
Bu Rahma panik saat mendapati Nuri tidak berada di kamarnya. Dia langsung pergi menemui Nazmi yang masih tidur di sofa ruang tamu. Bu Rahma benar-benar mengkhawatir Nuri seperti kehilangan putrinya sendiri.
"Nazmi, apa kau tidak melihat Nuri? Dia menghilang." kata Bu Rahma.
"Bunda sudah periksa kopernya, tidak mungkin dia pergi."
"Lalu di mana dia Naz, aduh Bunda takut dia kenapa-kenapa."
"Ayo kita cari Bunda, jika dia tidak ada berarti dia sudah pulang ke rumah orang tuanya."
Nazmi membantu ibunya mencari keberadaan Nuri yang menghilang pagi-pagi buta. Untunglah apartemen mewah Nazmi tidak begitu besar, hanya terdapat sedikit ruangan. Mereka langsung saja meriksa dapur, dan Bu Rahma bisa bernafas dengan lega saat melihat Nuri berdiri di sana.
"Kamu tidak perlu melakukan semua ini, kamu kan baru sembuh Nur." kata Bu Rahma sembari mendekati Nuri sedang memasak.
"Tidak apa-apa Bu, saya hanya ingin berterima kasih lewat apa yang saja kerjakan karna kalian sudah memberi saya pengobatan gratis dan mengizinkan saya menginap di sini. Rasanya kurang nyaman jika saya hanya berbaring di kamar orang."
"Tapi kan kamu masih lemah Nur."
"Pak Dokter, saya tidak apa-apakan masak sarapan untuk kalian."
"Emm. Bunda jangan khawatir, dia sudah lebih baik tidak akan terjadi sesuatu pada kesehatannya."
"Ibu dengarkan apa kata Pak Dokter?"
"Iya saya mendengarnya tapi saya tidak mempercayainya jika kamu tidak mengizinkan saya membantumu."
"Pak Dokter bolehkah ibu bapak membantu saya?"
Nazmi mengangguk dan senang melihat mereka sangat akrab. Mungkin jika dia sudah menemukan pasangan yang tepat ibunya akan memperlakukan istrinya dengan sangat baik seperti yang diberikan kepada Nuri.
"Nuri, nanti yang mengantarmu pulang biar Pak Dokter saja ya." ucap Bu Rahma. Mereka sudah selesai sarapan. Nuri merasa tidak enak di antar pulang oleh orang asing, begitu pula dengan Nazmi dia tak terbiasa mengantar seorang wanita apalagi Nuri istri orang.
"Bunda, saya kan harus ke rumah sakit nanti biar saya carikan taksi saja untuknya." ujar Nazmi.
"Benar kata Pak Dokter, saya pulang naik taksi saja Bu."
"Nak, kamu yang menemukannya berarti kamu bertanggungjawab memastikan keselamatannya."
"Bu Rahma tidak perlu berlebihan seperti itu saya tidak mau merepotkan siapa pun."
"Dia hanya akan mengantarkanmu, ibu cuma ingin kamu selamat sampai di rumah. Nak, setelah ini kamu antar Nuri pulang setelah mengantarnya beritahu Bunda." tutur Bu Rahma.
"Baiklah Bunda, sebelum ke rumah sakit saya akan mengantarnya lebih dulu." Nazmi pun setuju dan Nuri ikut mengangguk.
Di dalam perjalanan
"Kalau boleh saya bertanya Pak?" tanya Nuri.
"Iya silakan."
"Emm. Siapa nama Pak Dokter? sedari semalam saya hanya memanggil bapak dengan sebutan pak dokter."
"Saya Nazmi Faiz."
"Pak Nazmi...?"
"Kamu boleh memanggil saya apa saja asal jangan Pak, saya rasa itu terlalu formal."
"Iya boleh silakan kamu panggil saya kak Nazmi."
"Omong-omong ke mana kita akan pergi? kamu belum memberitahu saya alamat rumahmu."
"Oh maaf kak, saya hampir lupa luruskan saja jalannya nanti saya akan beritahu letak rumah saya."
Kediaman keluarga Betrand
Devan sudah mengemaskan semua barang-barangnya ke dalam koper. Dia keluar dari kamar sambil menyeret kopernya menghampiri kedua orang tuanya. Sepertinya Devan akan pergi jauh meninggalkan Kota Jakarta terlihat dari penampilannya mengenakan jaket tebal berbulu dengan syal di lehernya.
