Devan & Nuri

Devan & Nuri
Melewati Masa Kritis



*


*


*


Devan menatap kasihan wajah putrinya ketika dokter sedang mengambil darahnya. Anak sekecil Nayla harus merasakan sakit yang luar biasa. Devan bertekat ia harus mampu mengoperasi Nayla dengan sempurna tanpa kesalahan sedikit pun, ia tidak pernah sanggup jika melihat putrinya harus meninggal di ruang operasi yang di kepalai olehnya.


Setelah darah Devan di ambil, ia dan dokter Anjas juga perawat yang lain segera melakukan tindakan operasi darurat. Semua menunggu dengan perasaan harap-harap cemas. Beberapa jam telah berlalu masih di ruang operasi, perawat mengelap keringat Devan yang bercucuran, tangan Devan gemetar hebat, tegang dan hampir tidak percaya diri sempat membuat Devan menghentikan jalannya operasi. Dokter Anjas merasa takut operasi akan gagal. Akhirnya setelah 6 jam di meja operasi membuahkan hasil, operasi berjalan lancar dan Nayla sudah melewati masa kritisnya lalu dipindahkan ke kamar rawat.


Nayla tersenyum menatap Devan dan Nuri yang kini berdiri di sisi kanannya. Sementara para nenek dan kakek berada di belakang. Nazmi duduk di sofa yang ada di sudut kamar sambil menguatkan hatinya saat melihat Nuri dan Devan bersama.


"Papa jangan tinggalin Nay sama bunda lagi. Nayla tidak perlu siapa-siapa tapi Nay perlu papa dan bunda." ucap Nayla berlinang air mata


Nayla meraih tangan kanan Devan dan Nuri lalu menyatukannya. "Pah, Bun, jangan bertengkar lagi ya! Nayla cuma mau lihat papa dan bunda akur dan sama-sama." pinta anak kecil manis itu. Sedang sakit pun ia tetap terlihat imut dan menggemaskan sehingga sesiapapun tidak sanggup menyakiti perasaannya.


Devan dan Nuri hanya saling memandang, satu pun tak ada sepatah kata yang mampu keluar dari bibir mereka. Devan takut menatap mata mantan ayah mertuanya yang selalu sinis setiap melihat dirinya.


Kemudian Nayla meminta Nazmi untuk mendekat. Nazmi mencium kening gadis kecil itu dengan kasih sayang penuh, sedari masih dalam kandungan ia sudah menganggap Nayla sebagai anaknya.


"Kamu mau apa sayang, katakan ayah akan menurutinya." begitulah yang bisa Nazmi lakukan demi bisa melihat Nayla bahagia


"Ayah, Nayla sekarang sudah mengerti bahwa ayah bukan suami bunda, bukan ayah kandung Nayla tapi Nayla sangat sayang sama ayah, dari kecil ayah sudah bersama Nayla dan bunda. Ini pertama kali Nayla meminta sesuatu dari ayah, bersedia kah ayah menyerahkan bunda untuk papa Devan. Selama ini ayah mengajari Nayla, kita tidak boleh merebut hak orang lain apa itu juga berlaku untuk bunda, yah? Bunda dan papa Devan saling sayang, yah." jelas Nayla. Nazmi menunduk sayu terasa berat memang menyerahkan orang yang dicinta, tetapi di lain sisi Nazmi sudah lama sadar bahwa Nuri tidak pernah ada rasa apapun padanya, Nuri hanya menganggap dirinya sebagai saudara tidak lebih dari itu.


"Ayah sudah kabulkan permintaanmu, sayang. Papa Devan dan bundamu tidak ada yang bisa menghalangi mereka untuk bersama." ucap Nazmi berbesar hati.


"Nazmi, kamu jangan menyerah gitu aja nak." sahut pak Aryo, ayah Nuri merasa keberatan dengan Nazmi


"Saya tidak pernah menyerah paman, saya mengalah bukan berarti kalah. Nayla telah membuka hati saya, kita tidak boleh mengambil apa yang seharusnya menjadi hak oranglain. Nuri dan Devan saling cinta, apa pantas memisahkan mereka, jika paman keberatan dengan keputusan ini silakan paman cari laki-laki lain tetapi saya tidak mau terlibat perjodohan ini lagi." jawab Nazmi, Aryo tidak bisa menjawab.


