Devan & Nuri

Devan & Nuri
Pendapat Nayla



Aryo, Aliya, Rahma, tak lterkecuali Nazmi juga merasakan ketegangan saat menunggu jawab dari Nuri yang sedari tadi hanya diam penuh keraguan.


"Nur serahkan semuanya sama Kak Nazmi, tidak ada pilihan lain bagi Nur selain keputusan dari kakak." jawab Nuri setelahnya semua menghebuskan nafas lega karna mereka tau Nazmi pasti mengatakan ya.


Nazmi meraih tangan bundanya, kemudian ia ciumi punggung tangan sang bunda seakan ia menyesalkan sesuatu, "Maafkan Naz, bun. Naz minta maaf pada semua bahwa Naz menolak pernikahan ini."


Lalu Nazmi berbalik menghadap serta menatap bola mata Nuri, "Nur, kamu sudah tau segalanya tentang perasaan saya ke kamu. Tetapi saya pun tidak mau kita menikah atas ke egoisan saya, bagi saya yang paling utama adalah menjaga perasaan kamu tetap bahagia."


Ucapan yang Nazmi lontarkan jelas telah memukul perasaan orang-orang di sekitarnya terkecuali Nuri.


Di kamar Nayla


"Papa, papa kenapa ga datang ke sekolah Nay, papa pasti sibuk dengan pekerjaannya kan sebagai seorang dokter, tapi Nay pengen papa ketemu sama bunda lagi pasti papa kangen kan sama kita." ucap Nayla lirih sambil duduk di meja belajarnya, entah apa yang ia tulis dalam lembaran buku hanya ia yang tau isinya.


"Nay telepon papa ga ya?" Handphone Nuri ternyata ada dalam genggaman Nayla hingga ia kepikiran menghubungi Devan.


Akhirnya Nayla memutuskan untuk mengirim pesan pada Devan hanya ingin tau apa yang papanya lakukan sehingga tidak sempat datang ke sekolah.


Via Whatsapp📲


Pah, sedang apa? Papah udah makan belum? Nay dapat juara 1 lho Pah. Papah jangan lupa makan sama shalat ya meski Papah sedang banyak kerjaan. Shalat itu tiang agama Pah, jangan sampai kekokohannya roboh hanya karna Papah terlalu sibuk.


Nay sayang Papah


Nay merindukan pelukkan Papah


I love you, Papah


Pesan dari Nayla langsung Devan baca. Ia tersenyum sangat perhatian dan sayang Nayla padanya.


"Selamat ya nak, kamu memang anak shalehah papa. Bersabarlah nak, papa pasti akan menemuimu." lirih Devan tanpa ia sadar ada air mata yang mualai berkucuran membasahi wajahnya. Begitu sadar Devan langsung menghapus air mata jauh-jauh, ia pun bergegas membersihkan diri karna baru saja selesai melakukan operasi, setelah bersih dari noda ia bergegas menuju mushola rumah sakit.


"Dokter Devan, makan siang dulu yuk." ajak dokter lainnya.


"Kalau gitu kita semua ke mushola aja, selesai shalat baru makan siang." ucap dokter lain yang seagama. Devan senang teman-temannya kini mau bergabung ke mushola dan mereka pun sama-sama melaksanakan shalat ashar berjamaah.


*****


Nuri datang ke kamar Nayla. Dilihatnya putri kecilnya sudah selesai belajar, langsung ia peluk dengan erat putrinya.


"Bunda udah shalat isya belum?" tanya Nayla.


"Udah sayang, anak bunda udah shalat belum?"


"Udah dong bun."


"Bagus sayang. Ekhem, sayang bunda boleh ga minta pendapat dari kamu?" Nuri telah membuat keputusan ia akan menanyai Nayla terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menyetujui pernikahannya dengan Nazmi.


"Pendapat apa, bun?"


"Bagaimana kalau bunda nikah beneran sama papa Nazmi, kamu setuju sayang?"


"Sebenarnya Nayla pengen bunda sama-sama lagi sama papa Devan biar keluarga kita lengkap, tapi papa Nazmi juga baik Nayla ga bisa melarang bunda buat nikah sama siapa, semua pilihan ada dalam hati bunda."


"Papa Nazmi adalah papa terbaik bun, kalau bukan karnanya ga mungkin Nayla bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Tetapi papa kandung Nayla juga dokter yang hebat dia disenangi oleh semua pasiennya, dia yang ngobatin luka di lutut Nay, banyak nyelamatin nyawa orang. Bunda sendiri dapat menilai siapa yang pantas jadi pendamping bunda di dunia maupun akhirat." begitu kata Nayla sehingga membuat Nuri bertambah rumit untuk memilih antara Nazmi atau kah Devan?


*


*


*


Bersambung