Ada duka di hatinya yang tetap dia sembunyikan dari orang-orang. Langkahnya teramat berat meninggalkan tanah kelahirannya, bayangan Nuri selalu terlintas di pikirannya. Namun, dia tetap harus pergi karna ada hal besar yang ingin diwujudkannya tidak di sini tapi di negara Eropa sana.
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu, Dev? Ayolah pikirkan lagi jangan gegabah." tanya ibu dengan nada sedih.
"Ma, aku sudah mempertimbangkannya semalaman dan sepertinya ini jawaban dari sujudku di seperempat malam aku harus pergi." kata Devan.
"Pa, cegah anakmu pergi! Kita bisa bicarakan baik-baik dengan keluarga Kak Aryo, kasihan Nuri Pa. Kenapa Papa tidak mencegah Devan?" Mama tidak rela anaknya pergi.
"Sudah Ma biarkan saja dia mengambil keputusannya sendiri. Devan, Papa hanya berpesan padamu belajar yang benar di sana jangan kecewakan kami lagi. Papa selalu mendoakanmu semoga kamu menjadi orang sukses." ucap Betrand.
"Ih Papa, tapi mama tidak ingin Devan pergi kenapa tidak sekolah saja di sini jangan keluar negeri, cucu kita dari Nuri akan lahir sebentar lagi Pa."
"Ma, cobalah mengerti apa yang Devan rasakan. Mungkin kita sulit memahami perasaan remaja sepertinya, tapi tidak ada salahnya kita menuruti kata hatinya selama itu demi kebaikannya juga."
"Aaa Devan, kenapa hatimu sekeras batu nak? Mama bingung sekarang."
Devan meraih wajah ibunya sembari mengelap air mata di pelupuk mata sang ibu.
"Mama, janganlah mama bersedih sekarang Devan hanya butuh doa dan semangat dari kalian berdua. Biarkan Devan pergi Ma."
"Umm. Baiklah Mama akan membiarkanmu pergi."
"Sampaikan salamku pada Pak Aryo dan Bu Aliya." ucap Devan.
"Iya nak. Sini peluk mama dulu."
"Janji ya ma, mama jangan menangis melihat Devan pergi." Devan membalas pelukkan ibunya.
"Hmm. Mama akan melihat bayanganmu bersama anakmu nanti."
"Ma, saat Nuri melahirkan beri anaknya nama. Jika bayinya laki-laki beri dia nama Daren Aditama tapi jika bayinya perempuan beri dia nama Nayla Sandrina."
"Mama tahu sebenarnya kamu peduli pada Nuri, tapi kenapa kamu meninggalkannya mama tidak habis pikir dengan jalan pikirmu."
"Sudahlah Ma tidak perlu dibahas, Pa Ma jangan beritahu Nuri jika nama itu aku yang memberikannya."
Bu Sarah memeluk erat putra bungsunya. Perpisahan dengan seorang anak memang terasa menyedihkan tapi tidak ada yang dapat mencegah keputusan yang sudah Devan buat. Devan masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan untuk ayah dan ibunya, dia tersenyum seolah tidak ada beban lagi di hatinya.
Aku minta maaf meninggalkan kamu di saat sedang hamil, maafkan aku tidak bisa mendampingimu saat kamu mempertaruhkan nyawa melahirkan anak kita. Aku pastikan aku akan kembali menemui Nuri, tunggu aku sampai aku menjadi laki-laki yang kamu inginkan.
Teramat dalam kesedihan yang Devan rasakan, kini dia hanya dapat memeluk erat selembar foto yang dibawanya. Foto Nuri akan menjadi semangat hidupnya, dengan setiap hari melihat foto itu dia akan selalu merasa mempunyai tujuan hidup kembali. Pesawat yang ditumpanginya perlahan mulai meninggalkan lapangan, sampai akhirnya pesawat itu mengambang tinggi ke atas langit hingga tak terlihat tertutup remang-remang yang gelap.
Sejauh apapun aku pergi aku tidak akan bisa lepas dari kenanganmu karna itu telah menyatu di dalam bayang-bayang kerinduan. Aku pergi dengan tujuan yang tak bisa ku jelaskan pada siapa pun, biarkan aku merindukanmu walau pun ini terasa amat menyakitkan hati. Aku harap kau tidak akan menganggapku orang yang egois dengan semua yang telah terjadi di antara kita.