*


*


*


"Aku ga bisa terima keputusanmu. Dia calon istrimu sebentar lagi akan menikah, bukan kamu yang mengambil hak oranglain tapi aku yang pantas disebut begitu." kata Devan. Devan dan Nazmi saling bertemu di kantin rumah sakit.


"Andai pun aku menikah dengan Nuri sedangkan dia tidak pernah mencintaiku tidak akan ada kebahagiaan dalam rumahtanggaku nanti. Devan, aku juga tidak mau hanya mencintai, aku juga ingin dicintai seperti kamu yang dicintai oleh Nuri dan kamu mencintainya, hubungan kalian seharusnya sudah lengkap sekarang." jelas Nazmi


"Cinta itu bisa tumbuh karna selalu bersama, kamu belum mencobanya mengapa sudah berkata seperti itu." sahut Devan


"Apa kamu sendiri rela lihat aku nikah sama Nuri, apa kamu tidak memikirkan perasaan Nayla yang mengharapkan kalian bisa menjadi keluarga yang utuh."


"Mau ku juga begitu, tapi paman Aryo sangat membenciku."


Tiba-tiba suara Nuri terdengar menggelegar memasuki ruangan itu,


"Kamu bisa pergi ke sana tapi jangan meninggalkan aku dan Nayla. Kak Nana dan kak Hessel menghubungiku dan mengatakan bahwa kamu memesan tiga tiket, itu artinya dua tiket lainnya untukku dan Nayla."


Nuri begitu percaya diri,


"Aku tidak pernah memesan tiket untuk kalian, Nur. Kamu dan Nazmi segera menikah menjauhlah dariku." Devan masih menyangkal


"Kenapa masih naif di depan kak Nazmi sih Van, katakan saja kalau kamu masih ingin memperbaiki semuanya, kamu tidak rela aku menikah dengan kak Nazmi, apa kamu masih takut sama ayah? Kamu harus berani Van di hadapan ayahku."


"Jujur saja Devan jangan pernah merasa takut aku tidak pernah merencanakan pernikahan dengan Nuri, orangtua kami lah yang ingin kami menikah." tutur Nazmi tapi Devan diam saja.


"Apa perlu aku yang memulai agar kamu punya keberanian, baiklah aku yang akan mulai duluan." kata Nuri. Nuri merendahkan egonya untuk kali ini untuk meyakinkan Devan.


"Berhenti di situ Nur tidak ada yang perlu kamu lakukan." setelah Nuri berhenti, Devan menggenggam tangan Nuri lalu membawanya ke ruang Nayla di rawat. Di sana masih berkumpul para orangtua termasuk mama dan papa Devan.


Devan membuat semua orang mencuri perhatian.


"Aku minta perhatian kalian semua, jangan ada yang tidak fokus hari ini tolong dengarkan aku!" ucapnya tegas dan berani


"Paman Aryo, Bibi Aliya kali ini aku sangat serius sama putri kalian. Kalian yang ada di sini menjadi saksi semua yang aku ucapkan, Paman bisakah izinkan aku untuk menikahi Nuri sekali lagi!" kata Devan dan tidak melepaskan genggaman tangan Nuri.


"Memangnya kamu bisa menjamin tidak akan mengecewakan putri saya lagi hah?" tanya Aryo tegas sambil memelototkan matanya. Devan terkesiap mendadak ia ragu dengan hatinya.


"Aku tidak bisa membuktikan hanya dengan sebuah kalimat paman. Akan tetapi perlahan-lahan paman sendiri dapat melihat langsung seperti apa aku memperlakukan putri paman setiap harinya. Aku dan Nuri sejak dulu memang sudah saling mencintai, kami hanya terlalu naif untuk jujur." tutur Devan


"Kamu memang dari dulu keras kepala Van." kata Aryo sambil tersenyum simpul


Nuri bisa melihat ada harapan dari sorot mata ayahnya,


"Ayah, apakah iti artinya ayah akan memaafkan Devan dan merestui kami?" tanya Nuri senang


"Aku... Aku akan menetapkan tanggal pernikahannya." jawab Aryo dengan suara lantang seketika membuat yang lain bisa bernafas dengan normal.


*


*


*


The End