
Pagi hari Nuri tengah berbenah seorang diri menata kue ke dalam box untuk disedekahkan kepada orang-orang kurang mampu dan anak jalanan. Nuri selalu sedih setiap kali melihat anak-anak yang hidup di tepi jalan, kekurangan makan, tidak ada rumah, tidak bisa merasakan betapa menyenangkannya sekolah. Selalu Nuri syukuri putrinya bisa hidup dengan layak meski tanpa seorang ayah yang menafkahi dan Nuri sendiri yang menjadi kepala keluarga tapi Nayla hidupnya selalu tercukupi. Nuri ingin memberi contoh yang baik pada putrinya agar kelak Nayla selalu menjadi orang yang rendah hati dan dermawan.
"Bunda rindu sekali sama kamu, sayang." lirih Nuri disela-sela kesibukkannya.
"Kapan kamu bisa memaafkan bunda dan kembali ke rumah ini? Bunda harap kamu segera pulang, bunda janji tidak akan melarangmu bertemu papa asalkan kamu bisa sama-sama bunda terus."
Tok... tok... tok
Suara ketukkan pintu mengagetkan Nuri.
"Sepertinya ada tamu?" tebak Nuri seketika menghentikan pekerjaannya bergegas membuka pintu.
"Sayang" wajah sendu itu langsung berseri setelah membukakan pintu mendapati tamu yang datang.
Nayla ikut berlari langsung memeluk bundanya dengan erat.
"Akhirnya kamu pulang juga sayang, bunda rindu sekali sama kamu." sambil memeluk Nayla kemudian mencium-cium wajah imutnya.
"Maafkan Nayla, bunda. Nayla janji tidak akan marah lagi sama bunda. Nayla takut masuk neraka, kata ayah Nazmi surga ada ditelapak kaki bunda." ucap Nayla dengan ekspresi menggemaskan, Nuri bahkan tidak akan mampu menaruh amarah untuk anak selugu Nayla.
"Bunda sayang bengat sama kamu. Kak Nazmi terima kasih sudah membuat Nayla mengerti dan mau kembali ke rumah." tutur Nuri. Nazmi hanya tersenyum, setiap melihat Nuri dan Nayla bahagia disitu juga letak kebahagiaannya.
Mereka pun masuk ke dalam karna Nuri harus melanjutkan rekapan kue-kue yang akan disedekahkan.
"Nayla mandi dulu sana nanti telat sekolahnya." kata Nuri memapah Nayla ke kamar mandi. Nazmi berdiri di depan meja tempat Nuri merekap kue sembari menunggu. Kemudian Nuri segera kembali merekap.
"Kak Nazmi sama Nayla sudah sarapan belum? Nuri enggak masak soalnya cuma pesan gofood." tanyanya.
"Sudah kok Nur, kamu mau apakan kue sebanyak ini? Apa ada yang bisa aku bantu?" jawab Nazmi sembari menawarkan bantuan.
"Kalau gitu kakak bantu kamu ya, biar kerjaannya cepat beres?"
"Kakak kan harus kerja juga dan Nuri udah ngajak beberapa karyawan sih untuk turun."
"Oo baguslah kakak pikir kamu pergi sendirian."
Beberapa menit kemudian, Nayla sudah memasang seragam sekolahnya sambil menggendong tas punggung berjalan menghampiri bunda dan ayah Nazmi. Wajahnya mendadak sembrautan, bagai bunga yang gagal mekar.
"Anak ayah kenapa?" Nazmi langsung berjongkok di depan Nayla sambil mengelus kepalanya. Nuri ikut menatapnya bingung.
"Ayah, bunda besok harus datang ya!" pinta Nayla sambil menatap serius mereka berdua. Besok Nayla ada perlombaan Hafis Qur'an di sekolahnya dan dia hanya mengingatkan orangtuanya untuk hadir sebagai pendukungnya, karna semua orangtua teman-temannya selalu sempat datang untuk menghadiri acara anak-anak mereka.
"Ayah pasti datang nak." jawab Nazmi langsung. Nayla melirik wajah bundanya karna belum memberi jawaban.
"Bunda juga pasti datang sayang." sembari mengelus pipi Nayla. Nayla senang mendengarnya, tapi tiba-tiba dia sedih lagi.
"Kenapa masih cemberut sayang? Ayo kita berangkat, bunda yang mengantarmu hari ini." Nayla menarik baju Nuri yang membuat Nuri seketika berhenti melangkah.
"Bunda, kapan akan membawa Nayla bertemu ayah Nayla?" tanyanya dengan tatapan sendu dan penuh harapan. Nuri mengusap pipi Nayla dengan lembut sambil menatap matanya.
"Nayla ingin Om Dokter bisa mendengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang Nayla akan bawakan di atas pentas nanti, Om Dokter pasti bangga melihat Nayla, ajak Om Dokter juga ya bunda!"
"Bunda tidak tahu apakah papa bisa meluangkan waktunya, karna papa seorang dokter banyak pasien yang harus dia rawat 24 jam di rumah sakit."
"Kenapa tidak bisa bunda? Ayah Nazmi aja punya waktu buat Nayla, bunda harus mengajak Om Dokter juga." rayu Nayla yang mulai bete.
"Iya secepatnya bunda akan membawa Nayla bertemu papa yang sangat Nayla rindu. Bunda tidak mau lagi menyembunyikan apapun dari kamu sayang, karna kamu satu-satunya harta berharga yang bunda miliki, bunda tidak mau kehilangan kamu lagi." tutur Nuri, seketika Nayla sontak memeluknya haru.