlutut di hadapan Nuri yang sedang duduk di kursi.


Seharusnya Devan tidak perlu berkorban karna Nuri tulus mencintai saat itu. Tetapi, Devan lebih memilih jalannya sendiri untuk membuat Nuri bahagia di masa depan.


Seketika Nuri menahan emosinya. Dia ingin Devan kembali lalu meminta maaf dan sekarang Devan sudah mengatakannya, tetapi dia tetap tidak akan semudah itu untuk menerima Devan kembali.


"Sebelum kau meminta maaf aku telah memaafkanmu. Tetapi maaf, aku tidak bisa menerimamu kembali." jawab Nuri sembari berjalan ke arah mobilnya.


"Nur, kau serius sudah memaafkanku?" Devan meneriakinya.


Nuri mengangguk sambil tersenyum lalu segera memasuki mobilnya dengan rasa canggung. Devan juga tersenyum lalu mengikuti mobil Nuri dari belakang. Kata maaf sudah lebih dari cukup baginya, mungkin suatu saat Nuri juga akan mengizinkannya bertemu Nayla.